Peta Kekuatan Umat Islam di Negara-Negara Konflik: Irak-Suriah (Bag.4)

Irak

Setelah invasi AS dan jatuhnya rezim Ba’ats milik Saddam Hussein, AS mengambil alih kekuasaan di Irak dan beraliansi dengan Syi’ah Irak. Mereka membentuk pemerintahan boneka di bawah pengawasan AS. Setelah pemberontakan Irak (yang bertepatan dengan Arab Spring) terjadi, AS mengontrol sebagian besar provinsi Irak dan menguasai sekitar Baghdad. AS kemudian meningkatkan hubungan kerja samanya dengan Iran di sebagian besar wilayah Irak. Hubungan mereka adalah kerjasama dan kepentingan bersama, di mana hal tersebut akan menjadi pengaruh terbesar keberadaan AS di Irak. Beberapa alasannya adalah:

  1. AS telah menggulingkan rezim Irak dan menghancurkan militernya.
  2. AS memiliki hubungan kuat dengan komponen politik Irak; seperti Kurdi, dan Syi’ah Irak.
  3. AS mengawasi aktivitas pemerintah pusat Irak di Baghdad, dan mengawasi militernya secara signifikan.
  4. AS masih mempertahankan sekitar 9,000 pasukannya dan beberapa pangkalan militernya bersama dengan pasukan NATO dari negara lain.

Kekuatan Yang Aktif di Irak:

Kurdi: Mereka memiliki otonomi independent di wilayah Kurdistan di Irak, dan memiliki hubungan baik dengan Turki, dan Iran. Kurdi juga memiliki Pasukan Militer (Peshmerga; campuran kekuatan partai Kurdi Barzani dan Talabani), pasukan penjaga perbatasan, pasukan kepolisian, dan pasukan militer (non-Peshmerga).

Syi’ah: Dapat dibagi menjadi tiga orientasi politik:

  1. Syi’ah pemerintahan yang bekerja di bawah pemerintahan dan militer; seperti Abadi, Maliki, dan para pengikutnya. Mereka tunduk pada pengaruh Amerika yang lebih besar dari kekuasaan mereka.
  2. Syi’ah Irak seperti Muqtada al-Sadr dan Ammar al-Hakim beserta para pengikut mereka. Mereka bertujuan membangun orientasi politik bagi diri mereka sendiri, dan bekerja sama dengan Amerika, Iran, dan seluruh partai. Mereka enggan tunduk kepada Iran secara penuh, karena rasisme yang dianut Iran. Iran mengutamakan elemen Persia, sehingga menjadikan Syi’ah Arab dan non-Persia hanya sebagai pengikut saja. Inilah yang menjadi masalah utama dari kelompok kedua ini, meskipun secara ideologi mereka tidak bertentangan.
  3. Syi’ah yang secara langsung dipengaruhi oleh Iran, seperti banyak dari milisi Irak, yang baru-baru ini berkumpul di bawah Partai Rakyat yang dipimpin oleh Hadi al-Amiri.

Perbedaan politik antara komponen-komponen Syi’ah bukan berarti mereka bertentangan secara ideologi. Terutama dengan Iran karena Iran adalah negara Syi’ah dan merupakan induk dari sistem kepemimpinan Wilayatul Faqih. Tetapi perbedaan ini akan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang posisi-posisi dan kekuatan-kekuatan strategis terhadap kepentingan mereka.

Komponen Sunni sisanya tidak memiliki kekuatan yang nyata, baik militer maupun politik. Kecuali faksi perlawanan Irak yang berperang melawan semua Syi’ah tersebut di bawah klaim ‘teroris’. Banyak dari komponen Sunni yang bekerja sama dengan pemerintah atau faksi-faksi Syi’ah untuk mendapatkan remah-remah makanan atau mencegah agar mereka tidak ditindas.

Masa Depan Yang Diprediksi

AS dan kekuatan politik Irak masih berusaha membangun institusi negara dan sistem politik di Irak, tetapi situasinya masih rapuh dan penuh kekacauan. Kecuali wilayah Kurdistan yang bahkan setelah mereka diusir dari wilayah-wilayah kekuasaan mereka dan kerugian besar yang mereka alami (dari personel maupun peralatan), mereka masih memiliki jalan panjang untuk membangun kembali lembaga-lembaga kenegaraan yang solid, seperti polisi dan tentara. Mereka juga memiliki sistem politik yang nyata dan dapat menyelesaikan masalah antara berbagai komponen Syi’ah Irak. Kurdistan bahkan dapat menyalakan konflik dengan pemerintah pusat Irak.

Oleh karena itu, situasi seperti ini diperkirakan akan tetap rapuh dalam waktu dekat. Dan dengan marjinalisasi kaum Sunni dan meningkatnya penindasan terhadap mereka, tidak mengesampingkan kemungkinan terjadinya pemberontakan lain, dan kekuatan kelompok-kelompok perlawanan yang semakin kuat.

Suriah

Peta Kekuatan yang terlibat:

Amerika: Amerika dan Perancis terdapat di seluruh wilayah timur sungai Eufrat hingga perbatasan Irak. Mereka juga terdapat di beberapa daerah pedesaan Aleppo, seperti Manbij. Milisi-milisi Suriah yang demokratis juga tunduk dan patuh kepada mereka. Milisi Kurdi di Suriah juga tunduk dan patuh kepada AS. Kurdi terdapat di wilayah selatan, di sepanjang Jordania.

Rusia: Terletak di pangkalan Hameimim di Lattakia dan Tartous.

Turki: terletak di daerah Afrin, Idlib. Turki juga terdapat di bagaian pedesaan Aleppo utara dan beroperasi di bawah faksi-faksi Suriah dengan nama Tentara Pembebasan (Jaisyul Hurr).

Iran: Diwakili oleh Pasukan Pengawas Revolusi, Hezbollah, dan milisi-milisi Afghanistan, Pakistan, dan Irak. Mereka terdapat di wilayah Aleppo, Hama, Homs, Damaskus, dan Qunaithirah. Total pasukan mereka berjumlah 70-90 ribu pasukan. Mereka merupakan pasukan asing pertama yang masuk ke Suriah.

Pasukan Assad: Sisa-sisa pasukan Assad yang dihancurkan sebanyak 75% – 90%, baik berupa personel maupun peralatan. Mereka hanya menyisikan beberapa sektor seperti; Garda Republik, divisi keempat, milisi Suhail al-Hasan (milisi an-Namer), dan milisi pertahanan nasional. Mereka tersebar di seluruh provinsi Suriah, kecuali Idlib, pedesaan di Aleppo Barat, sebagian wilayah Dar’aa, dan wilayah-wilayah yang terdapat Amerika dan Turki di dalamnya.

Situasi Saat Ini

Setelah 7 tahun revolusi Suriah, seluruh kejadian-kejadian membuat kekuatan revolusi Suriah berpusat di daerah Idlib, pedesaan Aleppo Barat, dan provinsi Dar’aa. Hal-hal tersebut juga membuat rezim keluar dari tempat-tempat utama dan berpusat di wilayah gurun di Deir al-Zour dan gurun Suriah. Visi kekuatan internasional sekarang terlihat (sebelumnya bercampur dan tidak jelas), mereka bergerak melakukan likuidasi revolusi di utara Suriah dengan cara membantu Turki menguasai Idlib. mereka juga melakukan kerjasama antara Israel-Yordania di Selatan. Sedangkan wilayah-wilayah sisanya tetap seperti sebelumnya. Mereka kemudian membangun sebuah format politik sebagai solusi di Suriah, baik itu dengan cara mempertahankan Bashar Assad atau mengusirnya. Mereka juga menerapkan hukum undang-undang di wilayah timur sungai Eufrat, Suriah Utara, dan Dar’aa. Apakah mereka akan tunduk pada hukum yang jauh dari pemerintahan Suriah? Ataukah mereka akan tetap bertahan di bawah mandat AS dan Turki?

Visi kekuatan internasional ini menghadapi banyak tantangan, di antaranya:

  1. Bagaimana mereka melikuidasi revolusi di Idlib dengan banyaknya faksi-faksi yang ada, seperti HTS, Hurras al-Din, dan lainnya yang akan menolak mandat Turki atau menyerah.
  2. Kehadiran Iran di Suriah, dan bagaimana cara menghadapinya maupun mengakhirinya, karena,
  3. Keinginan Amerika-Israel untuk membatasi pengaruh Iran di wilayah teluk secara umum, dan Suriah secara khusus.
  4. Keinginan Rusia untuk memonopoli rezim Assad dan keinginan mereka untuk tidak melibatkan Iran dalam menetapkan keputusan Suriah.
  5. Keinginan Israel untuk menjauhkan Iran dari perbatasan Suriah, dan memutuskan hubungan darat antara Iran dan Lebanon, terutama setelah ancaman revolusi Suriah dan pengepungan di utara terletak jauh dari Israel.

Dengan demikian, wilayah Suriah adalah wilayah yang kompleks dan penuh dengan komplikasi regional maupun internasional, bukan komplikasi lokal. Semua ini menyulitkan semua pihak untuk memprediksi jalannya peristiwa dan memahami wilayah Suriah. Harap meninjau kembali dua skenario perang Israel di Suriah dan kinerja militer Rusiah di Suriah.

 

Sumber: Tipyan

Tags:,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *