Idlib dan Nikmat Kemerdekaan

Idlib dan Nikmat Kemerdekaan

Sudah bukan rahasia lagi bahwa revolusi Arab yang bangkit merupakan bentuk pembelaan terhadap agama, kemuliaan, dan kesejahteraan hidup. Revolusi tersebut disebabkan oleh berbagai jenis penindasan dan kezaliman yang terjadi, di samping makar internal dan kekerasan eksternal yang ingin memadamkan revoulsi tersebut.

Revolusi tersebut menjadi peristiwa yang bisa kita saksikan, mulai dari Mesir, Yaman, Tunisia, Maroko, dan Insya Allah revolusi rakyat Syam akan terus berlangsung meskipun mereka berada dalam pengepungan, pengkhianatan, dan penawanan.

Setelah adanya aliansi penjahat dari para penjajah Rusia dan dukungan dari milisi Iran di Suriah, mereka berpartisipasi dalam sebagian besar pertempuran di Aleppo, Damaskus, serta tepi pantai. Di mana pertempuran tersebut menekan revolusi di utara, khususnya di Idlib dan pedesaannya, di Hama, di Aleppo, Lattakia, dan sekitarnya. Para penjajah mengakibatkan kezaliman yang tidak dapat diuraikan dalam tulisan. Akan tetapi kezaliman tersebut akan mampu dikalahkan dengan kesabaran, keteguhan, dan ketabahan yang tak tertandingi.

Baca juga:

Setelah itu, era revolusi dan Jihad bergulir di daerah-daerah tertentu. Tidak seperti hari-hari awal, ketika semangat revolusi menyebar di wilayah yang sangat luas (diperkirakan sekitar 80 % dari total wilayah Suriah).

Setelah berbagai pertempuran yang dihadapi oleh faksi-faksi jihad, para penduduk dan para pemuda di lingkungan yang ada bersatu melawan gerombolan kriminal di bawah pimpinan Bashar al-Assad. Hal itu terjadi sebelum tersebarnya virus khawarij dan sebelum datang bantuan-bantuan ‘bersyarat’ yang mengubah skala dan karakter revolusi yang terjadi.

Akan tetapi, revolusi dan para pelopornya (terlepas dari kedua fitnah di atas) tetap berjalan di atas tekad baja dan ketabahan yang kokoh.

Hari ini Idlib merupakan menara revolusi dan ibukota yang agung. Di mana Idlib menampung lebih dari 5 juta orang, dan memberikan kebebasan dan martabat yang tidak akan didapatkan pada negara-negara tiran dan penindas.

Terlepas dari upaya para tiran untuk membatasi ekonomi di Idlib, memberikan peluang kepada para media untuk mendistorsi berita, dan menggunakan pendekatan militer dan politik, Idlib dan para penduduknya sedang berjalan menuju jalan yang mulia. Insya Allah.

Semua konspirasi dan konferensi yang terjadi untuk melawan revolusi yang mulia ini (mulai dari mencari alasan untuk melakukan invasi militer, upaya untuk melakukan ‘rekonsiliasi’, hingga mengeksploitasi ulama’ dan orang-orang lemah), telah gagal dengan izin Allah ﷻ, melalui tekad para pejuang dan kewaspadaan para masyarakat.

Kesempatan ini, yang sedang dilalui oleh medan jihad Syam, merupakan kilasan ketenangan, meskipun banyak kecacatan dan kedustaan yang terjadi. Ini adalah kesempatan berharga untuk menggenapkan diri kita dan beramal untuk pengembangan dan konstruksi, agar mampu mewujudkan entitas Sunni yang mampu mempertahankan harga diri dan melindungi agama. Entitas yang mampu memenuhi tuntutan revolusi dan mampu memenuhi ikatan-ikatan dalam agama.

Belajar dari Sunnah Rasulullah ﷺ, bahwa mengakhirkan pertempuran dan konfrontasi untuk mendapatkan lebih banyak pengalaman dan persiapan psikologis, merupakan hal yang seyogyanya disadari dan dipelajari oleh setiap kaum Muslimin.

Barangsiapa yang menentang Sunnah karena bertentangan dengan nalar dan logika, maka ia telah menyeret dirinya dan kawan-kawannya ke dalam kebinasaan. Karena Sunnah tidak memihak siapapun, yang berusaha akan berhasil, yang menanam akan memanen, dan barangsiapa yang tergesa-gesa sebelum waktunya, ia tidak akan mendapatkannya.

Inilah nikmat kemerdekaan, sebuah negeri luas yang di dalamnya rakyatnya menyembah Allah ﷻ dengan merdeka dan bermartabat. Sebuah negeri yang di dalamnya norma-norma agama dan rasa malu ditinggikan. Sebuah negeri yang di dalamnya dibentuk generasi-generasi Qur’ani. Inilah sebuah nikmat yang harus kita syukuri, harus kita puji, dan harus kita jaga dari tanda-tanda kerusakan dan akhlak yang buruk.

Kita harus bersegera untuk melindunginya serta mempertahankannya di hadapan para penjajah. Inilah peperangan yang akan memobilisasi seluruh umat Islam untuk menjaga entitas ini dan menopangnya, sehingga ia akan menjadi bangunan milik umat Islam di tengah-tengah maraknya proyek ‘Westernisasi’ dan ‘Sekularisasi’ yang diluncurkan terhadap umat Islam. Mereka membodohkan anak-anak kita dan membatasi orangtua-orangtua kita. Mereka menjadikan umat Islam kehilangan identitas, martabat, dan harga dirinya. Mereka juga menjadikan umat Islam sebagai umat yang mengikuti, bukan umat yang diikuti, padahal dahulu umat Islam adalah pusat peradaban.

Cukuplah ujian-ujian dahsyat yang dialami oleh umat Islam. Cukuplah kepedihan dan cobaan yang dialami oleh umat Ini. Bukankah umat ini memiliki para lelaki tangguh?!

 

Disarikan dari tulisan Yasin Toha, seorang penulis dan pengamat urusan Suriah.

Sumber: Ebaa.news

 

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *