Terlambat, Malaysia tak Bisa Lepas dari Jeratan China

Malaysia sudah terperangkap oleh jebakan Tiongkok dan tidak ada jalan keluar darinya. Upaya terbaik yang bisa dilakukan Malaysia adalah membawa Beijing ke meja perundingan dan menawar rumusan lebih baik untuk proyek yang sedang berjalan.

Di hari-hari awal pasca pemilu, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengirim pesan kuat ke Beijing tentang keinginan dan tekadnya untuk mengendalikan nasib Malaysia dengan membatalkan proyek-proyek China yang terkenal di negara itu. (Baca artikel terkait: OBOR, Cara China Menguasai Dunia)

Rupanya, dia ingin Malaysia menghindari perangkap utang China, yang telah membuat negara lain tidak punya pilihan selain menyerahkan kendali ‘proyek hutang budi’ kepada Beijing.

Masih di awal hari-hari pasca pemilu, perdana menteri tertua di dunia itu juga menasihati Presiden Filipina Rodrigo Duterte untuk menghindari “perangkap utang” China.

Namun pesan itu tak berangsung lama, perlawanan Mahathir terhadap China tidak selama yang dibayangkan di awal. Dan sekarang yang terbaik yang bisa dicapai Malaysia adalah membawa Beijing kembali ke meja perundingan untuk memangkas biaya proyek investasi yang ditugaskan kepada kontraktor China.

Baca juga:

Pekan lalu, China sepakat untuk memotong biaya proyek East Coast Rail Link hingga sepertiga. Minggu ini, kedua negara telah sepakat untuk menghidupkan kembali proyek Bandar Malaysia dengan kontraktor asli – perusahaan patungan antara perusahaan Malaysia Iskandar Waterfront Holdings dan China Railway Engineering Corp (CREC) – dengan beberapa modifikasi. Seperti pembangunan 10.000 unit rumah yang terjangkau, dan penggunaan sumber-sumber lokal.

Baca juga:

Apa yang membuat Malaysia melembutkan nada garangnya kepada Cina? Beberapa hal, menurut saya. Salah satunya adalah banyaknya biaya siluman untuk proyek yang sedang berjalan; dan akan sulit untuk menemukan sumber pembiayaan alternatif untuk melanjutkannya.

Investasi Asing di Malaysia

Saham Malaysia dan China

Selain itu juga ketergantungan Malaysia pada China untuk masalah ekspor. Tahun lalu, China adalah pasar ekspor terbesar untuk Malaysia ($ 42,5 miliar), diikuti oleh Singapura (35,7 miliar), dan AS ($ 33,1 miliar); dan itu memberi Beijing pengaruh besar terhadap perilaku “irasional” apa pun Malaysia. Malaysia seperti tidak rasional lagi dalam menentukan kebijakan negaranya.

Baca juga:

Secara kebetulan, ekspor Malaysia turun secara tak terduga belakangan ini, turun 5,3% setiap tahun ke MYR 66,6 miliar pada Februari 2019, setelah 3,1% pada Januari dan kehilangan konsensus pasar sebesar 1,4%, menurut Tradingeconomics.com.

Penjualan turun untuk produk berbasis minyak kelapa sawit & minyak sawit (-13,4% menjadi MYR 4,7 miliar); produk minyak sulingan (-30,9% menjadi MYR 3,6 miliar); minyak mentah (-21,8% menjadi MYR 1,9 miliar); kayu & produk berbasis kayu (-1,7% menjadi MYR 1,4 miliar) dan karet alam (-23,1% hingga MYR 0,2 miliar).

Sementara itu, keputusan Mahathir untuk menghidupkan kembali Iskandar Waterfront Holdings dan China Railway Engineering Corp (CREC) datang beberapa jam setelah ia mengawasi penandatanganan perjanjian pertukaran mata uang dan rencana untuk meningkatkan impor durian dan minyak kelapa sawit beku Malaysia.

 

Sumber:  forbes

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *