Osama Telah Menang Perang di Afghanistan

Menurut catatan resmi pemerintah AS, jenazah Usamah bin Laden telah dikuburkan di perairan Samudra hindia pada pagi hari 2 Mei 2011, oleh kapal induk USS Carl Vinson. Hampir 10 tahun setelah terjadinya 9/11, pemimpin Al Qaeda tersebut sudah tiada, dan seharusnya tidak ada lagi alasan bagi AS untuk meneruskan perang di Afghanistan.

Percepat tujuh tahun kemudian. Pada tanggal 2 September 2018, Jenderal Austin S. Miller mengambil alih pasukan NATO dan AS di Afghanistan. Ia merupakan komandan ke-17 yang mewarisi pasukan militer terpanjang dalam sejarah AS. Miller menggantikan Jenderal John W. Nicholson yang memimpin perang koalisi selam 17 bulan. Setelah kepergiannya, Nicholson berkata, “Sudah saatnya perang di Afghanistan ini berakhir.”

Justru, yang terjadi adalah sebaliknya.

Dipromosikannya Miller menunjukkan bahwa Washington tidak dapat meninggalkan kuburan imperium tersebut dengan cukup baik. Tujuh belas tahun pertumpahan darah dan kekejaman yang tidak diperlukan. Pemborosan keuangan dan korupsi di Afghanistan belum selesai. Pada bulan Juni, Jenderal Miller mengatakan kepada anggota parlemen bahwa tidak ada batas waktu untuk mengakhiri perang, dan situasi di lapangan hanya akan bertambah buruk ketika Taliban terus merebut wilayah mereka.

Baca juga:

Setelah 17 tahun berperang, Afghanistan terus menjadi tempat perang antar suku, dan adanya intervensi AS hanya memperburuk keadaan. Ketika intervensi AS di Afghanistan dimulai, pemerintah AS bersekutu dengan Aliansi Utara, kelompok panglima perang yang memihak Uni Soviet selama perang Afghanistan-Soviet pada 1980-an.

Taliban Pashtun, atau ‘mahasiswa’ muncul pada pertengahan tahun 1990-an sebagai gerakan perlawanan yang sukes melawan panglima perang pro-Soviet. Panglima pro-Soviet tersebut telah menjerumuskan Afghanistan ke dalam kriminalitas dan perang saudara yang berkelanjutan.

Pemerintahan Taliban yang religius dan konservatif tidak korup. Pemerintahan religius mereka dianggap oleh mayoritas warga Afghanistan dapat membawa kedamaian, dibandingkan dengan kekerasan tanpa henti yang dibawa oleh penglima perang dari kedua sisi (Afghanistan dan Uni Soviet) pada tahun 1980-an.

Korupsi di Afghanistan merupakan endemik dan sudah mengakar sejak awal.

Menurut laporan SIGAR pada 2017, “Disesuaikan dengan inflasi, US $ 115 miliar dolar dalam alokasi AS yang disediakan untuk merekonstruksi Afghanistan, melebihi dana yang dialokasikan untuk Marshall Plan, sebuah program bantuan AS yang telah membantu 16 negara di Eropa Barat setelah pulih dari Perang Dunia II pada 1848-1952.” Namun dana ini tidak pernah sampai ke orang-orang yang membutuhkannya. Dalam laporan bulan April 2016, SIGAR menjelaskan bahwa ia tidak dapat memverifikasi apakah  $ 759 juta sumber daya pendidikan menghasilkan satu perbedaan sedikit pun. Alih-alih sampai ke rakyat Afghanistan, dana tersebut malah berakhir di rekening bank pribadi para pejabat korup di Teluk Persia.

Atau bahkan lebih buruk: Terkadang, dana tersebut jatuh ke tangan Taliban, musuh utama militer AS yang secara nyata berusaha untuk mengalahkannya. Karena pemerintah Kabul dan militer AS tidak mengendalikan petak besar dari negara itu, pemerintah AS telah membayar uang perlindungan kepada Taliban untuk memastikan bahwa pasokan yang dibutuhkan sampai ke pasukan di lapangan. Jika rakyat Amerika tahu bahwa uang pajak mereka diberikan kepada musuh, maka hal itu akan mengubah perang menjadi parodi perang itu sendiri.

Apa yang dialami AS di Afghanistan disebut dengan ‘backdraft’ yaitu apa yang terjadi ketika, “Konsekuensi langsung dari kebijakan luar negeri pemerintah yang dinyatakan secara terbuka, meledak tepat di wajah kita semua, yang mana hal tersebut tidak dapat disangkal oleh siapa pun.” Bagi banyak pendukung perang Afghanistan, argument paling masuk akal bagi Washington untuk terus campur tangan adalah supaya mereka membasmi pasukan ‘teroris’ seperti Al Qaeda atau IS. Di mana Afghanistan merupakan tempat yang aman untuk merencanakan dan meluncurkan serangan.

Penjajahan Amerika atas Afghanistan sendiri telah mengilhami beberapa pengeboman sistem kereta bawah tanah New York, dan serangan-serangan lainnya.

Mungkin apa yang paling menyebalkan dari perang Afghanistan adalah bahwa Usamah bin Laden mengenal rakyat AS lebih baik daripada mereke mengenali dir mereka sendiri. Tujuan 9/11 adalah untuk membuat AS menginvasi Afghanistan dan mengurasnya. Pada 2010, dalam sebuah wawancara dengan Rolling Stone, putra Usamah, Umar bin Laden mengatakan hal yang sama. Ia ditanya apakah ayahnya akan menyerang AS lagi, Umar menjawab, “Saya kira tidak. Dia tidak perlu melakukannya. Segera setelah AS pergi menjajah Afghanistan, rencananya berhasil.”

Solusi untuk perang Afghanistan tidak lain adalah, “Sudah waktunya bagi AS untuk pulang.”

Asia Tengah adalah tempat bagi energi dan kekayaan mineral yang sangat beesar. Dan AS, seperti yang biasa mereka lakukan, ingin memastikan bahwa sumber daya tersebut berada di tangan rezim yang ramah terhadap kepentingan mereka, daripada ke Rusia atau Cina. Selama kampanye gelombang bencana Obama, pendukung utamanya, Jenderal David Petraeus mengangkat kekayaan berupa besi, tembaga, kobalt, emas, dan lithium dari Afghanistan, sebagai alasan untuk melanjutkan penjajahan. “Ada potensi (kekayaan alam) yang menakjubkan di sini,” katanya.

Donald Trump sendiri mengecam perang Afghanistan dan mengatakan, “Perang Afghanistan adalah benar-benar kesia-siaan,” cuitnya pada 2012. “Waktunya untuk pulang!” Trump mengerti bahwa tidak ada suatu bangsa (Makedonia, Inggris, atau Soviet) yang daapt mengalahkan orang-orang Afghanistan dan membentuk Afghanistan sesuai keinginan mereka. Pada 2017, Trump menyetujui eskalasi dan mengatakan bahwa, “Insting dasar saya adalah untuk menarik mundur, dan secara historis saya suka mengikuti insting saya.”

Pada akhirnya, Usamah bin Laden telah menjebak AS pada 9/11 dan pemerintah AS telah jatuh ke dalam jebakannya. Hampir dua dekade setelah peristiwa tersebut, pasukan AS terus membunuh ataupun mati secara sia-sia di Afghanistan sambil berusaha untuk menopang rezim Kabul yang korup. Kombinasi beracun yang memastikan bahwa perlawanan Taliban tidak akan pernah berhenti.

Bin Laden telah menang. Dan tidak ada yang mampu mengubah fakta itu, tidak peduli seberapa keras Washington memutar berbagai narasi kontra, atau mempromosikan komandan lain untuk memenangkan perang yang tidak dapat dimenangkan di Afghanistan, kuburan Imperium.

 

Disarikan dari tulisan Matthew Harwood dalam situs fff.org

Sumber: fff.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *