Belajar dari Pejuang Gaza: Kemenangan Lahir dari Penderitaan!

“Dari rahim penderitaan, lahirlah harapan.” Ungkapan yang tepat dalam menggambarkan keteguhan Gaza setelah dijajah pada tahun 2014. Penjajahan tersebut telah menimbulkan berbagai pengepungan, penghancuran struktur, dan perampasan kekuasaan oleh para musuh.

Satu setengah juta orang, kebanyakan wanita dan anak-anak, menemui ajal mereka di sana. Namun, apakah kematian hanya ada di Gaza? Bersamaan dengan bom-bom, gugurlah para wanita dan anak-anak. Laa haula wa laa quwwata illa billah (Tidak ada daya dan upaya melainkan hanya dari Allah).

Lalu di manakah Gaza hari ini? Gaza pernah menang perang, sehingga Israel keluar dari peperangan di Palestina. Sedangkan Israel sendiri dibersamai oleh orang-orang Arab yang berkolusi dengan mereka, orang-orang Arab yang telah menjual hati Nurani mereka. Di manakah partisipasi kita terhadap para penduduk Gaza?

Baca juga:

Penjajahan tersebut tidak lain hanyalah cara untuk memerangi umat Islam, di mana para penjajah tersebut tidak akan pernah ridho terhadap umat Islam.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (Q.S. Al-Baqarah: 120).

حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), (Q.S. Al-Baqarah: 217).

Para penduduk yang terkepung di Gaza dan sekitarnya adalah orang-orang Mukmin yang memeluk agama Islam dengan benar. Mereka menjadi contoh bagi umat Islam pada umumnya dalam hal kesabaran dan ketabahan mereka di atas kebenaran. Keraguan tidak pernah datang ke dalam hati mereka, bahkan mereka bangkit sebagai wakil dari umat Islam yang lalai terhadap perlawanan para penjajah yang ingin me-Yahudi-kan al-Quds. Media-media yang mengatasnamakan media umat adalah media yang menari-nari dan bernyanyi-nyanyi, sedangkan umat Islam sendiri mengalami berbagai luka. Bahkan, media-media yang mengaku sebagai ‘media Islam’, malah menisbatkan kata ‘teroris’ kepada umat Islam itu sendiri.

Padahal umat Islam melakukan perlawanan karena menolak penjajahan dan tirani. Mulai dari anak-anak batu, panah, hingga membuat senjata. Mereka sesungguhnya telah digambarkan dalam sebuah ungkapan dari raja Cina terhadap Kisra yang menolak risalah dari Khalid bin Walid, “Wahai Kisra, tidak ada kekutan milikku yang sanggup melawan kaum yang jika mereka ingin meratakan gunung, mereka akan meratakannya (karena kuatnya tekad mereka).”

Maka para penjajah dan berbagai bentuk senjatanya akan berakhir di hadapan tekad ini. Mereka mundur setelah berperang selama berminggu-minggu, dan mereka tidak mendapati selain korban jiwa dan korban tertawan dari pasukan mereka. Jiwa Khalid hidup di dalam jiwa kaum Muslimin di Gaza. Mereka telah menjual dunia mereka demi perkara akhirat mereka. Merekalah orang-orang yang dikenal sebagai Yahya Ayyash, Syaikh Yasin, Ar-Rantisi, dan sebagainya. Sejarah tidak akan melupakan para Syuhada’ tersebut yang telah melukis panji kemerdekaan dengan darah mereka. Mereka telah melukiskan kebenaran agar melindungi al-Quds menjadi tujuan kita dan jalan hidup kita.

Gaza adalah kota yang keilmuannya tinggi, terlepas dari perang yang sedang terjadi. Karena para penduduknya mengetahui pentingnya suatu ilmu, dan mereka meyakini bahwa tidak ada kemuliaan dalam hidup tanpa adanya ilmu yang mampu membangkitkan umat Islam.

Meskipun umat Islam sedang mengalami rasa sakit di berbagai negara, seperti Gaza, Aleppo, dan sebagainya, tetapi kemenangan itu pasti datang dengan izin Allah. Dan janji Allah adalah benar (kita harus menekankan hal ini di jiwa-jiwa umat Islam). Bencana-bencana yang menimpa umat Islam telah menciptakan peluang bagi persatuan umat untuk melawan penjajahan, seperti yang dikatakan oleh Sultan Muhammad al-Fatih, “Seperti hanya ada satu matahari di langit, di bumi seharusnya hanya ada satu Daulah dan satu Agama yang berkuasa.” Kita umat Islam tidak akan pernah mati. Umat yang menolak untuk punah. Umat yang memperbaiki, bukan merusak. Umat yang menghidupkan negeri-negeri dengan agama Islam. Kemuliaan hanyalah milik Allah, Rasulullah, dan kaum Mukminin.

 

 

Sumber:   Tipyan

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *