Komandan Militer HTS: Gerilya, Teknik Mujahidin Lawan Musuh yang Kuat

Musuh-musuh kita terdahulu telah berjalan di atas hukum-hukum dan pengaturan kekuatan tertentu, yang tidak bisa mereka atasi dan mereka hadapi.

Salah satu di antaranya adalah perang. Dalam perang konvensional, suatu pasukan dihadapkan dengan pasukan reguler, yang bergantung pada kemampuan tempur dan kemampuan untuk menduduki suatu wilayah. Ketika sebuah negara kecil diserang oleh pasukan yang amat besar, maka cara terakhir yang dapat diterapkan adalah menggunakan perang non-konvensional untuk melawan penjajahan dan melindungi wilayahnya.

Ini adalah cara yang harus dilakukan oleh para penduduk Suriah terhadap tiran yang melawan mereka dengan besi dan api, agar tiran tersebut dapat menundukkan mereka dan mengembalikan kekuasannya. Akan tetapi para rakyat yang agung tersebut menolak untuk tunduk, dan bahkan melawan para tiran dan sekutu-sekutunya. Mereka berdiri melawan pasukan terbesar di dunia dan memanggul senjata mereka.

Para rakyat tersebut menggunakan metode perang untuk melawan musuh mereka dengan metode yang digunakan oleh para leluhur mereka untuk melawan para penjajah. Di mana metode tersebut merupakan metode yang mampu menguras kekuatan pasukan paling kuat sekalipun, insya Allah. Metode tersebut adalah:

Perang Gerilya… Senjata pasukan yang lemah.

Perang gerilya adalah bentuk pertempuran antara kelompok-kelompok bersenjata dan pasukan reguler, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok lokal melawan penjajah asing. Ini adalah salah satu metode militer yang digunakan oleh pasukan yang lebih lemah untuk mengatasi musuh yang lebih kuat, ketika mereka mendapati bahwa mengkonfrontasi pasukan lawan secara reguler tidak akan menguntungkan mereka. Strategi inilah yang mengawali revolusi Suriah dan mampu menyebabkan kerugian besar terhadap pasukan rezim Nushairiyah.

Ciri-ciri perang gerilya adalah sifatnya yang tiba-tiba dan tidak terprediksi, untuk menguras kondisi musuh dan menyeret mereka ke dalam mobilisasi terus-menerus, sehingga mereka akan menderita kerugian yang besar dengan usaha yang tidak terlalu besar.

Metode perang ini menjadi salah satu metode yang sering digunakan oleh para Mujahidin, dan banyak gerakan-gerakan yang mengadopsi strategi ini. Jenis perang seperti ini dikenal sering digunakan oleh beberapa pemimpin Mujahidin yang mampu membuat musuh-musuhnya kehilangan banyak pasukan maupun peralatan mereka.

Seperti Imam Abdul Karim al-Khattabi dan Syaikh Mujahid Omar al-Mukhtar. Sedangkan dalam jajaran pemimpin Mujahidin kontemporer adalah Syaikh Usamah bin Laden, Khattab, dan banyak pemimpin Mujahidin lainnya.

Perang metode ini tidak terpaku pada bentuk atau aturan tertentu, mulai dari sistem kepemimpinannya hingga praktek lapangannya.

Tujuan utama perang ini adalah untuk menimbulkan kerugian yang besar kepada musuh, menghancurkan kemampuan tempur mereka, dan kemudian mengusir mereka dari negeri yang mereka jajah.

Peperangan modern ini telah menunjukkan bahwa para Mujahidin yang menggunakan metode perang gerilya merupakan tantangan yang amat berat bagi negara-negara yang mengadopsi sistem perang tradisional, bahkan jika mereka didukung oleh teknologi modern.

Di samping karena para Mujahidin sangat mengenal kondisi medan, mereka juga mendapatkan dukungan dan partisipasi dari masyarakat lokal di desa-desa dalam perjuangan mereka melawan penjajah. Sehingga para Mujahidin mampu mengambil keuntungan dari seluruh Sumber Daya Manusia, Alam, dan Ekonomi mereka untuk mempertahankan diri dan memperkuat kemampuan mereka.

Oleh karena itu, menyelesaikan pertempuran dan penjajahan terhadap wilayah kaum Muslimin tidak semudah penjajahan-penjajahan sebelumnya. Mujahidin mampu berdiri dan menghadapi serangan apapun yang dilancarkan kepada mereka, di mana hal tersebut membuat negara-negara besar enggan untuk terlibat dalam perang melawan Mujahidin.

Dari pemaparan di atas, jelas bahwa perang gerilya adalah perang yang sangat urgen dan berperan besar, terutama jika dibandingkan dengan konsep operasi yang berlaku dalam perang pasukan-pasukan konvensional. Dan konsep perang gerilya adalah untuk memecah superioritas militer, yaitu berupa perang pasukan yang lebih lemah melawan pasukan yang lebih kuat.

Hal ini menuntut para Mujahidin untuk membentuk suatu pasukan khusus atau pasukan elit, untuk menghadapi para penjajah yang mengancam negeri mereka. Pasukan Mujahidin telah menyaksikan perkembangan yang luar biasa dalam pelatihan metode peperangan, yang membawa tingkat pertempuran mereka kepada tingkat pasukan ‘hibrida’, yang sudah kami bahas dalam artikel sebelumnya.

Catatan: Keunggulan Mujahidin dalam peperangan gerilya tentu saja tidak terlepas dari pertolongan dan bantuan dari Allah ﷻ.

Wallahu A’lam bis Shawab

 

Disarikan dari artikel karya Abu Khalid as-Syami, salah seorang komandan militer di Hai’ah Tahrir al-Sham (HTS).

Sumber: Ebaa.news

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *