Perasaan dan Emosi Batin Bukanlah Ukuran Benar atau Salah

Di Bawah Naungan Sejarah: Mana yang Lebih Didahulukan, Pendapat Saya atau Keputusan Bersama?

Disarikan dari tulisan Bilal al-Ukaidi, seorang peneliti ilmu Syar’i, dan kontributor di situs Ebaa.news

 

Bismillah, Shalawat dan salam kita curahkan kepada Rasulullah ﷺ, Amma ba’du…

Di medan jihad Suriah, banyak kejadian dan fenomena yang membuat para pejuang menjadi bingung. Apakah mereka akan menghabiskan sebagian besar waktunya di perbatasan, di markas jihad, atau bersama keluarganya, atau bersama para saudaranya di medan Jihad? Di antara kejadian-kejadian serupa merupakan kejadian yang besar, di mana seseorang memerlukan suatu bekal untuk menghadapi situasi serupa.

Faktanya, seseorang terkadang mengerjakan suatu perintah, atau ada suatu kejadian yang terjadi, di mana hal tersebut bertentangan dengan pendapatnya. Sehingga ia merasa bahwa para anggota kelompoknya telah menyimpang dari jalan yang lurus, bersikap ghuluw, atau yang lainnya. Bahkan ia menuduh orang lain seolah-olah tidak tahu apa-apa. Mungkin, ia termasuk orang yang tulus dalam menolong agama ini, tetapi tentu saja, ini adalah sebuah kesalahan besar.

Untuk dapat memahami hal-hal tersebut secara lebih baik, maka alangkah baiknya kita mempelajari Sirah Nabawiyyah yang akan menunjukkan kita jalan yang benar, dan akan menyelesaikan permasalahan kita. Sirah Nabawiyyah juga akan menjelaskan berbagai dilema yang kita hadapi dan memberikan kita banyak pemahaman yang baru.

Baca juga:

Pelajaran kali ini diambil dari sikap Rasulullah ﷺ ketika perjanjian Hudaibiyah terjadi antara beliau ﷺ dengan orang-orang kafir pada tahun keenam Hijriyah. Pada saat itu, syarat yang diberlakukan kepada kaum Muslimin adalah syarat yang berat menurut sebagian besar sahabat, di antaranya adalah Umar bin Khattab radhiyallahu anhu.

Umar berpendapat bahwa menyetujui syarat yang diajukan oleh kaum Musyrikin adalah bentuk kehinaan, di mana salah satu syarat yang disepakati adalah ‘Jika ada orang Muslim yang datang dari Mekkah ke Madinah tanpa izin dari walinya, maka ia akan dikembalikan ke Mekkah. Akan tetapi jika ada orang Muslim yang datang menuju kaum Musyrikin, ia tidak dikembalikan (ke Madinah).’

Begitu juga ketika Suhail bin Amr (negosiator dari pihak Musyrikin) diperintahkan untuk menulis ‘Bismillah’ tetapi ia berkata, “Aku tidak mengetahui kalimat ini.” Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menulis ‘Bismika Allahumma’. Ia juga diperintahkan untuk menulis kata ‘ﷺ’ di belakang kata ‘Muhammad’, tetapi ia menolak. Ia bahkan berkata, “Jika kami meyakini bahwa engkau adalah utusan Allah, kami tidak akan memerangimu.”

Baca juga:

Ditambah lagi ketika Abu Jandal bin Suhail melarikan diri dari kaum Musyrikin di Mekkah menuju kaum Muslimin di Madinah ketika perjanjian tersebut telah berlaku. Dan di antara syaratnya adalah Abu Jandal harus dikembalikan ke Mekkah, karena ia tidak mendapatkan izin dari walinya. Abu Jandal berkata, “Wahai kaum Muslimin, apakah aku akan dikembalikan kepada orang-orang Musyrik yang akan memfitnahku karena agamaku?”

Umar r.a. berpendapat bahwa kaum Muslimin telah mendapatkan kehinaan dalam urusan agama, dan mereka telah membuat kaum Musyrikin merasa puas. Ia pun pergi menuju Abu Bakar dan berkata, “Wahai Abu Bakar, bukankah beliau (Rasulullah ﷺ) adalah seorang Rasul?” Abu Bakar menjawab, “Ya.” Umar berkata lagi, “Bukankah mereka adalah orang-orang Musyrik?” Abu Bakar menjawab, “Ya.” Umar berkata, “Maka kenapa kita menghinakan agama kita sendiri di hadapan mereka?” Maka Abu Bakar menjawab, “Wahai Umar, pertahankanlah ikatanmu, karena sesungguhnya aku bersaksi bahwa beliau ﷺ adalah utusan Allah.” Umar pun berkata, “Akupun bersaksi bahwa beliau adalah utusan Allah.” Kemudian Umar pergi menuju Rasulullah ﷺ dan menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Abu Bakar. Rasulullah ﷺ menjawab, “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya, aku tidak akan menyelisihi perintah-Nya, dan Ia tidak akan menyia-nyiakan diriku.”

Sikap ini dapat kita baca dalam kitab-kitab sejarah Rasulullah ﷺ, di mana hal tersebut dapat menyingkap kesulitan yang kita alami dan menerangi jalan kita.

Tetapi di sini, kami ingin menyoroti pelajaran yang paling penting, yaitu: Bahwa perasaan dan emosi batin bukanlah ukuran benar atau salah. Ini adalah Umar bin Khattab, di mana tidak ada seorang pun dari kita yang meragukan ghirahnya kepada Islam, kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ, dan kepatuhannya kepada perintah-perintah beliau ﷺ. Ketika Umar memandang syarat-syarat perjanjian Hudaibiyyah dari sudut pandangnya, ia memandang bahwa perjanjian tersebut memberikan kehinaan bagi agama Islam, tetapi kenyataannya justru sebaliknya.

Jika tidak ada kepercayaan antara para pasukan dan para pembuat keputusan, maka akan menimbulkan masalah besar yang akan membebani suatu kelompok / jama’ah jihad. Kepercayaan diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami suatu pembicaraan, atau sebagian orang akan menganggap hal tersebut sebagai pemakluman atas suatu pelanggaran, atau pembenaran atas suatu kesalahan.

Jika tidak ada kepercayaan antara para pasukan dan para pembuat keputusan, maka akan menimbulkan masalah besar yang akan membebani suatu kelompok / jama’ah jihad. Kepercayaan diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami suatu pembicaraan, atau sebagian orang akan menganggap hal tersebut sebagai pemakluman atas suatu pelanggaran, atau pembenaran atas suatu kesalahan.

Maka wajib bagi seseorang untuk menjelaskan bahwa, “Saya tidak akan menjelaskan hal tersebut di sini karena alasan taat kepada pemimpin.” Dan perlunya memahami bahwa ketaatan kepada pemimpin adalah suatu hal yang diwajibkan dalam Syariat.

Perlu juga menjelaskan bahwa, “Ini bukanlah hal yang saya inginkan, tetapi yang saya inginkan adalah menunjukkan suatu perkara penting yang akan menyelesaikan banyak masalah setelahnya.”

Baca juga:

Hal tersebut dapat dilakukan jika langkah-langkah yang diambil oleh para pembuat keputusan adalah langkah-langkah yang dibolehkan menurut Syar’i dan tidak menyelisihinya. Hendaklah seorang pemimpin memilih para pembuat keputusan yang dikenal dari dalam dirinya, bahwa mereka memenuhi syarat untuk memutuskan suatu perkara.

Kepercayaan antara pemimpin dan para pembuat keputusan juga merupakan hal yang wajib, karena Syari’at dan akal menuntut hal tersebut. Secara logika, jika seorang pemimpin ingin memenuhi pendapat seluruh pasukannya, (misalkan ia memiliki 1000 orang pasukan, dan ia ingin memenuhi pendapat seluruh pasukannya), maka di manakah arti sebuah kepemimpinan? Bukankah perintah dari seorang pemimpin adalah suatu kewajiban bagi pasukannya?  Karena seorang pemimpin memiliki penilaian yang baik dalam maslahat dan mafsadat, sehingga ia akan memutuskan suatu perkara berdasarkan hal tersebut…

Kemudian banyak di antara para pemuda -semoga Allah membimbing mereka- yang berpendapat bahwa mereka harus bersuara dalam setiap masalah yang terjadi. “Secara adminsitratif, secara syar’i, secara ekonomi, secara politik,… bla bla bla…” Ini merupakan suatu dilema besar. Meskipun seseorang yang menunjukkan pendapatnya mungkin tidak menyatakannya untuk tujuan pribadi. Mungkin ia menyatakan hal itu untuk menolong agama ini (jika suaranya dibutuhkan), mungkin ia ingin mencari suatu maslahat. Kita tidak meragukan niat dan kejujuran mereka (karena hanya Allah yang tahu).

Akan tetapi, merupakan suatu bencana jika seseorang mengutarakan pendapatnya tanpa menganggap pendapat orang lain. Mungkin ia ingin menyuarakan pendapatnya dan pemikirannya sehingga menghasilkan kata-kata “Qila wa Qal (katanya, dan katanya…).” Dan hal tersebut menimbulkan kekacauan.

Maka, percaya atas suatu keputusan yang dibuat oleh pemimpin merupakan jalan selamat atas segala urusan kita. Dan hal tersebut tidak akan mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan, meskipun pendapat kita tidak sama. Maksud kami di sini adalah dalam perkara-perkara yang dibolehkan secara syar’i. Jika dalam perkara-perkara yang diharamkan oleh Syar’i, maka akan berbeda 180 derajat.

Umar r.a. tidak menyadari tujuan sebenarnya dari perjanjian Hudaibiyyah. Tetapi tujuan tersebut menjadi jelas ketika ia menyadari bahwa langkah-langkah yang ditempuh oleh Rasulullah ﷺ adalah langkah-langkah yang mengarah kepada terjadinya Fathu Makkah.

Setelah terjadinya perjanjian Hudaibiyyah, maka Quraisy secara tidak langsung mengakui Rasulullah ﷺ sebagai sebuah kekuatan yang ada di muka bumi, yang memiliki pendukung dan pengikut. Hal tersebut terjadi karena adanya perjanjian Hudaibiyyah. Sebelum adanya perjanjian tersebut, Rasulullah ﷺ berhijrah secara sembunyi-sembunyi dan para kafir Quraisy ingin membunuh beliau.

Kemudian setelah perjanjian, Rasulullah ﷺ memanfaatkan waktu tiga tahun untuk berdakwah. Dan selama tiga tahun tersebut, jumlah orang yang masuk Islam meningkat dua kali lipat. Rasulullah ﷺ juga memerangi orang-orang Yahudi pada waktu itu, di mana mereka membuat perjanjian dengan orang-orang Quraisy yang dianggap sebagai musuh terkuat umat Islam pada waktu itu. Maka cukuplah penjelasan tentang maslahat dari perjanjian Hudaibiyyah bagi kaum Mukminin.

Di antara keuntungan lainnya adalah, Umar r.a. dan para sahabat tidak mampu melihat pendapat Rasulullah ﷺ ini. Sebagaimana banyak dari kita yang tidak mampu melihat buah dari langkah-langkah yang telah dibuat oleh para pendahulu kita.

Agar kita tidak tertipu oleh orang-orang yang suka menipu, maka kami katakan bahwa para pembuat kebijakan dan para umara’ tentu saja tidak seperti Rasulullah ﷺ dalam membuat keputusan. Karena Rasulullah ﷺ ketika perjanjian Hudaibiyyah telah mendapatkan wahyu dari Allah ﷻ. Maka kita tidak dapat menerapkan apa yang terjadi dalam Hudaibiyyah secara umum semau kita.

Kami juga mengatakan bahwa pendapat para pembuat keputusan, Syura, atau Jama’ah adalah pendapat yang lebih mendalam dan lebih akurat. Pendapat tersebut tentu saja akan mempertimbangkan maslahat dan mafsadat bagi para pasukan.

Di sini ada poin penting, bahwa ketika seorang pasukan mempertanyakan suatu keputusan yang dibuat oleh pemimpin, maka ia wajib untuk bertanya kepada para ahli ilmu yang ia percayai dan ia ridhai keputusannya. Ia juga harus mengetahui bahwa para pembuat keputusan adalah para ahli fatwa dan nasehat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang situasi, kondisi, dan kenyataan dari apa yang mereka fatwakan. Sikap husnuzhan kepada pemimpin bukanlah mengikuti pemimpin secara membabi buta, inilah masalah yang menjerumuskan banyak pejuang, krena kurangnya pengetahuan dan pendeknya pandangan mereka.

Wallahu A’lam bis Shawab

Disarikan dari tulisan Bilal al-Ukaidi, seorang peneliti ilmu Syar’i, dan kontributor di situs Ebaa.news

Sumber:  ebaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *