Peta Kekuatan Umat Islam di Negara-Negara Konflik: Palestina (Bag.3)

Palestina

Palestina sendiri telah melalui beberapa fase. Berikut adalah beberapa fase yang muncul setelah fase perang pada tahun 1948, ditetapkannya pembagian Palestina, serta pengakuan entitas zionis; Kemudian muncullah Fatah pada pertengahan tahun 1960-an, operasi-operasinya yang gemilang pada perang Karamah dan perang-perang setelahnya, setelah sebelumnya mereka kalah dalam perang di bulan Juni. Kemudian muncullah pawai PLO pada tahun 1960-an ke Yordania dan Black September, kemudian Lebanon dan tiga peperangan. Kemudian Tunisia dan perang kamp yang berakhir di ibukota Oslo, dan berakhirnya fase kekuasaan PLO secara realita dalam revolusi Palestina, yang bertepatan dengan kemunculan Hamas, jihad, dan intifadhah di Palestina.

Adapun sekarang adalah fase Gaza dan pengepungannya.

Kenyataan sekarang adalah bahwa Palestina hanya menyisakan daerah yang sangat kecil bernama Gaza. Palestina sendiri telah beralih dari sungai ke tepi laut, dan Palestina terbagi menjadi Perbatasan 67, Gaza, dan Tepi Barat.

Kondisi Gaza saat ini adalah hal yang membuat kita malu, di mana Palestina bisa mencapai fase Gaza seperti saat ini. Tidak akan cukup bila kita membahas masalah umat Islam, maka kita mencukupkan dengan menyebutkan kenyataan saat ini. Sekarang, PLO berakhir secara praktis, dan hanya dua gerakan jihad yang tersisa, yaitu Hamas dan al-Jihad, dan mereka sekarang terkepung di Gaza. Mereka memiliki masalah sebagai berikut.

Mereka membatasi aksi revolusioner mereka di Gaza dan perbatasannya saja, setelah perjuangan revolusi di seluruh dunia. Kita jarang melihat aksi-aksi yang signifikan di Palestina 48, atau bahkan di perbatasan 67. Sejak awal berdirinya, mereka tidak pernah melakukan aksi di luar Palestina, dan mereka berpikir itu adalah salah satu kesalahan PLO, yang mengalami banyak hambatan. Dapat dipastikan bahwa aksi-aksi eksternal di luar Palestina bukan menjadi prioritas mereka, sebagai bentuk pencegahan dari tekanan musuh, baik Zionis atau para pendukungnya.

Sekarang, pencegahan tersebut telah berakhir. Kita mencari simpati dari seluruh dunia untuk anak-anak di Gaza, dan mereka menghibur kita.

Keputusan kepemimpinan mereka pada agenda Iran, benar-benar bergantung kepada al-Jihad, dan seringkali kepada Hamas, terutama dalam beberapa waktu terakhir. Sedangkan pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu melihat hal tersebut sebagai pemicu, tidak lebih.

Sampainya mereka kepada puncak kekuasaan politik yang dibuat berdasarkan perjanjian Oslo membuat mereka menjadi ragu-ragu. Bagaimana mereka bisa berpartisipasi dalam kekuatan hukum yang dibuat di Oslo, padahal mereka menyerukan pembebasan Palestina? Mereka tidak menghinakan diri bersama para musuh yang membawa mereka ke politik jalan buntu saat ini, karena ketidak konsistenan pemikiran dengan para praktisi politik.

Tampaknya pergerakan-pergerakan di Gaza belum menemukan solusi untuk membebaskan diri dari pengepungan, maupun memiliki visi perjuangan untuk kepentingan Palestina. Sebuah piagam yang baru-baru ini diumumkan oleh Hamas merupakan sebuah kesimpulan dari konflik awal dengan Otoritas Palestina dan PLO, asalkan mereka mengadopsi jalan yang hampir sama, dengan perbedaan waktu. Karena itu, masalah Palestina dalam perspektif penuhnya telah berhenti total. Mereka membutuhkan:

  1. Perubahan yang signifikan dalam rezim di negara-negara sekitarnya, terutama Mesir dan Suriah.
  2. Mengadopsi lagi masalah Palestina sebagai masalah seluruh umat Islam.
  3. Memunculkan generasi baru dan pergerakan di Palestina yang mengemban visi dan misi yang cocok untuk fase ini, dengan menghindari kesalahan-kesalahan para generasi sebelumnya dan berintegrasi dengan negara-negara lain maupun dengan umat Islam.

Fitur Umum Fase Ini

Sistem Internasional, yang dipimpin oleh Amerika dan Eropa saat ini tengah menderita, dari tanda-tanda keruntuhan yang meluas. Mereka berupaya menata ulang wilayah dan struktur rezim tanpa harus berperang dengan skala penuh. Dunia telah menjadi tempat yang menegangkan. Rezim Obama sangat bijaksana ketika menghadapi berbagai krisis, tetapi dengan munculnya Trump dan kebangkitan sayap kanan di Barat menunjukkan bahwa hal-hal di luar kendali mungkin muncul dalam setiap krisis.

Gelombang Syi’ah di Irak, Suriah, dan Yaman, bersamaan dengan pengkhianatan para penguasa Arab, dan penodaan kesucian karena keterlibatan mereka dengan Sistem Internasional, menjadikan gerakan perlawanan dan Mujahidin sebagai harapan pertahanan umat Islam.

Kebuntuan pembebasan Palestina, dan kemunculan gerakan nasional di Gaza telah menemui jalan buntu dan gagal untuk mencapai kemajuan strategis demi kepentingan rakyat Palestina. Hal tersebut membuat Palestina mencari cara lain untuk membebaskan diri melalui sungai dan laut.

Ribuan pemuda dari seluruh medan jihad dari berbagai tingkat dan kader di sebagian besar wilayah konflik, bersamaan dengan kelimpahan senjata dan peralatan membuat kita melihat bahwa terdapat kekuatan fisik yang telah meningkat puluhan kali daripada dekade-dekade sebelumnya.

Keganasan perang media dan konflik intelektual, bersamaan dengan ‘Islam Moderat ala Amerika’ atau para pendukung liberalisme, mendukung para musuh untuk memenangkan akal dan hati kaum Muslimin secara umum.

Faktor-faktor Yang Mengubah Posisi Strategis.

Kelemahan, fragmentasi, atau kejatuhan pemerintah pusat di Arab Saudi, Mesir, dan Pakistan.

Rezim negara-negara tersebut memiliki senjata dan pasukan dalam jumlah besar, dan penting untuk memberikan pengaruh yang cukup untuk mendukung seluruh kaum Muslimin dan memastikan pembebasannya, jika sumber daya ini diserahkan kepada orang yang tepat.

Rezim Iran, perubahan bentuknya, dan tingkat pengaruh eksternalnya.

Status Amerika, ekonomi global, dan koherensi struktur sistem interenasional.

Evolusi gerakan perlawanan di tingkat politik, militer, media, keamanan, dan organisasi.

Meningkatnya kesadaran dan pengembangan di antara masyarakat,  yang diikuti dengan peningkatan partisipasi rakyat dalam pertempuran umat Islam dalam setiap bidangnya.

Meningkatnya bentuk persatuan, kerja sama,dan koordinasi antar gerakan perlawanan dan revolusi di seluruh wilayah Islam, beserta dengan meningkatnya kesolidan dan efektivitasnya.

 

Sumber: Tipyan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *