Wanita-Wanita Tangguh di Balik Jihadnya Pangeran Diponegoro

Inilah Para Wanita Tangguh Yang Menempa Diponegoro Menjadi Mujahid Hebat

(Seri Kisah Perjuangan Perang Sabil Diponegoro Bag.3)

 

Para leluhur pria Diponegoro memberi pengaruh besar secara pribadi dan sebagai sumber inspirasi Diponegoro. Namun para kerabat wanita nampaknya lebih berpengaruh dalam membentuk pandangan hidupnya selama masa anak-anak dan remaja.

Pandangan hidup yang khas itu berakar pada keyakinan agama yang mendalam dan hubungan yang luas dengan masyarakat santri Jawa, hubungan yang tidak biasa bagi seorang kerabat keraton seperti Diponegoro. Keyakinan agama dan hubungan sosial itulah yang akan mempengaruhi kharisma dan gaya kepemimpinan Diponegoro selama perang Jawa.

R.M. Mustahar atau Raden Ontowiryo (Diponegoro Muda)

Diponegoro dibesarkan di bawah asuhan kaum perempuan yang berkepribadian tinggi lagi mulia sampai ia berusia 18 tahun. Hal itu berpengaruh besar pada tumbuh kembang kepribadiannya. Melalui jalur ibu dan kerabat perempuan, diponegoro memiliki hubungan darah dan kekerabatan dengan beberapa kiai terkemuka di Jawa.

Ibunda Diponegoro, Radan Ayu Mangkorowati, garwo ampeyan Sultan ketiga yang melahirkannya pada usia sekitar 15 tahun merupakan keturunan Ki Ageng Prampelan, seorang tokoh yang sezaman dengan raja pertama Mataram, Panembahan Senopati.

Ki Ageng Prampelan merupakan keturunan ke sepuluh Sunan Gresik atau Sunan Ngampel Denta, salah seorang wali songo yang membentuk sebuah masyarakat Islam di Jawa Timur sebelum berakhimya kerajaan Hindu-Budha Majapahit.

Baca juga:

Ibunda Diponegoro lahir di desa perdikan (desa bebas pajak yang diberikan pada pemimpin agama) Majasto yang letaknya dekat dengan pusat Islam di Tembayat. Kedua tempat ini dihuni oleh keturunan Panembahan Kajoran (penentang Amangkurat I, raja mataram yang zalim pada abad ke-17) dan pendukungnya.

Diponegoro juga mendapat dukungan yang besar dari dua daerah tersebut saat meletus perang Jawa. Sebagai satu-satunya anak lelaki Diponegoro sangat dekat dan disayangi oleh ibundanya. Diponegoro di bawah asuhan ibunya sampai usia 7 tahun.

Seorang perempuan lainnya yang ikut berperan membentuk kepribadian dan pandangan hidup Diponegoro adalah neneknya, Ratu Kedaton.

Baca juga:

Neneknya ini merupakan keturunan panembahan Cokrodiningrat II dari Madura (berkuasa 1680-1707). Kesetiaannya pada Islam yang merupakan ciri menonjol masyarakat Madura, begitu berkesan dan dikagumi Diponegoro. Semangat Maduranya juga menyala-nyala sampai usia senjanya.

Peta Areal Hasil Bumi untuk Perdagangan Jawa tengah pada masa remaja Diponegoro

Pengaruh terbesar seorang wanita pada pandangan hidup dan kepribadian Diponegoro adalah nenek buyutnya, Ratu Ageng Tegalrejo. Ia dalam pengasuhan Ratu Ageng mulai usia 7 tahun sampai nenek buyutnya meninggal saat Diponegoro berusia 18 tahun.

Diponegoro remaja praktis di bawah didikan seorang perempuan tua berpengaruh, yang kritis dengan perkembangan istana Yogyakarta. Ratu ageng merupakan putri seorang kiai terkemuka di Sragen, dan merupakan keturunan Sultan Bima di Sumbawa, sebuah kesultanan Islam yang begitu kuat menjaga kedaulatannya di kepulauan Nusantara Timur. Diponegoro juga dekat dengan kerabat ratu Ageng yang banyak menjadi pejabat keagamaan di istana.

Gb. Denah Ndalem Tegalrejo, tempat tinggal Ratu Ageng dan Diponegoro Remaja (1792-1803)

Ratu Ageng merupakan seorang perempuan yang sangat tangguh. Ia mendampingi sultan pertama dalam semua pertempuran melawan Belanda (1746-1755) sebelum perjanjian Giyanti. Bahkan ia melahirkan anaknya (yang kemudian menjadi sultan ke-2) di lereng gunung Sindoro. Setelah kesultanan Yogyakarta berdiri pasca perjanjian giyanti, Ratu Ageng menjadi panglima pasukan pengawal perempuan, semacam korps srikandi kerajaan.

Ratu Ageng juga terkenal ketekunannya dalam mempelajari dan menjalankan nilai-nilai ajaran Islam. Ia suka membaca kitab-kitab agama dan tekun menjaga adat keraton. Usianya sudah enam puluh tahunan ketika ia mulai mengasuh Diponegoro yang saat itu baru berusia tujuh tahun.

 

Referensi:

Peter Carey, Asal Usul Perang Jawa, LKiS Yogyakarta 2001

Peter Carey, Kuasa Ramalan, Pangeran Diponegoro Dan Akhir Tatanan Lama Di Jawa, 1785-1855, Jilid 1, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta, 2011.

Peter Carey, Kuasa Ramalan, Pangeran Diponegoro Dan Akhir Tatanan Lama Di Jawa, 1785-1855, Jilid 2, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta, 2011.

Saleh As’ad Djamhari, Stelsel Benteng Dalam Pemberontakan Diponegoro 1827-1830; Suatu Kajian  Sejarah Perang, Desertasi Program Pasca  Sarjana bidang Ilmu Pengetahuan Budaya UI, 2002.

Saleh As’ad Djamhari, Strategi Menjinakkan Diponegoro, stelsel Benteng 1827-1830, Komunitas Bambu, cetakan kedua, Maret 2014.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *