Taliban: Ashraf Ghani, Perpanjangan Tangan Amerika di Afghanistan

Kepala rezim Kabul (Ashraf Ghani) menghadapi tekanan besar dari oposisi internal, kemunduran militer dan terutama perundingan AS-Taliban di Doha baru-baru ini. Ia melampiaskan kekesalannya dengan cara yang justru mengungkap jati dirinya yang sebenarnya yang tidak memihak pada kepentingan rakyat Afghanistan.

Secara nyata ia meluncurkan program anti-Islam dengan serangan dan pemboman yang tak henti-hentinya terhadap tempat-tempat suci keagamaan, masjid, madrasah, dan para ulama. Ia juga telah melecehkan nilai-nilai nasional dan warisan budaya yang menjadi kebanggaan bangsa Afghanistan.

Kebijakan anti-Islamnya telah diketahui sejak awal. Dia adalah seorang Afgan-Amerika yang ikatan satu-satunya dengan Afghanistan adalah tempat kelahirannya. Masa kecilnya, masa muda dan masa dewasanya telah dihabiskan di luar negeri. Dia telah dipelihara oleh iklim, makanan, dan budaya Amerika dan dilatih di sekolah-sekolah dan universitas-universitas Amerika, dibentuk oleh para profesor Amerika, menikah dengan seorang Kristen dan anak-anaknya yang lahir dan besar di Amerika.

Ia tidak menunjukkan keinginan untuk berhubungan dengan iklim budaya Afghanistan. Seorang individu yang dibesarkan dan diasuh oleh non-Muslim tidak diragukan lagi akan melayani kepentingan non-Muslim dan melakukan permusuhan terhadap nilai-nilai Islam, masjid, madrasah dan budaya Afghan.

Permusuhannya terhadap agama dan Islam tidak bisa lebih jelas, tetapi ia bersama para pengikutnya mengklaim cinta Afghan, menyebut diri mereka patriot Afghanistan dan menggunakannya sebagai sarana untuk mendapatkan daya tarik dari rakyat Afghanistan.

Tetapi selama kunjungannya baru-baru ini ke provinsi Kunar, ia dengan berani mengecam sejarah Afghan dengan sombong dan bahkan berani melecehkan pendiri Afghanistan – seorang raja, pejuang, dan ulama Ahmad Shah Baba – dengan menyatakan bahwa dia adalah seorang lalim yang merebut kekuasaan dengan kezaliman. Ucapan Ashraf Ghani telah menyingkap kedoknya bahwa sebenarnya ia memusuhi Islam, dia juga membenci identitas bangsa Afghan dengan sombong.

Orang Afghan semakin yakin bahwa Ashraf Ghani membenci pendiri Afghanistan karena Ahmad Shah Abdali adalah seorang ulama Muslim, Mujahid yang hebat dan raja yang saleh. Ahmad Shah Baba berperang melawan kekufuran dan kejahatan, menjalankan urusan kenegaraannya dengan nasihat para ulama, menegakkan keadilan Islam dan membantu kaum Muslim yang tertindas di seluruh dunia dengan sekuat tenaga.

Contohnya adalah ketika kekuatan Maghul Muslim setelah meninggalnya Awrangzeb Alamgir melemah dan menghadapi bahaya kehancuran ketika Maratha Hindu mengambil alih semakin banyak wilayah dan mengepung Delhi, ulama besar dan pejuang Islam, Shah Waliullah menulis surat kepada Ahmad Shah Baba dan memintanya untuk datang membantu Muslim India.

Ketika Ahmad Shah Baba mengetahui tentang keadaan buruk umat Islam India, ia segera mulai bergerak menuju India dengan semangat Jihad, menghadapi pasukan besar Maratha di Panipat dan bertempur dalam pertempuran bersejarah di mana ia mengalahkan para Maratha dan menyelamatkan Muslim India dari penindasan para Tirani Hindu.

Orang-orang yang berpikir kekuasaan dan keduaniaan, seperti Ashraf Ghani salah menafsirkan serbuan Ahmad Shah Baba ke India untuk mengejar uang, emas dan batu permata. Namun sejarah menyaksikan bahwa Ahmad Shah Baba adalah Raja Muslim Mujahid yang komitmen dengan persaudaraan sesama muslim dan serangannya ke India semata-mata didasarkan pada alasan agama, untuk membantu umat Islam di India melawan serangan para serdadu Maratha Hindu dan melindungi pemerintahan Islam dari kehancuran.

Ahmad Shah Baba, putranya Taimoor Shah dan cucunya Zaman Shah adalah tokoh-tokoh yang tidak hanya menggagalkan penjajahan Afghanistan tetapi juga India dari tangan Inggris, Prancis, dan penjajah Barat lainnya. Namun kemudian boneka-boneka orang-orang kafir seperti Ashraf Ghani menjadi noda hitam sejarah Afghanistan, seperti juga Shah Shuja yang rela menyerahkan kendali atas tanah Muslim kepada orang-orang kafir.

Ahmad Shah Baba memiliki ikatan yang begitu dekat dengan Kekhalifahan Utsmaniyah sehingga ia menjadi benteng yang tak tertembus dalam menghadapi boneka-boneka Barat seperti Ghani. Ia tidak hanya melindungi tanah-tanah Muslim dari ancaman penjajah barat, tetapi pengaruhnya telah mengguncang ibu kota Kekaisaran Romawi dan meraih kehormatan Penaklukan Konstantinopel.

Oleh karena itu bisa dimengerti mengapa individu yang lemah lembut seperti Ashraf Ghani akan menunjukkan penghinaan terhadap kebanggaan dunia Muslim (Ahmad Shah Baba) dan mencoba untuk menodai warisannya dengan kebohongan dan rekayasa.

Tetapi Ashraf Ghani harus ingat bahwa sejarah adalah hakim yang tanpa ampun. Tidak peduli apa media atau individu yang Anda pekerjakan untuk memujamu hari ini, sejarah akan selamanya mengkategorikan Anda dalam garis yang sama dengan Shah Shuja, Yaqub Khan dan Karmal. Kami sangat memahami bahwa Anda telah mengabdikan seluruh hidup dan kekayaan Anda untuk melayani Amerika, Anda menyerahkan Afghanistan ke Amerika dengan suatu perjanjian dan memberikan izin kepada mesin perang Amerika untuk membunuh orang-orang Afghanistan siang dan malam.

 

 

Sumber:   alemarahenglish

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *