Campur Tangan Israel dalam Sejarah Singkat Munculnya Islamophobia

Kita tahu bahwa kita telah mencapai puncak islamphobia ketika seorang setengah terpelajar, mantan tahanan, tidak bisa membaca alqur’an, tidak pernah berkunjung ke timur tengah dan tidak memiliki seorang teman muslim berbicara tentang Islam dan menerbitkan sebuah buku tentang  Islam dan hubungannya dengan kekerasan.

Itulah yang telah dilakukan Tommy Robinson, pemimpin tertinggi dari English Defense League (Sebuah Organisasi Islamphobia di UK) yang membenci muslim. Tommy Robinson pernah mendekam di dalam penjara karena 2 kasus, pertama;  di tahun 2003 mendekam di penjara selama 12 bulan karena kasus penyerangan terhadap petugas kepolisian. Kedua;  ditahun 2012 mendekam di dalam penjara selama 18 bulan karena kasus penipuan.

Tomy dengan beraninya menulis buku tentang Islam, seperti menulis buku tentang oprasi hanya karena pernah menonton film Hospital. Inilah kenyataan pada hari ini, banyak orang bekerja padahal ia tidak menguasai dan memenuhi sayarat kualifikasi.

Baca juga:

Sejak al-Qaeda menyerang Amerika Serikat di tahun 2001, Islamphobia  telah memperkaya cerita dan sebuah senjata empuk bagi politisi, bahkan pedagang buku.

Isu itu membuat buku-buku laris manis seperti  bukunya Richad Dawkis, Ayaan Hirsi Ali, dan Sam Haris. Ada juga yang karir politiknya menjadi meroket kembali  sperti Geer Widers (Belanda), Marine Le Pen (Prancis) dan Pauline Hansan (Australia). Bahkan Donal Tramp bisa masuk ke White house karena mengangkat isu-isu seperti diatas.

Orang-orang tersebut yang menggambarkan Islam itu kasar, kejam, memusuhi nilai-nilai demokrasi, terorisme. Padahal tidak ada diantara mereka yang memiliki surat resmi akademisi dalam keislaman maupun keamanan.

Dibelakang mereka adalah kader-kader dari organisa-organisasi jaringan anti Islam yang banyak didanai oleh kelompok secara tidak terkait dengan Israel. Di tahu 2014 kolom ini telah menginditifikasi ada milyader yang mendanai kegiatan “Industri Islamphobia”.

Teori konspirasi mereka adalah menggambarkan bahwa kaum muslimin di barat berencana menerapkan syari’ah, teori yang lainnya menggambarkan bahwa kaum muslimin sebagai bom waktu demografis. Tidak hanya sampai disitu, mereka juga mengaitkan Islam terhadap aksi-aksi kekerasan politik lewat media mainstream mereka dan kemudian diterapkan lewat kebijakan resmi pemerintah.

Professor Deepa Kumar, pengarang dari Islamphobia dan kerajaan politik (Islamphobia and The Politic of Empire) mengatakan bahwa mengaitkan Islam dengan terorisme dalam wacana/pidato dimulai  dari neo-con.  Zionis mendanai konfrensi tentang terorisme international pada tahun 1979. Tokoh terkemuka yang hadir termasuk George H. Bush dan pendiri partai Likud, Menachen Begin.

Baca juga:

Konfrensi tersebut memliki satu tujuan, tujuan tersebut adalah untuk mencapai sebuah kesepakatan bahwa partai-partai sayap kanan di Israel dan US harus meyetujui retorika yang menggambarkan perjuangan rakyat palestina untuk meraih kebebasan adalah sebagai tindakan terorisme.

Kumar mencatat  bahwa meskipun konfrensi bertujuan “memulai babak baru untuk menyatukan demokrasi dunia melawan terorisme dan bahaya yang dibawanya” itu tidak menegaskan adanya hubungan antara terorisme dengan Islam.

Hal ini berubah setelah lima tahun kemudian pada konfrensi Internasional tentang terorisme yang kedua yang diselenggarakan di Washington DC. Disinilah neo-con AS dan Israel sayap kanan mengakarkan (mengaitkan) terosime (modern) dengan radikalisme Islam dan arab, tulis Kumar. Di konfrensi ini, Benard Lewis menjadi cendekiawan pertama yang mengaitkan terorisme dengan Islam secara berlebih-lebihan dengan mengemukakan “Islam adalah agama politik”.

Dan demikian karena terorisme adalah aksi kekerasan politik. Istilah Terorisme hanya disematkan kepada Islam. Tidak ada sistilah Terorisme yahudi atau Terorisme Kristen.

Mulai titik inilah ne-cons US dan Zionos bekerjasama untuk meyakinkan pembuat kebijakan barat bahwa “Terorisme Islam” akan menggantikan Komunisme sebagai ancaman besar bangsa barat. Dengan mengikat Islam dengan terorisme, Neo-cons akan memperoleh perlindungan politik atas ambisi imperialis mereka di Timur tengah, dan Zionis akan untung mendapatkan simpati bangsa barat atas perjuangan merekan melawan “terorisme palestina”.

Dr Remi  Brulin, seorang teman peneliti di New york University, mengatakan bahwa istilah “terorisme” di Amerika tidak ada hingga Raegen mengadopsi sebuah pemahamaman tentang Terorisme yang spesifik, dan didorong secara idiologis. C senvativ, e dan zionis.

“Wacana tentang terorisme penuh dengan kontradiksi dan inkonsistensi,” tulis Brulin. “Wacana Tentang terorisme adalah hasil dari proses pembuatan makna yang sarat dengan politik dan idiologis  dari mata-mata politik neo-cons Amerika kepada pejabat-pejabat Israel kemudian  kepada media mainstream, proses pembuatan makna dengan aktor-aktor politik yang spesifik tersebut telah menjalankan peranan penting. Sejak wacana tersebut merebak ke ranah sekenario politik Amerika tiga abad lalu, tujuan wacana terorisme tersebut adalah untuk menghidupkan kembali, memolitikkan kembali, dan mengesahkan kembali “enemy of the day” (terorisme), selagi mengesahkan seluruh penggunaan kekerasan politik untuk melawannya. Wacana tersebut adalah, dalam istilah kontemporer, wacana berbahaya, tidak berhubungan dengan sejarah, dan tidak intelektual yang harus didekonstruksi kemudian dibuang.”

Wacana tersebut terbentuk dari pikiran mereka yang pro dengan Israel dan neo-konservatif Amerika. Merekalah yang membuat konspirasi-konspirasi anti-muslim, konsep-konsep dan strereotip negatif. Dari wacana inilah yang menjadikan Trump dan semua yang berhubungan dengan industry Islamphobia, termasuk Tommy Robinson yang menempatkan Islam sebagai bahaya, bengis, dan ancaman bagi peradaban Barat.

Itulah sejarah pendek tentang Islamphobia di Barat, dan campur tangan Israel di dalamnya.

 

 

Sumber:  medium

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *