Peta Kekuatan Umat Islam di Negara-Negara Konflik: Afrika Utara (Bag.5)

Afrika Utara

Yang kami maksud di sini adalah negara Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, Mali, Nigeria, dan Burkina Faso yang juga dikenal sebagai pantai Afrika. Negara-negara inilah tempat terjadinya konflik. Libya adalah pusat dari konflik di negara-negara tersebut, karena ketersediaan senjatanya dalam jumlah besar dan kemudahan transit menuju ke atau dari negara tersebut, yang dapat menjadi batu loncatan singkat ke Eropa. Sehingga membuat kondisi di negara tersebut dapat mempengaruhi negara-negara tetangganya maupun negara Eropa.

Revolusi Tunisia berakhir dengan pembagian kekuasaan antara rezim lama dan partai Kebangkitan (Islami namanya, sekuler bentuk dan kontennya), beserta beberapa partai yang berorientasi sosialis lainnya.

Pergerakan Anshar al-Syari’ah berakhir dengan perginya sebagian besar anggotanya ke Irak dan Suriah, sedangkan anggota mereka yang masih tersisa di pegunungan masih menjadi buronan. Mereka membentuk Brigade Uqbah bin Nafi’ yang bergabung dengan organisasi Al Qaeda di Maghrib Islam (AQIM).

Revolusi Libya berakhir di sebagian besar-besar kotanya, dan hanya menyisakan kota Derna. Sedangkan para revolusioner terpecah, ada yang bergabung dengan salah satu pihak yang berkuasa, dan sisanya membubarkan diri. Tidak ada entitas atau perkumpulan yang mengumpulkan mereka saat ini.

Kelompok pemerintah Sarraj yang didukung oleh barat dan PBB memerangi kelompok Khalifah Hafter yang menisbatkan dirinya sebagai komandan militer Libya, yang sudah berakhri melalui koalisi dengan Tobruk dan Aqila Saleh. Mesir, Uni Emirat Arab, dan Rusia mendukung kelompok ini.

Kekuatan internasional sedang melakukan upaya untuk menyatukan pihak-pihak yang terlibat dalam revolusi di bawah satu payung, sehingga pemerintah pusat Libya dapat dibangun lagi, untuk memastikan keamanan perbatasan, perdagangan senjata, dan migrasi ke Eropa. Tetapi solusi ini belum terlihat berhasil.

Aljazair dan Maroko tidak menunjukkan respon terhadap revolusi Arab Spring, kecuali terdapatnya pemberontakan di pedesaan kecil di Maroko baru-baru ini, yang tidak menghasilkan sesuatu pun. Adapun Mali, maka wilayah Azwad telah memerdekakan diri setelah terjadinya revolusi Arab Spring. Wilayah tersebut meneruskan keberlangsungannya selama dua tahun sebelum kampanye Perancis bekerja sama dengan pasukan Afrika dan dukungan dari AS untuk merebut kembali wilayah tersebut.

AQIM lebih aktif di wilayah ini, di mana ia diikuti oleh banyak kelompok, terutama setelah kehancuran revolusi Tunisia dan pembubaran revolusi Libya. Saat ini ada perkumpulan yang mengumpulkan mayoritas kelompok jihad di negara-negara tersebut di bawah bendera Jama’at Nusratul Islam wal Muslimin (JNIM).

JNIM berfokus terutama pada penargetan pasukan Perancis dan barat, terutama di Mali. JNIM telah melakukan berbagai operasi terhadap target tersebut di Nigeria, Aljazair, dan Burkina Faso.

Karakterisitik konflik di wilayah ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Meluasnya konflik dan tersebarnya upaya sistem internasional.
  2. Terakumulasinya pengalaman individu dan para kader.
  3. Kelompok ini bisa menjadi bahaya jika ia mengeksploitasi suatu kondisi yang cocok di negara ini, dan memfokuskan upaya mereka untuk bekerja di sana.

Tampaknya tidak ada perubahan yang akan terjadi di wilayah ini dalam waktu dekat, berdasarkan pada data saat ini. kecuali dalam kasus pemberontakan besar di negara-negara besar seperti Mesir, Aljazair, dan Maroko. Atau ada perubahan pada tingkat aliansi regional Teluk-Mesir, atau pada kekuatan internasional.

 

Sumber: Tipyan

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *