Catatan Merah Sejarah Gereja Notre Dame

Gereja abad pertengahan, Notre Dame, dibangun di atas puing-puing gereja Kristen pertama di Perancis, dan merupakan salah satu gereja tertua di Eropa.

Gereja tersebut berumur lebih dari 850 tahun. Gereja tersebut juga terletak di pusat kota Paris yang bersejarah, dan telah menyaksikan berbagai peristiwa penting selama berabad-abad.

Di ‘Notre Dame’-lah diserukan peluncuran perang salib ketiga:

Setelah terjadinya perang ‘Hittin’ antara pasukan Shalahuddin al-Ayyubi dan Tentara Salib, yang mengakibatkan terjadinya penaklukan Yerusalem oleh Shalahuddin pada tahun 1187, para raja dari Jerman, Inggris, dan Perancis mengumumkan peluncuran perang salib ketiga dari dalam gereja ‘Notre Dame’.

Peluncuran tersebut terjadi pada tahun 1189 untuk mengembalikan wilayah-wilayah mereka yang hilang. Mereka datang dengan tentara bersenjata dan mengepung kota Acre selama berbulan-bulan.

Baca juga:

Setelah rakyatnya menyerah, Tentara Salib memasuki kota tersebut di bawah perintah komandan Inggris, ‘Richard of the Lionheart’. Mereka membantai kaum Muslimin dan memberlakukan aturan pedang terhadap kaum Muslimin. Gustav Le Bon menyebutkan dalam bukunya, “الحضارة العربية” atau “Peradaban Arab”, mengutip dari kisah-kisah para rahib dan ahli sejarah, “Orang-orang kita berkeliaran di jalanan dan rumah-rumah, membantai anak-anak dan pemuda, membelah mereka, bahkan membedah perut orang-orang yang sudah meninggal, sehingga darah mengalir seperti sungai di jalan-jalan kota yang dipenuhi oleh jenazah-jenazah kaum Muslimin. Orang-orang kita dipenuhi dengan pertumpahan darah.”

Gereja ‘Notre Dame’ juga merupakan tempat dilantiknya Napoleon sebagai seorang kaisar (Emperor).

Dengan dideklarasikannya Perancis sebagai kekaisaran di sebagian besar benua Eropa, gereja Notre Dame memberikan mahkota kepada Napoleon Bonaparte dan mengangkatnya sebagai kaisar Perancis, di mana ia berusaha memperluas pengaruh kerajaan barunya dan mengarahkan pasukannya ke Timur.

Kampanye Perancis melawan Mesir merupakan sebuah kejadian di mana pasukan penjajah Perancis memasuki Al-Azhar dan menjadikannya sebagai kandang kuda mereka. Itu adalah pertama kalinya dalam sejarah, Al-Azhar dihinakan; buku-bukunya dirampas, dan ratusan naskah-naskah kuno yang berusia ratusan tahun dihancurkan.

Sejarawan Mesir, Abdul Rahman al-Jabarti dalam kitabnya, “مظهر التقديس بزوال دولة الفرنسيين” atau “Munculnya pengkudusan dengan runtuhnya negara Perancis”, menyebutkan, “Perancis membebani rakyat Mesir yang sengsara dengan pajak tinggi, mengusir penghuni rumah dari rumahnya sendiri untuk kemudian ditangkap, menginjak-injak al-Qur’an dengan kaki mereka, dan membantai lebih dari 2500 orang Mesir.”

Baru-baru ini, api melahap sebagian besar gereja Notre Dame:

Kebakaran terjadi di atap gereja Notre Dame pada hari Senin dan berlanjut hingga Selasa. Ketika petugas pemadam kebakaran dapat memadamkannya, api telah membakar bagian atas gereja. Menara dan atap gereja runtuh, sedangkan isi gereja rusak parah.

Orang-orang Arab / kaum Muslimin menyatakan simpati mereka dan melupakan sejarah kesucian Islam.

Sebuah sumber resmi di kementrian luar negeri Saudi mengatakan pada hari Rabu, bahwa kerajaan Saudi menyatakan solidaritas mereka dengan rakyat Perancis dan negara Perancis setelah kebakaran gereja Notre Dame terjadi. Mereka mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada kedutaan Maroko di Paris, “Atas instruksi dari Raja Maroko, Mohammed VI, Maroko memutuskan untuk memberikan kontribusi finansial untuk membangun kembali gereja tersebut.”

Sebaliknnya, banyak tempat suci umat Islam, seperti Masjid al-Aqsha, yang sedang digali dan dilubangi oleh Zionis, mengakibatkan keruntuhan tembok Masjid. Adapun serangan di halamannya, terjadi hampir setiap hari. Ada juga Masjid-Masjid di Suriah yang dibom oleh pesawat terbang dan bahan peledak, terjadi dalam keheningan pemerintah Arab, tanpa ada simpati atau dukungan. Tanpa ada solidaritas.

 

Sumber:   Ebaa

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *