“Turki Muda” di Balik Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah dan Berdirinya Republik Turki Sekuler

Narasi besar dari buku The Young Turk Legacy and Nation Building adalah kebangkitan Republik Turki sebagai kelanjutan penting dari Khilafah Utsmaniyah. Berdirinya republik sekuler tersebut pada tahun 1923 tidak bisa lepas dari konspirasi kelompok Turki Muda.

 

Erik Jan Zürcher menunjukkan bahwa “perangkat ideologis” Mustafa Kemal, di antaranya positivisme, militerisme, nasionalisme, dan pandangan dunia yang berpusat pada negara, begitu meracuni banyak orang muda Turki. Di sisi lain, Penulis menyoroti kekuasaan “otoriter”, daulah satu partai, kerangka hukum berdasarkan prinsip-prinsip Eropa, birokrasi gaya Eropa maju, administrasi keuangan, reformasi militer dan pendidikan, serta kontrol daulah terhadap pengamalan Islam, yang semuanya dapat ditemukan di Daulah Utsmaniyah, termasuk kebijakan rekayasa demografis.

Buku ini juga berfokus pada usaha kaum Turki Muda untuk menyelamatkan kekuasaan mereka melalui modernisasi paksa. Juga, mengupas upaya yang dilakukan oleh penerus mereka dari kalangan Kemalis (pengikut Mustafa Kemal) untuk membangun negara-bangsa yang kuat. Dekade peperangan hampir terus-menerus, konflik etnis, dan migrasi paksa antara 1911 dan 1922 menjadi latar belakang upaya ini dan dengan demikian menempati posisi sentral dalam buku ini.

Baca juga:

Secara umum, buku ini mengandung muatan sejarah yang kuat, yang mencerminkan—dan berkontribusi bagi—penelitian mutakhir dari pakar sejarah Turki modern. Jadi, buku ini penting bagi pembaca yang ingin menambah wawasan tentang sejarah Khilafah Utsmaniyah dan proses transisinya menjadi Republik Turki. Lebih khusus, buku ini penting untuk memahami peran kelompok Turki Muda sebagai pemain kunci dalam politik Timur Tengah dan Eropa.

Setelah berangsur-angsur mengalami kemunduran selaman dua abad, Khilafah Utsmaniyah runtuh pada akhir Perang Dunia I. Selama beberapa dekade, pecahan bekas wilayah Turki Utsmani yang luas muncul kembali sebagai negara-bangsa yang mewakili mayoritas etnis masing-masing. Belakangan, sebagian orang Turki menepikan pengabdian mereka—yang selama ini kepada sebuah khilafah dan din (Islam)—untuk bergabung dengan negara-bangsa baru ini. Dipimpin oleh sosok visioner modernis, seperti Mustafa Kemal Atatürk dan Ismet Inönu, Republik Turki berangsur-angsur berevolusi menjadi demokrasi multi-partai yang didasarkan pada lembaga-lembaga sekuler.

Buku ini menawarkan paradigma untuk memastikan sebagian besar catatan tentang Republik Turki hingga pertengahan abad ke-20. Selama masa puncak Era Bangsa-Bangsa, periode bencana dan kehancuran luar biasa, para pengamat berhaluan Barat mendambakan sebuah contoh yang menegaskan—daripada mempertentangkan—harapan mereka untuk masa depan Turki yang progresif, tetapi tegas rasionalis, sekaligus negara yang mewakili rakyat secara demokratis. Republik Turki tampaknya sempat dilihat berpeluang untuk mewujudkan model itu lebih baik daripada kebanyakan, setidaknya lewat proklamasi—jika bukan kebijakan—para pemimpin politik barunya.

Baca juga:

Seperti yang tampak, seluk-beluk Khilafah Utsmaniyah maupun Republik Turki ternyata jauh lebih menarik, jauh lebih kompleks, dan jauh lebih terjalin, daripada yang selama ini dilihat dari sudut pandang banyak kritikus Khilafah Utsmaniyah maupun para pengagum Republik Turki. Dalam buku yang menghimpun sekitar 21 makalah ilmiah ini, Erik J. Zürcher merangkum hasil penelitian ilmiah selama tiga dasawarsa, yang sebagian besar ditulisnya sendiri, terkait dekade-dekade akhir menjelang pembubaran Khilafah dan dekade-dekade awal Republik.

Setiap makalah secara ringkas berfokus pada transisi dari Kekaisaran ke Republik: kekhilafan historis Pidato Atatürk tahun 1929, paradigma modernis seperti yang dicontohkan lewat Emergence of Modern Turkey karya Bernard Lewis, latar belakang sosial dan pendidikan kalangan elite revolusioner Turki Utsmani, alternatif untuk sejarah resmi Perang Kemerdekaan, landasan institusional reformator Turki Utsmani yang memberikan dasar pendirian Republik.

Berisi juga peran dominan pejabat Turki Utsmani dari Balkan dan Kaukasus dalam Perang Kemerdekaan, transformasi Anatolia baik oleh gerakan penduduk, dan (pada halaman akhir, 344) kehancuran perang, latar belakang sosial spesifik dari sosok (yang dituduh) sebagai arsitek genosida Turki Utsmani atas orang-orang Armenia, perekrutan dan pengalaman prajurit Ottoman selama perang demi perang, pentingnya Islam Sunni bagi Khilafah maupun Republik, serta pandangan dan ingatan para partisipan Perang Kemerdekaan yang dibersihkan oleh Atatürk dan Inönü.

Baca juga:

Kompleksitas dan kekayaan dari topik-topik di atas mungkin cukup “meledakkan” ideologi historiografi modernis. Ada harapan bahwa pemahaman melalui penemuan dapat menggantikan pujian maupun kecaman naluriah. Aura cerah dari negara-bangsa perlu disisihkan dulu, sementara sisi kehilangan peluang, dongeng politik, transformasi sosial yang tidak diinginkan, serta mengukur keberhasilan institusional dimunculkan dari bayang-bayang.

Kesimpulannya, buku ini memaparkan lanskap politik dan institusional yang tumpang tindih dari Khilafah dan Republik pada masa transisi. Kumpulan analisis yang ringkas, menusuk, dan terpelajar dari berbagai periode dan masalah sepertinya bukan ditujukan untuk pemula. Namun, bagi mereka yang memiliki latar belakang dalam Kajian Turki dan Utsmaniyah, buku ini menawarkan bacaan yang merangsang dan menyegarkan.

 

Judul Buku: The Young Turk Legacy and Nation-Building: From the Ottoman Empire to Atatürk’s Turkey

Penulis: Erik J. Zürcher

ISBN: 9781848852716

Penerbit: I.B. Tauris, 2010

The Middle East Journal, Volume 65, Number 2, Spring 2011, hlm. 344–345.

Sumber:    muse.jhu.edu

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *