Sekuler: Ideologi yang Memperbudak Perempuan

Perdana Menteri Perancis -dan sebagian besar orang di Barat- menganggap bahwa penutup (jilbab) bagi perempuan dianggap sebagai ‘teori perbudakan’. Istilah ini sering digunakan oleh para sarjana di negara muslim. Setiap undang-undang Islam atau prinsip akhlak dalam Islam (terkhusus bagi para perempuan) selalu dilihat melalui sudut pandang teori ‘perbudakan!

Karena subjek yang dibicarakan oleh Perdana Menteri tersebut berkaitan erat dengan ‘bikini’, ada baiknya kita membahas sepatah kata tentang sejarah bikini.

 Sejarah Bikini

Sebelum tersebarnya bikini, perempuan-perempuan di Eropa mengenakan pakaian lengkap ketika mereka mengunjungi pantai. Mereka tidak menunjukkan rambutnya maupun tangannya. Memang, mereka terkadang mengenakan pakaian olahraga, itupun yang panjang. Bahkan hukum di Australia pun melarang warganya untuk mengenakan pakaian yang menampilkan lekuk tubuh saat berenang.

Sampai seorang desainer Perancis datang pada tahun 1946 dan merancang ‘bikini’ dengan desain yang mencolok (sama sekali tidak ada bedanya dengan pakaian dalam). Bahkan para model fashion tidak mau mengenakan pakain tersebut karena rasa malu. Maka, perancang Perancis tersebut mencari para ‘pelacur’ yang bekerja di kelab-kelab malam, agar bikini rancangannya dapat diterima untuk dipakai dan kemudian dipasarkan.

Baca juga:

Miss America pada tahun 1948 berkata, “Saya tidak dapat menerima jika para perempuan Amerika mengenakan bikini. Perempuan Perancis dapat mengenakannya jika mereka mau, tetapi saya menolaknya untuk dikenakan oleh para perempuan di negeri saya.”

Beberapa negara di Eropa, terutama yang beragama Katolik, seperti Italia, Portugal, dan Spanyol, mengeluarkan larangan bikini pada tahun 1940-an. Pada tahun 1950-an, bikini bahkan tidak berhasil menembus pasar Amerika Serikat.

Alasan perancang tersebut menamai pakaiannya dengan ‘bikini’ adalah didasarkan pada keyakinannya bahwa bikini akan memicu reaksi keras di dunia, seperti penolakan yang pernah terjadi pada tes nuklir yang diadakan di pulau ‘Bikini’.

Penyebarannya

Bikini kemudian mulai menyebar melalui para selebriti yang mengenakannya dalam film-film dan serial-serial. Kemudian bikini menyebar secara global sebagai bentuk peperangan kaum Sekuler terhadap agama dan akhlak.

Jadi, ‘bikini’ dianggap sebagai pakaian pelacur hingga tahun 1946. Bahkan yang mengenakannya pun tidak berani mengenakan secara terang-terangan.

Akan tetapi, dengan kekuatan dan tersebarnya Sekulerisme, ‘bikini’ berubah menjadi simbol kebebasan dan peradaban! Pakaian (bikini) menjadi standar yang menentukan apakah perempuan di suatu negeri dianggap merdeka atau tidak!

Maka, hal ini sangat aneh mengingat bikini sendiri melambangkan perbudakan dan pelacuran perempuan. Bikini itu sendiri bertentangan dengan keragaman dan kebebasan. Bahkan banyak negara yang awalnya melarang bentuk ketelanjangan seperti binatang, dan menghukum para perempuan yang mengenakan bikini!

Hawa nafsu tidak memiliki batas. Hal ini telah menjadi kasus, bahkan beberapa mahasiswa di sebuah universitas di Amerika melakukan demonstrasi karena keberatan dengan aturan untuk menutupi dada mereka, sampai mereka menuntut adanya pantai telanjang!

Gaya Tarik Pemikiran Sekuler

Inilah tujuan sebenarnya dari pemikiran Sekuler, yaitu mereka ingin menegakkan pemikiran Sekuler, duniawi, dan modern (tanpa ada agama) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Secular-Urban Earthly.

Mereka ingin menjadikan kedaulatan manusia yang menentukan definisi halal-haram dan benar-salah. Bukan manusia pada umumnya, tetapi sekelompok manusia yang mengikuti hawa nafsunya, menodai kesuciannya, membenci akhlak mulia, dan menghina agama.

Dari sini dapat kita simpulkan kafirnya pemikiran Sekuler, begitu pula para penyeru terhadap ajaran Sekuler itu sendiri. Karena mereka pada hakekatnya menyembah setan yang menghiasi hawa nafsu mereka. Setan juga menghiasi perbuatan-perbuatan mereka, dan menampakkan kesesatan sebagai kebenaran, maupun sebaliknya.

Baca juga:

Pemikiran Sekuler tidak hanya ingin memperbudak para perempuan, tetapi mereka juga ingin memperbudak seluruh manusia, dan menjadikannya berada di bagian bawah jurang terdalam yang lebih hina daripada hewan.

Pemikiran Sekuler mengubah perempuan menjadi komoditas perdagangan, baik dalam pelacuran maupun pemasaran melalui eksploitasi tubuh perempuan, atau dipajang melalui estalase toko-toko.

Pemikiran Sekuler mengubah laki-laki menjadi budak dari hawa nafsunya, dan menjadikan perempuan hanya sekadar komoditas atau mesin untuk memuaskan kebutuhan laki-laki. Mereka juga menyebarkan lingkaran seks di seluruh penjuru dunia.

Pemikiran seperti inilah yang menghancurkan keluarga di Barat. Sehingga orang-orang di Barat mencari kenyamanan dalam berkeluarga dan ketenangan jiwa. Mereka tidak dapat menemukan kenyamanan dan ketenangan kecuali hanya akan menemukan kegilaan seksual. Pada dasarnya, pemikiran ini adalah pemikiran atheistitk yang ditujukan untuk menurunkan akhlak manusia, dan menjadikan manusia budak terhadap dunia.

 

Baca halaman selanjutnya: Ketelanjangan, Jalan Menuju Pornografi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *