Melemahkan Sistem Komunikasi dan Informasi Jihadis

Amerika Serikat dan Negara-negara sekutunya di Barat telah memerangi gerakan Salafi-Jihadi selama lebih dari seperempat abad. Perang ini sebagian besar telah dilakukan di medan perang fisik – dari pegunungan Afghanistan hingga lingkungan perkotaan di Eropa. Sejak serangan 11 September, AS dan sekutunya telah secara agresif menargetkan al-Qaeda, dan kemudian Islamic State, melalui berbagai cara. Di antaranya adalah serangan drone tak berujung yang telah merenggut para pemimpin kelompok perlawanan, dan sanksi agresif telah menutup sumber pendanaan.

Namun, kontraterorisme pada intinya adalah masalah informasi. Tujuan dari kelompok-kelompok jihadis adalah mengirim pesan-pesan politik kepada pendukung, calon pendukung, dan lawan. Serangan yang mereka lakukan bertujuan untuk menciptakan dan meningkatkan persepsi kekuatan operasional dan moral organisasi-organisasi ini terhadap lawan yang lebih kuat. Dengan demikian, AS dan sekutunya harus membingkai ulang bagaimana mereka melakukan kontraterorisme, lebih fokus pada memerangi penyampaian informasi dari kelompok-kelompok jihad.

Baca juga:

Strategi kontraterorisme yang berpusat pada informasi harus fokus pada komunikasi, komando, dan kontrol dalam jaringan jihadis. Gerakan jihadis hari ini telah lama memanfaatkan teknologi komunikasi tradisional dan modern untuk memberikan komando dan kontrol. Dari penggunaan email oleh al-Qaeda untuk mengoordinasikan operasi, hingga penggunaan aplikasi pesan Telegram oleh IS untuk mendistribusikan propaganda, kelompok-kelompok jihad mengandalkan komunikasi sebagaimana organisasi lain.

Jihadis di masa lalu telah bergeser dari hierarki yang khas struktur ke jaringan sel ketika pemimpin mereka mati. Dua model pengelolaan organisasi tersebut memerlukan komunikasi antara pangkal. Mengganggu komunikasi, perintah, dan kontrol sangat penting untuk menghambat perkembangan kelompok-kelompok tersebut, sehingga membatasi kemampuan mereka untuk merencanakan dan mengkoordinasikan serangan skala besar.

Operasi kinetik atau mematikan, seperti serangan yang ditargetkan atau penahanan pemimpin atau sel terkait, dapat mengganggu aliran informasi dalam kelompok ini. Selain itu, opsi non-kinetik, seperti cyberwarfare, dapat menonaktifkan infrastruktur komunikasi organisasi teroris, dan secara lebih lanjut dapat mengurangi kemampuan mereka untuk mengoordinasikan serangan.

Baca juga:

Tujuan kedua dari strategi ini adalah untuk menurunkan jangkauan dan propaganda jihad. Al-Qaeda selalu berusaha menyebarkan pesannya dan menggunakan serangannya untuk mempromosikan keberadaan dan misi kelompok mereka. IS juga berusaha untuk mempromosikan kegiatan kekerasan dan legitimasi politik dan kekhalifahannya untuk membangun basis dukungan internasional.

IS menggunakan peralatan media canggih untuk menyebarluaskan pesan-pesannya – memproduksi video yang sangat halus, seperti kualitas film Hollywood, untuk mengglorifikasikan operasi militer dan hukuman ala “abad pertengahan” karena perilaku “tidak Islami”.

Menurunkan kemampuan penyebaran informasi dari kelompok-kelompok ini melalui penghancuran (seperti AS dan koalisi sekutunya) dilakukan dengan memusnahkan sel-sel mereka di seluruh Suriah dan Irak dan penghapusan akun dan konten (seperti yang dilakukan perusahaan media sosial dengan menghapus ratusan ribu akun yang mempromosikan propaganda jihad. Hal tersebut dapat mengurangi kemampuan mereka untuk menjangkau audiens yang lebih besar dan merekrut anggota baru.

Bagian ketiga, dan yang paling sulit, dari strategi kontraterorisme yang berpusat pada informasi adalah delegitimasi narasi jihadis. Salafi-jihadisme dibangun di atas narasi ideologis bahwa umat Islam telah meninggalkan “Islam sejati,” sebuah aliansi anti-Muslim telah berusaha untuk menindas dunia Muslim, dan kemenangan dapat dicapai melalui pertempuran atas nama “Islam sejati.”

Al Qaeda sangat peka terhadap kritik dan persepsi negatif tentang kegiatannya, yaitu bahwa para pejuangnya adalah pembela Islam. Pada pertengahan 2000-an, hal ini menyebabkan al-Qaeda menegur pemimpin al-Qaeda di Irak, Abu Musab al-Zarqawi, atas pembunuhannya terhadap Muslim, karena dampak hubungan masyarakat yang berpotensi negatif, tindakan ini akan berdampak pada kelompok tersebut.

Baca juga:

Saat ISIS (sebelum menjadi IS) memperoleh wilayah di Suriah dan Irak, mereka menekankan narasi penaklukan sebagai pembenaran bahwa penaklukan mereka adalah benar. Propaganda IS mengklaim bahwa kekhalifahan mereka mewakili tempat di mana umat Islam dapat mengikuti “Islam sejati.”

AS dan sekutunya harus mengeksploitasi kemungkinan hipokritisme dari tindakan dan klaim IS, untuk melemahkan narasi jihad salafi-jihad. Secara terselubung, opini agama alternatif dan kritis dapat digemakan di lingkungan informasi yang rentan terhadap pesan-pesan kelompok ini. Lebih jelasnya, “kehancuran” yang ditimbulkan oleh Al-Qaeda dan IS terhadap umat Islam dapat dimanfaatkan untuk melemahkan klaim Salafi-jihadi dalam memperjuangkan “Islam sejati.”

Terakhir, kebanggaan IS tentang penaklukan teritorialnya dapat digunakan untuk melawannya, karena sekarang kekhalifahan kelompok tersebut telah hancur. Dengan menyandingkan posisi strategis kelompok tersebut yang saat ini memburuk dengan klaim kemenangan sebelumnya yang penuh percaya diri, upaya counter-message dapat mengikis daya tarik kelompok tersebut bagi calon pendukungnya. Pada akhirnya, narasi yang digunakan oleh kelompok-kelompok ini untuk melegitimasi tindakan mereka sering kali memiliki kerentanan signifikan yang dapat dieksploitasi oleh negara-negara kuat.

Pada akhirnya, Salafi-jihadis tidak dapat dikalahkan hanya dengan kekuatan saja. Sifat ideologis gerakan tersebut membutuhkan fokus yang diperluas pada dimensi informasinya. Dengan menekankan pentingnya informasi dalam perang melawan jihadis, Barat dapat secara lebih efektif melemahkan kemampuan kelompok mereka untuk berkomunikasi secara internal, melakukan perencanaan, menyebarkan ideologi mereka, dan melegitimasi tindakan mereka.

 

Sumber:  georgetownsecuritystudiesreview

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *