Demontrasi Sudan Terus Berlanjut Hingga Pemerintahan Sipil Terbentuk

Pemimpin sementara Sudan mengatakan bahwa dewan militer transisi yang telah memerintah negara itu sejak penggulingan pemimpin lama Omar al-Bashir berkomitmen menyerahkan kekuasaan kepada otoritas sipil.

Menanggapi hal itu, para pemimpin oposisi mengatakan pada Ahad bahwa mereka menunda pembicaraan dengan para penguasa militer karena mereka tidak percaya pernyataan tersebut.

“Dewan militer transisi adalah pelengkap bagi pemberontakan dan revolusi. Dewan itu berkomitmen untuk menyerahkan kekuasaan kepada rakyat,” kata Letnan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan kepada televisi pemerintah, Minggu.

“Kami sama sekali tidak rakus ingin tetap berkuasa lebih dari waktu yang kami sepakati dengan partai-partai oposisi. Kami sedang menunggu oposisi mengajukan proposal mereka.”

Baca juga:

Namun para pemimpin oposisi kemudian mengatakan kepada para pendukungnya di sebuah demonstrasi besar di ibukota Khartoum bahwa militer telah gagal memenuhi tuntutan mereka dan negosiasi akan diganti dengan demonstrasi lebih lanjut.

“Dewan militer masih belum serius menyerahkan kekuasaan kepada warga sipil. Dewan militer merupakan bagian dari  rezim lama,” kata Mohamed al-Amin Abdulaziz, juru bicara Asosiasi Profesional Sudan (SPA).

“Kami akan melanjutkan protes kami dan kami akan meningkatkan protes kami. Kami akan memboikot pembicaraan dengan dewan militer,” katanya.

Al-Burhan juga mengatakan Khartoum akan mengirim delegasi ke Washington guna menghapus Sudan dari daftar “negara sponsor terorisme” AS.

“Amerika Serikat meminta kami mengirim delegasi untuk membicarakan penghapusan Sudan dari daftar negara sponsor terorisme,” katanya. “Delegasi ini telah dibentuk dan akan melakukan perjalanan ke Amerika Serikat minggu ini atau minggu depan.”

Terlalu Banyak Waktu

Sementara itu, ribuan pengunjuk rasa berkumpul di luar markas militer di ibukota Khartoum Ahad malam. Mereka bersumpah untuk terus mengadakan unjuk rasa sampai pemerintah sipil terbentuk.

“Saya senang dewan militer mengatakan mereka akan menyerahkan kekuasaan,” Amru Ahmed al-Dayib, 41, seorang teknisi perusahaan minyak, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Kami ingin mereka menyerahkan kepada orang-orang yang independen. Saya pikir Burhan jujur. Tetapi saya akan melanjutkan protes sampai itu terjadi.”

Baca juga:

Tafaul Awad, 25, seorang asisten pengajar di Universitas Khartoum, menyatakan keraguannya atas janji militer.

“Saya tidak mempercayai Burhan. Kami ingin kekuasaan diserahkan sepenuhnya kepada warga sipil, tetapi Burhan mengambil terlalu banyak waktu. Semua indikasi adalah dia memiliki niat lain. Saya tidak berpikir militer tertarik untuk menyerahkan kekuasaan kepada warga sipil.”

Demonstrasi yang melibatkan 40 juta orang di negara Afrika timur laut itu  dimulai pada Desember setelah Khartoum menaikkan harga roti.

Demonstran kemudian mulai meminta al-Bashir dan pemerintahnya untuk minggir.

Militer memindahkan al-Bashir – yang telah berada di kantor selama tiga dekade – dari kekuasaan pada 11 April.

Dewan militer telah membuat beberapa kelonggaran bagi para pemrotes, termasuk pemindahan tiga jaksa penuntut umum tingkat tinggi negara itu, dan penunjukan kepala intelijen baru.

Penyelenggara protes dan partai politik juga diundang oleh tentara untuk memutuskan perdana menteri sipil. Tetapi militer mengatakan akan tetap memegang kendali atas kementerian dalam negeri dan pertahanan.

 

Sumber:  aljazeera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *