Merebut Kembali Ramadhan dari Pembajakan Kapitalisme

RAMADHAN: BULAN ANTI IMPERIALISME

Ramadhan telah tiba. Di bulan ini, umat Islam berpuasa, memperbanyak membaca Al-Qur’an, dan ibadah lainnya.

Namun, di abad ini, spirit Ramadhan berubah haluan di beberapa wilayah negeri Islam. Komersialisme memanfaatkan potensi keuangan yang ada di bulan ini. Ramadhan telah menjadi bulan makan-makan, peningkatan belanja, dan pesta!

Ramadhan telah menjadi acara budaya dan sosial, dan para kapitalis memainkan realitas itu. Mereka memanfaatkan potensi pengeluaran umat Islam dengan segenap program yang terbidik.

Toko-toko buka sampai malam, bahkan sampai subuh ketika umat Islam memulai puasa kembali. Promosi belanja ditawarkan dengan iming-iming menggiurkan. Hotel dan restoran menawarkan paket dan program spesial. Operator seluler berusaha memberi tawaran dengan menyentuh sisi emosional. Ramadhan menjadi sebuah event komersial terbesar.

Baca juga:

Dan yang paling kentara, televisi menyambutnya dengan segenap acara sepanjang bulan. Ramadhan pun bak sebuah festival. Suasana kemeriahan yang justru memalingkan dari spirit utama Ramadhan.

Terjadi sebuah paradoks besar. Di bulan yang umat Islam diminta untuk banyak menahan diri, dari lapar, dahaga, dan amarah, justru menjadi bulan dengan pengeluaran terbesar, penuh dengan pesta dan makan-makan. Ramadan justru semakin melekat dengan ritual-ritual sekuler. Demikian kesimpulan dari Walter Armbrust, profesor dari University of  Oxford, saat melakukan penelitian terhadap tren Ramadan di negeri Islam.

Jangan sampai Ramadhan kita seperti Natal bagi orang-orang Nasrani, yang sudah berhasil dikomersilkan sedemikian rupa oleh kaum kapitalis sekuler. Hanya menjadi semacam festival dan perayaan berbiaya mahal.

Pesan terbesar yang bisa kita ambil dari fenomena ini adalah bahwa kita, sebagai sebuah komunitas umat Islam, harus berhati-hati untuk tidak menjadi komoditas, menjadi target kampanye iklan produk-produk komersil Ramadhan.

 

Ramadhan yang Terbajak

Ada kekuatan yang lebih dalam dan merusak yang berperan di sini: asimilasi kita ke dalam struktur kapitalis. Perusahaan-perusahaan sekarang menempel label “halal” pada daging, keuangan, pakaian, dan banyak lagi, untuk menarik pasar umat Islam.

Produk dan layanan yang disajikan untuk konsumsi umat Islam adalah hasil dari sistem riba, yang eksploitatif, tidak manusiawi, dan tidak Islami yang sama yang selama ini kita cela. Pakaian kita berasal dari tenaga kerja yang dieksploitasi di pabrik-pabrik pakaian, makanan kita dari industri dan pabrik kimia yang mencemari lingkungan kita, dan keuangan kita dari sistem perbankan global yang menipu dan berbasis bunga.

Baca juga:

Dalam suatu sistem yang merayakan hal-hal tersebut sebagai tanda kemajuan dan perbaikan manusia, mungkin sulit untuk mengenali subversi mendalam yang sedang dimainkan. Liberalisme merongrong esensi filosofis dan moral dari kebiasaan kita, menghasilkan bentuk tanpa makna. Dibuat untuk membuat kita hidup dalam “kurungan besi”. Kita dibiarkan berjalan dengan susah payah tanpa makna sampai kita akhirnya memberontak terhadap mereka karena memasung kemerdekaan kita, ditinggalkan dalam hidup tanpa tujuan.

Begitulah peran liberalisme dalam merongrong esensi Ramadhan melalui taktik pemasaran murah dan filosofi materialistis.

Ramadan juga melawan hiper-konsumerisme dan kerakusan hari ini. Di tengah komersialisasi dan materialisme yang tak tertandingi, Ramadhan berfungsi sebagai pengingat kehidupan yang tidak terikat oleh kapitalisme, kehidupan yang tidak membutuhkan konsumsi konstan untuk meraih kepuasan. Selama bulan Ramadhan, nafsu kita untuk mengkonsumsi lebih diredam oleh perintah Ilahi dan teladan Nabi. Untuk fokus pada makanan spiritual dibanding rasa lapar dan dahaga fisik.

Baca juga:

Sayangnya, banyak yang telah melupakan pesan ini dalam apa yang semakin menjadi ciri buka puasa: kerakusan dan kemewahan yang tak terkendali. Perusahaan-perusahaan besar memasarkan produk mereka kepada umat Islam, tahu bahwa investasi mereka akan menghasilkan keuntungan besar, dengan iklan bertema Ramadhan yang berpura-pura merayakan keberagaman, sambil memicu budaya hidup berlebihan.

Negara-negara mayoritas Muslim memiliki beberapa kesenjangan sosial dan ekonomi terbesar di muka bumi: tingkat obesitas di Kuwait atau Arab Saudi dibandingkan dengan tingkat kelaparan di Somalia atau Yaman menegaskan peran yang kita semua mainkan dalam memperburuk penderitaan ini melalui gaya hidup berlebihan yang mungkin kita lakukan.

Antara Manusia Islam dan Manusia Modern

Kehidupan modern telah melucuti setiap elemen metafisik, digantikan oleh masyarakat yang birokratis dan dirasionalisasi. Mereka melakukan desakralisasi; apa yang dulu berfungsi sebagai simbol kultural dan ritual spiritualitas telah dilucuti dari esensi spiritualnya.

Ramadhan adalah penolakan langsung terhadap upaya desakralisasi ini.

Dunia modern telah berpisah dengan ribuan tahun pengalaman manusia, karena secara tidak wajar berupaya untuk menekuk kehendak kita dalam penyerahan diri kepada satu hari penuh kerja yang ditandai oleh jarum jam. Keberadaan kita tidak ditakdirkan untuk menyerah pada materialisme, dan Ramadhan mengingatkan kita akan tujuan besar hidup kita.

Namun demikian, sebagai ciptaan yang mudah lalai dan teralihkan, kita sering meninggalkan pelajaran Ramadhan dan kembali ke cara lama kita dalam perayaan Idul Fitri. Skizofrenia ini, menurut pemikir Aljazair Malek Bennabi, berpindah-pindah antara dunia Islam dan dunia modernitas. Bennabi menjelaskan bagaimana ketika manusia modern memasuki masjid, dia membawa dirinya sendiri di bawah kedaulatan Allah dan mengadopsi tata cara agama, namun ketika dia meninggalkan masjid, dia dengan cepat kembali ke manusia modern: tidak tahu sopan santun, tunduk pada ciptaan, dan tidak bisa dibedakan dari orang-orang kafir dalam kebiasaannya.

Baca juga:

Godaan untuk menyerah, yang difasilitasi oleh kemudahan mengadopsi cara-cara modern dan cara-cara yang sesuai dengan kehidupan modern, harus dilawan jika kita ingin menjadi umat Islam yang benar-benar hidup sesuai dengan cita-cita kita sendiri, bukan seseorang yang hanya menggunakan lapisan warna-warni budaya untuk menutupi asimilasi ke dalam skema kapitalis.

 

Merebut Kembali Ramadhan dari Materialisme

Kita berada dalam bahaya kehilangan esensi Ramadhan. Banyak kewajiban moral agama kita terpecah-pecah dan terlupakan, bergeser menuju materialisme. Proses kehancuran moral di Barat mengancam umat Islam di mana-mana, menghadapi erosi terus-menerus oleh paradigma kehidupan Barat yang hegemonik, semakin kehilangan pelindung yang ditawarkan paradigma Islam.

Ramadhan adalah penolakan terhadap apa yang dipaksakan dunia modern terhadap manusia: kerakusan, hiper-konsumerisme, mekanisasi waktu, dan obsesi untuk melakukan kontrol atas kehidupan kita.

Ramadhan adalah waktu bagi kita untuk mengarahkan kembali diri kepada Allah, mendefinisikan kembali hubungan kita dengan waktu, masyarakat, dan alam.

Untuk memperoleh kembali spiritualitas sebagai benteng melawan tuntutan materalistik ini, kita harus mengembalikan filosofi hidup holistik yang ditawarkan Islam. Kita harus berupaya untuk menjadikan Islam sebagai pusat kehidupan sehari-hari kita. Menjadikan Ramadhan lebih dari sekadar event tahunan. Jika kita setia pada esensi dari Ramadhan, tatanan kosmologis ini akan menentang sistem kapitalis yang menghancurkan spirit manusia. Hanya dengan begitu kita dapat mengklaim sebagai Muslim: tunduk sepenuhnya kepada Allah dan din-Nya, di atas segalanya.

 

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *