Basis Merah dan Islam Garis Keras Dalam Lintasan Sejarah Nusantara

Para penjajah menyebut orang Islam yang melawan penjajah adalah Islam (muslim) garis keras. Jika dikatakan bahwa di daerah yang di sana muslim melawan penjajahan dengan senjata dan jihad disebut sebagai muslim garis keras, Islam garis keras atau radikal, maka hampir semua daerah atau wilayah di Indonesia ini adalah wilayah Islam garis keras.

 

Semua ummat Islam di kepulauan yang sekarang disebut Indonesia atau Nusantara selalu melawan Kezaliman. Sejarah telah mencatat bahwa umat Islam di kepulauan ini selalu terdepan dalam melawan setiap ketidak adilan, kezaliman dan penjajahan. Tidak ada bedanya antara muslim di Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan atau pulau-pulau lainnya. Semuanya mempunyai satu visi dalam melawan penjajahan di masa lalu.

Kalau ada dikotomi bahwa di satu wilayah adalah muslim perlawanan dan di wilayah lain adalah muslim yang tidak melawan itu merupakan hasil dari pembelokan sejarah yang berhasil dilakukan oleh para penjajah.

Hampir semua perlawanan terhadap penjajah Barat di kepulauan nusantara ini selalu diinspirasi oleh narasi, doktrin atau ajaran Islam dan dipimpin oleh para pemimpin muslim. Maka penjajah Belanda (yang paling lama menjajah kepulauan ini) sampai pada kesimpulan, bahwa inti dari perlawanan terhadap penjajah adalah umat Islam yang diinspirasi oleh ajaran Islam.

Oleh karena itu penjajah berusaha untuk mengurangi perlawanan terhadap penjajah atau melemahkan perjuangan muslim dengan segala cara. Diantara cara yang mereka tempuh adalah dengan pendidikan sekuler ala Eropa (Barat) dan berusaha menyembunyikan atau membelokkan sejarah di kepulauan Nusantara.

Baca juga:

Dengan dua cara di atas mereka menciptakan para cendikiawan muslim yang asing dengan ajaran agamanya sendiri (Islam) dan asing dengan sejarah pendahulunya. Sebaliknya lebih fasih dengan narasi-narasi sekuler dan sejarah Barat yang dengan pemahaman tersebut mereka seringkali menolak atau berusaha membelokkan makna (menafsirkan ulang) ajaran Islam yang tidak sesuai dengan sistem nilai peradaban Barat atau tidak menguntungkan kepentingan penjajah Barat.

Para pemimpin Islam yang melawan selalu dijuluki dengan julukan-julukan negatif seperti, ekstrimis, radikal, penjahat, pemberontak atau terroris. Sebuah upaya penjajah untuk memburukkan citra pejuang Islam di masyarakat sehingga perjuangan mereka tidak dicontoh oleh rakyat muslim.

Fakta menganai upaya-upaya penjajah Belanda untuk mengubur sejarah dan membunuh karakter para pejuang Islam dengan julukan-julukan negatif tersebut diungkapkan serta dilawan oleh ‘Bapak pendiri bangsa’ Indonesia, Mohammad Hatta. Di negeri Belanda pada tahun 1928, Mohammad Hatta menyampaikan pidato dengan tema “Free Indonesia.”

BAca juga:

Dalam pidatonya, Hatta mengkritik kebijakan Pemerintah penjajah Belanda yang memaksa rakyat pribumi untuk mempelajari legenda heroik William Tell, Giuseppe Mazzini, Giuseppe Garibaldi, William orange, dan lain-lain namun meremehkan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang menentang Penjajahan Eropa :

“So too must Indonesian youth parrot its masters and call its own heroes, like Diponegoro, Toeankoe Imam, Tengkoe Oemar and many others, rebels, insurgents, scoundrels, and so on”

    “Pemuda Indonesia dipaksa menjuluki pahlawan sendiri, seperti Diponegoro, Toeankoe Imam, Tengku Oemar dan banyak lainnya, sebagai pemberontak, pengacau, penjahat, teroris dan sebagainya”.

Dalam terjemahan buku Muhammad Hatta yang terbit tahun 1972 kata scoundrels diterjemahkan sebagai ‘teroris’.

Muslim yang melawan penjajah dengan senjata sering dijuluki sebagai muslim garis keras, atau Islam garis keras, padahal realitanya para penjajah bisa diusir dari negeri ini dengan jihad, perlawanan bersenjata. Di Jawa misalnya, Belanda dipusingkan dengan perang Sabilnya Pangeran Diponegoro yang menguras tenaga dan keuangan penjajah Belanda saat itu.

Diponegoro berjuang untuk membebaskan masyarakat Jawa dari belenggu penjajah dan mendirikan balad Islam (pemerintahan Islam) di tanah Jawa. Di Jakarta ada Fatahillah yang berhasil mengusir penjajah portugis dengan semangat jihad fi sabilillah. Dialah yang menamai kota yang sekarang menjadi ibukota Indonesia, dengan Jayakarta setelah berhasil mengalahkan armada angkatan laut Portugis dengan bantuan para wali dari Demak.

Muslim yang melawan penjajah dengan senjata sering dijuluki sebagai muslim garis keras, atau Islam garis keras, padahal realitanya para penjajah bisa diusir dari negeri ini dengan jihad, perlawanan bersenjata. Di Jawa misalnya, Belanda dipusingkan dengan perang Sabilnya Pangeran Diponegoro yang menguras tenaga dan keuangan penjajah Belanda saat itu.

Di Sumatera juga ada banyak pahlawan Islam yang berjuang mengusir penjajah dan menegakkan sistem Islam yang telah dirusak oleh penjajah. Imam Bonjol di Sumatera Barat berjuang untuk tegaknya sistem pemerintahan Islam atas muslim di ranah minang.

Demikian juga di Aceh yang kaya dengan para pahlawan Islam yang berjuang melawan Belanda dengan semangat membara mengobarkan perlawanan perang sabil yang menggoncangkan kerajaan Belanda dan hampir membuat penjajah Bangkrut. Bahkan perang Aceh menjadi perang terpanjang dalam sejarah penjajah Belanda.

Baca juga:

Di Ternate ada Sultan Baabullah, pahlawan muslim yang gagah berani melawan dan mengusir penjajah Portugis dari Ternate. Di Sulawesi juga ada Sultan Hasanudin yang gigih melawan kezaliman penjajah Belanda. Di Kalimantan ada Pangeran Antasari, seorang pemimpin muslim yang gigih melawan kelaliman penjajah dengan semangat jihad. Dan masih banyak lagi pahlawan Islam di seluruh kepulauan ini yang berjuang mengusir penjajah dengan spirit Islam. Tidak ada bedanya antara yang di Jawa maupun di luar Jawa, antara yang di Indonesia Timur dan Barat. (Baca artikel terkait: Sultan Baabullah, Pejuang Islam Pengusir Penjajah Portugis di Maluku)

Jika dikatakan bahwa di daerah yang di sana muslim melawan penjajahan dengan senjata dan jihad disebut sebagai muslim garis keras, Islam garis keras atau radikal, maka hampir semua daerah atau wilayah di Indonesia ini adalah wilayah Islam garis keras.

Antara Wilayah Basis Merah Dan Basis Islam Garis Keras

Bahkan di wilayah-wilayah atau daerah-daerah yang sekarang banyak disebut orang sebagai wilayah basis merah pun kalau kita runut sejarah, dulunya adalah daerah basis Islam yang disebut sebagai Islam garis keras tersebut. Dan hal itu baru berubah selama beberapa dekade terakhir di sekitar awal masa kemerdekaan Indoonesia, dimana Sarikat Islam (SI) menjadi satu-satunya organisasi muslim dengan jumlah anggota dan pendukung terbanyak saat itu.

Saat di masa kemundurannya sekalipun, SI masih menjadi organisasi pergerakan yang mempunyai pendukung paling banyak dibanding organisasi-organisasi lainnya. Cakupan wilayah kerjanya juga lebih nasional. Sebelumnya partai ini memang dianggap satu-satunya partai bagi semua orang Islam baik kaum pembaharu maupun tradisional, dan gambaran seperti itu tidak mudah hilang.

Saat itu hanya Islam yang dapat menawarkan hubungan organisasional potensial antara para pemimpin kota yang berpendidikan dan masyarakat pedesaan.

Baca juga:

Pada tahun 1913 H.J.F.M. Sneevleit (1883-1942) tiba di Hindia Belanda. Dia memulai karirnya sebagai seorang penganut Katolik tetapi kemudian beralih ke ide-ide sosial demokratis yang revolusioner dan aktivis Serikat Dagang. Pada tahun 1914 dia mendirikan Indische Sosia-Democratische Vereniging (ISDV: Perserikatan Demokrat Hindia) di Surabaya, partai kecil yang berhaluan kiri ini dengan cepat menjadi Partai Komunis pertama di Asia yang berada di luar Unisoviet.

Organisasi ISDV kesulitan mendapatkan anggota dan massa pendukung. Oleh karena itulah, ISDV mulai melirik SI, satu-satunya organisasi yang memiliki jumlah pengikut terbesar di kalangan rakyat Indonesia saat itu. Hampir di setiap daerah di Jawa ada perwakilan SI, bahkan banyak juga perwakilan di luar Jawa.

Organisasi Komunis ini berusaha memainkan peranan memimpin di dalam pergerakan rakyat dan berusaha untuk mempengaruhi organisasi-organisasi lain, terutama organisasi yang punya massa yang besar seperti SI (Sarekat Islam). Mereka memperoleh sambutan di SI Semarang yang saat itu dipimpin oleh Semaun.

Baca juga:

Kondisi tersebut sudah barang tentu menimbulkan krisis dalam tubuh SI, dan pertentangan timbul antara pendukung paham Islam dan paham Marx. Debat yang seru terjadi antara H.A. Agus Salim-Abdul Muis di satu pihak dengan Semaun-Tan Malaka di lain pihak.

Organisasi Komunis ini berusaha memainkan peranan memimpin di dalam pergerakan rakyat dan berusaha untuk mempengaruhi organisasi-organisasi lain, terutama organisasi yang punya massa yang besar seperti SI (Sarekat Islam). Mereka memperoleh sambutan di SI Semarang yang saat itu dipimpin oleh Semaun.

Kongres di Surabaya 1921, yang diadakan ketika Tjokroaminoto masih di dalam tahanan, mendukung pendapat yang anti Komunis dengan perbandingan 23 lawan 7 suara. Dengan demikian orang-orang komunis bisa dikeluarkan dari partai. Perwakilan SI dari daerah Semarang, Solo, Salatiga, Sukabumi dan Bandung lebih condong pada Komunis, menentang Salim-Muis yang anti komunis.

Dari sinilah awal mula daerah-daerah yang awalnya adalah daerah SI (yang mereprentasikan Islam) menjadi daerah basis merah. Bahkan Solo yang menjadi tempat pendirian Sarikat Islam yang dulunya bernama SDI (Serikat Dagang Islam), para pemimpin SI berhasil dipengaruhi dan digalang, sehingga lambat laun menjadi salah satu basis merah di Jawa.

Baca juga:

Islam yang menginspirasi para pejuang di Jawa sama dengan Islam yang menginspirasi para pejuang di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan kepulauan lainnya di Nusantara ini. Dan tidak ada bedanya Islam yang menginspirasi para pahlawan dan para pejuang dulu dengan Islam yang ada sekarang. Islam tetap Islam tidak berubah sejak ditunkan oleh Allah pada Nabi Muhammad di kota Mekah sampai hari kiamat. Yang berubah adalah muslim, pemeluk islam dalam mengamalkan agamanya bukan Islamnya.

Jadi kalau dikatakan di daerah yang pernah terjadi perjuangan melawan penjajah, melawan kezaliman dan ketidak adilan dengan semangat jihad dikatakan sebagai Islam garis keras, maka hampir semua daerah di Indonesia ‘dulunya’ berdasarkan fakta sejarah adalah daerah atau wilayah Islam garis keras. Wallahu a’lam

 

Referensi:

Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900 -1942. LP3ES Jakarta 1985

Jeffrey Hadler, A Historiography of Violence and the Secular State in xIndonesia: Tuanku Imam Bondjol and the Uses of History, The Journal of Asian Studies Vol. 67, No. 3 (August) 2008

M.Djoenoed Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia III. PN Balai Pustaka Jakarta 1984.

M.Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia V.  PN Balai Pustaka Jakarta 2008.

M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Serambi Ilmu Semesta Jakarta, Cetakan III: September 2007.

M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia 1200-2004. London: MacMillan1991

M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia since c. 1200, Fourth Edition, Palgrave Macmillan 2008

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *