Taliban Tolak Loya Jirga Karena Memberi Haluan pada Penjajah

Taliban menolak Loya Jirga (Dewan Agung) Afghanistan yang akan datang untuk perundingan damai. Taliban menggambarkan Loya Jirga sebagai alat bagi para penjajah dan anteknya, yang digunakan untuk kepentingan mereka sendiri. Taliban juga menolak untuk berpartisipasi dalam perundingan damai tersebut. Taliban juga menyerukan agar rakyat Afghan memboikot dewan tersebut. Sikap Taliban terhadap Loya Jirga diwakili oleh penolakannya secara konsisten untuk berurusan dengan pemeringah Afghanistan dan masyarakat sipil.

Taliban mengeluarkan dua pernyataan resmi mereka dalam bahasa Inggris melalui situs resmi mereka, Voice of Jihad, mencela kedatangan perdamaian yang akan datang, yang dijadwalkan akan berlangsung pada 29 April, dan akan dihadiri oleh ribuan warga Afghanistan dari seluruh aspek masyarakat.

Pernyataan pertama dirilis pada 9 April, yang berjudul, “Jirga, konsultatif perdamaian atau melanjutkan perang?” Adapun pernyataan kedua dirilis satu hari kemudian berjudul, “Komentar Jubir Imarah Islam terkait Loya Jirga dari pemerintahan Kabul.” Dan ditandatangani oleh Zabihullah Mujahid, juru bicara resmi Taliban.

Kedua pernyataan tersebut mencela pemerintahan Afghanistan yang digambarkan sebagai ‘antek domestik’, ‘rezim boneka’, ‘administrasi Kabul yang kosong’ (menggambarkan bahwa otoritas pemerintah hanya terdapat di ibukota), dan ‘busuknya’ pemerintahan Ghani. Presiden Ashraf Ghani disebut sebagai ‘kepala istana Arg’ atau istana presiden, namun pengaruhnya secara nasional sedikit sekali.

“Jirga Konsultatif Agung yang sangat dangkal, yang akan diselenggarakan oleh pemerintah Kabul kali ini tidak akan berbeda dengan jirga dan resolusi yang disahkan oleh ‘Loya Jirga’ selama tahun-tahun terakhir rezim komunis pada tahun 2013 yang menyetujui perpanjangan penjajahan dan penjualan negara Afghanistan di bawah kata-kata ‘perjanjian keamanan’,” tulis Mujahid.

Pernyataan pada 9 April menggambarkan jirga perdamaian sebagai ‘Pertemuan Konsultatif untuk Melanjutkan Perang.’ Zabihullah menyoroti tema yang sama dalam pernyataannya.

Zabihullah juga megatakan bahwa Imarah Islam Afghanistan adalah perwakilan sah rakyat Afghanistan, dan meminta kepada seluruh rakyat Afghanistan untuk menghindari jirga.

“Imarah Islam -sebagai perwakilan dari negara- menolak jirga-jirga palsu dan partisipasi mereka dalam hal apapun, dan meminta seluruh rekan senegara untuk tidak menjadi korban plot musuh pada suatu titik waktu yang sangat sensitif secara historis, dengan cara tidak mengikuti jirga.” Ungkapnya. Selama dekade terakhir, Taliban berulangkali menegaskan bahwwa mereka adalah perwakilan dari rakyat Afghanistan.

Taliban terus menolak untuk bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan karena menganggap pemerintah Afghanistan adalah alat yang dimanfaatkan oleh Barat. Taliban juga mengatakan bahwa mereka tidak akan mempertimbangkan pembicaraan damai sampai pasukan AS dan NATO mundur dari Afghanistan.

Pemerintah AS di bawah arahan Zalmay Khalilzad, telah mati-matian mendorong negosiasi dengan Taliban. Dalam prosesnya, Khalilzad telah mengesampingkan dan membuat marah pemerintahan Afghanistan. Khalilzad mengklaim bahwa, “Sejauh ini, belum ada kesepahaman tentang kesepakatan atau dokumen apapun.”

Taliban belum mengecam Al Qaeda atau kelompok jihadis lainnya, dan tidak mungkin melakukannya. Hubungan Taliban dengan Al Qaeda sama kuatnya seperti saat ini dalam tiga dekade terakhir, dan Taliban sedang bernegosiasi melalui posisi mereka yang kuat.

 

Sumber:  longwarjournal

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *