Peta Kekuatan Umat Islam di Negara-Negara Konflik: Yaman (Bag.2)

Yaman

Setelah terjadinya revolusi yang memaksa Ali Abdullah Saleh untuk menyerahkan kekuasaannya kepada Abdu Rabbuh Mansur Hadi agar tunduk kepada tekanan internasional untuk menahan revolusi rakyat dan mengerahkan segala upaya mereka untuk memerangi Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP).

Ansarullah, sebuah kelompok Syi’ah Houthi bergabung dengan cabang Iran di Yaman bersama dengan Ali Abdullah Saleh yang berada dalam kondisi lemah, mereka mengontrol sebagian besar pasukan militer, bahkan setelah Saleh dilengserkan dan dikudeta. Mereka kemudian merebut ibukota dan kota-kota besar bersama dengan sekutu mereka, Partai Kongres Rakyat (Partai milik Saleh), dan anggota militer yang setia kepadanya.

Abdur Rabbuh melarikan diri ke Arab Saudi, dan kemudian mendirikan ‘kampanye pengeboman’, sebuah kampanye Arab Saudi-EA untuk memulihkan kembali rezim Abdur Rabbuh.

Realita Saat Ini

Setelah terbunuhnya Ali Abdullah Saleh setelah upaya kudeta terhadap partai Houthi dan kerjasama dengan Arab Saudi, hancurlah banyak kekuatan politik dan kekuatan kesukuan yang dimiliki oleh Partai Kongres Rakyat. Sehingga terbentuklah peta kekuatan sebagai berikut:

  1. Jama’ah Ansarullah yang berideologi Syi’ah Houthi dengan sisa-sisa suku yang masih bergabung dengannya, dan juga sisa-sisa anggota partai milik Saleh masih mengontrol ibukota Sana’a dan wilayah sekitarnya, juga mengontrol sebagian besar provinsi dan kota-kota besar.
  2. Kekuatan yang dipimpin oleh Yaman dan Saudi, bersamaan dengan sebagian tentara dan orang-orang Yaman yang ingin melawan Houthi, berjuang untuk mengembalikan Hadi sebagai penguasa. Atau setidaknya, ini yang mereka akui.
  3. Pasukan yang dikenal sebagai ‘security belt’, polisi Shaban dan Aden. Mereka didanai dan dikomandoi oleh UEA. Seharusnya mereka menjadi bagian dari koalisi, tetapi mereka dieksploitasi oleh UEA untuk menunaikan kepentingan mereka sendiri di Yaman, seperti mengontrol kota Aden dan pelabuhan, juga untuk melakukan operasi keamanan terhadap al-Qaeda. Mereka juga ingin melindungi beberapa politisi, seperti sebuah pergerakan di Yaman Selatan yang menyerukan kembalinya Republik Yaman Selatan, dan keinginannya untuk memisahkan diri dari Negara Independen. Atau beberapa wilayah dan politisi yang menginginkan pergerakan tersebut agar tampil ke permukaan, sehingga mereka bisa menemukan anggota di wilayah kekuasaan mereka yang baru. Baik itu berupa kerjasama dengan Saudi atau dengan cara memaksa mereka untuk melaksanakan kepentingan-kepentingan mereka di Yaman dan memperkuat pengaruh mereka.
  4. Tanzhim al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP), yang aktif di beberapa provinsi di Yaman pusat dan selatan. AQAP memiliki dua pencapaian semenjak terjadinya revolusi. Yang pertama adalah menguasai provinsi Abyan dan Shabwa setelah terjadinya revolusi, dan kemudian merebut provinsi Mukalla pada tahun 2015. Dalam kedua kasus tersebut, al-Qaeda melakukan serangan cepat dan efektif terhadap pusat-pusat keamanan dan militer di daerah yang ditargetkan, yang kemudian mereka kontrol secara penuh. Kemudian mereka menyerahkan hukum kepada Dewan Rakyat Sipil milik rakyat daerah tersebut dengan syarat kelangsungan organsisasi tersebut, dan diperbolehkan untuk melatih anggotanya di tengah-tengah masyarakat.

Dalam kedua kasus, setelah mengontrol beberapa daerah selama beberapa bulan (ada yang mengatakan setahun lebih), kelompok tersebut kemudian berpihak kepada kampanye besar yang dikoordinasikan oleh AS dan Saudi. Kelompok tersebut tidak melawan pasukan AS dan Saudi, tetapi melebur bersama mereka dalam segala aspek, persenjataan maupun pasukan.

AQAP tidak mengalami kerugian berarti selama peleburan mereka dengan pasukan koalisi. Dan setelah koalisi berhasil menaklukkan organisasi Houthi yang aktif, AQAP menjadi aktif di tengah-tengah masyarakat. Selama di Mukalla, AQAP berhasil mengubahnya menjadi pusat pelatihan, logistik, dan dukungan untuk perang melawan Syi’ah Houthi. Putra daerah dan AQAP berperan dalam operasi yang dilakukan terhadap target eksternal. Akan tetapi kami mencukupkan sekian untuk membahas peran AQAP dalam situasi Yaman.

Masa Depan yang Diprediksi

Dalam waktu dekat, tidak ada prospek bagi Yaman untuk bisa kembali sebagai negara sentral lagi. Hal tersebut disebabkan melemahnya Houthi dan banyaknya tekanan internasional kepada Iran, juga hilangnya banyak kekuatan mainstream di Yaman.

Kemungkinan akan terjadi perbedaan pendapat antar partai yang didukung UEA dan partai sayap kanan lainnya. Baik mereka memiliki agenda regional tersendiri atau berada di bawah otoritas Hadi.

Situasi kekosongan dan likuiditas, serta tidak adanya alternatif yang nyata dari pasukan koalisi ataupun partai-partai di Yaman telah terjadi. Entah itu untuk menghadapi Houthi atau bahkan kelompok Houthi itu sendiri. Kondisi kehidupan, kekacauan ekonomi, memicu adanya kemungkinan revolusi di semua pihak yang terlibat. Revolusi tersebut diperkirakan akan terjadi pada akhir perang antara Houthi dan aliansi Arab.

Al-Qaeda, kehadirannya, rencananya, dan cara operasinya menunjukkan bahwa ia dapat memanfaatkan pergolakan yang tengah terjadi ini. Al-Qaeda kemungkinan akan menunggu kesempatan yang tepat untuk melakukan intervensi, terutama karena AS belum bisa mengalahkan AQAP.

Metode operasi-operasi yang dilakukan AQAP membuat AS tidak memiliki kesempatan untuk mengepungnya, ataupun mengobarkan perang melawannya, karena partai-partai di Yaman saat ini sedang berperang satu sama lain, di saat mereka seharusnya mendukung AS untuk melawan AQAP.

Aliansi Arab dan PBB tidak ingin menghilangkan Houthi sepenuhnya, tetapi mereka ingin membatasi kekuasannya dan memaksanya untuk berbagi kekuasaan dengan partai-partai lain di bawah naungan Internasional. Hal tersebut akan dibuat serupa dengan sistem politik Lebanon atau Irak dengan sektarianismenya.

Pada saat yang sama, Iran menganggap Houthi sebagai kartu truf mereka yang tidak dihabisi secara total, sehingga mereka ingin meningkatkan ancaman ke Arab Saudi. Karena memicu perang Yaman akan jauh lebih menguntungkan bagi Iran, daripada memicu perang di Lebanon atau Suriah, di mana hal tersebut akan menyebabkan kerugian besar bagi Iran.

Oleh karena itu, perkembangan situasi di sana terkait dengan konflik regional dengan Iran, kepentingan pihak aliansi Arab yang saling bertentangan, dan kemampuan Amerika untuk mengatur berbagai hal di Yaman, dengan mempertimbangkan faktor-faktor internal yang sudah kami sebutkan sebelumnya.

 

 

Sumber: Tipyan

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *