Terungkap, Bukti China Robohkan Masjid-Masjid di Xinjiang

Masjid Keriya Aitika pada November 2018. Gerbang dan kubahnya telah dipindahkan. Satu dari beberapa perusakan masjid di Xinjiang, China. (Foto: Planet Labs)

 

Penyelidikan yang dilakukan oleh media Inggris The Guardian dan Bellingcat menemukan upaya penghancuran masjid di China, tepatnya di provinsi Xinjiang yang mayoritas Muslim. Tak hanya masjid, pemerintah komunis China juga menghancurkan situs-situs suci Muslim Uighur, yang menjadi bukti bagaimana China berupaya melakukan genosida budaya minoritas ini.

Oleh: Lily Kuo (The Guardian)

Di musim ini, tepi gurun Taklamakan di China barat jauh biasanya dipenuhi orang. Selama beberapa dekade, setiap musim semi, ribuan Muslim Uighur akan berkumpul di tempat suci Imam Asim, sekelompok bangunan dan pagar di sekitar pemakaman lumpur kecil yang diyakini berisi sisa-sisa seorang pejuang suci dari abad ke delapan.

Peziarah dari seberang oasis Hotan biasanya datang mencari penyembuhan, kesuburan, dan pengampunan, berjalan melalui pasir mengikuti jejak orang-orang di depan mereka. Itu adalah salah satu festival suci Muslim Uighur terbesar di wilayah ini. Peziarah meninggalkan persembahan dan mengikatkan kain ke ranting-ranting, penanda doa mereka. Mengunjungi tempat suci ini tiga kali, diyakini, sama baiknya dengan menyelesaikan ibadah haji, sebuah perjalanan yang tidak mampu dilakukan oleh banyak orang di Xinjiang selatan yang terbelakang.

Tapi tahun ini, tempat suci Imam Asim kosong. Masjidnya, khaniqah, tempat untuk ritual sufi, dan bangunan lainnya telah diruntuhkan, hanya tinggal makam. Persembahan dan bendera telah menghilang. Peziarah tidak lagi berkunjung.

Baca juga:

Ini adalah salah satu dari lebih dari puluhan situs agama Islam yang sebagian atau seluruhnya telah dihancurkan di Xinjiang sejak tahun 2016, menurut sebuah penyelidikan oleh Guardian dan situs jurnalisme sumber terbuka Bellingcat yang menawarkan bukti baru tentang penghancuran masjid berskala besar oleh China di wilayah di mana kelompok-kelompok hak asasi mengatakan minoritas Muslim mengalami penindasan.

Dengan menggunakan citra satelit, analis sumber terbuka Guardian dan Bellingcat, Nick Waters, memeriksa lokasi 100 masjid dan tempat suci yang diidentifikasi oleh mantan penghuni, peneliti, dan alat pemetaan.

Dari 91 situs yang dianalisis, 31 masjid dan dua tempat suci utama, termasuk kompleks Imam Asim dan situs lainnya, mengalami kerusakan struktural yang signifikan antara tahun 2016 dan 2018.

Dari jumlah tersebut, 15 masjid dan kedua tempat suci tampaknya telah sepenuhnya atau hampir sepenuhnya dihancurkan. Gudang, kubah, dan menara masjid juga diruntuhkan.

Sembilan lokasi lebih lanjut diidentifikasi oleh mantan penduduk Xinjiang sebagai masjid, tetapi bangunan yang tidak memiliki indikator masjid yang jelas seperti menara atau kubah, juga tampaknya telah dihancurkan.

Baca juga:

Dengan dalih memunsnahkan ekstremisme agama, China telah mengawasi kampanye intensif pengawasan dan pemolisian massal minoritas Muslim―banyak dari mereka adalah orang-orang Uighur, sekelompok warga berbahasa Turki yang memiliki lebih banyak kesamaan dengan warga negara Asia Tengah daripada sesama warga China lainnya yang merupakan keturunan China Han. Para peneliti mengatakan sebanyak 1,5 juta warga Uighur dan Muslim lainnya telah secara tak sengaja dikirim ke kamp pengasingan atau pendidikan ulang, klaim yang China bantah.

Para pegiat dan peneliti percaya pihak berwenang telah melibas ratusan, bahkan ribuan masjid sebagai bagian dari kampanye itu. Tetapi kurangnya catatan dari situs-situs ini―banyak di antaranya adalah masjid dan tempat suci desa kecil―mempersulit jurnalis yang melakukan perjalanan secara independen di Xinjiang, dan pengawasan yang meluas terhadap warga juga mempersulit konfirmasi laporan kehancuran situs-situs tersebut.

Lokasi yang ditemukan oleh Guardian dan Bellingcat menguatkan laporan sebelumnya dan juga menandakan peningkatan baru dalam pengekangan keamanan saat ini: penghancuran tempat suci. Walaupun ditutup tahun lalu, tempat suci-tempat suci besar yang belum pernah dilaporkan sebelumnya dihancurkan. Para peneliti mengatakan penghancuran tempat-tempat suci yang dulunya merupakan tempat ziarah massal―praktik utama bagi Muslim Uighur―merupakan bentuk baru serangan terhadap budaya mereka.

Komposit tiga arah tempat suci Jafari Sadiq. (Foto: Planet Labs)

“Gambar-gambar Imam Asim di reruntuhan cukup mengejutkan. Untuk jemaah yang lebih rajin, pemandangan reruntuhan itu akan memilukan,” kata Rian Thum, seorang sejarawan Islam di Universitas Nottingham.

Sebelum pemusnahan itu, para peziarah juga berjalan 70 kilometer ke padang pasir untuk mencapai tempat suci Jafari Sadiq, untuk menghormati Jafari Sadiq, seorang pejuang suci yang jiwanya diyakini telah melakukan perjalanan ke Xinjiang untuk membantu membawa Islam ke wilayah tersebut.

Makam itu, di sebuah tebing di padang pasir, tampaknya telah dirobohkan pada bulan Maret 2018. Bangunan-bangunan untuk menampung para peziarah di sebuah kompleks yang berdekatan juga hilang, menurut citra satelit yang ditangkap bulan ini.

Sebelum dan sesudah gambar tempat suci Jafari Sadiq. 10 Des 2013 dan 20 April 2019. (Foto: Google Earth/Planet Labs)

“Tidak ada yang bisa mengatakan lebih jelas kepada orang Uighur bahwa negara China ingin memusnahkan budaya mereka dan memutuskan hubungan mereka dengan makam leluhur mereka dan tempat suci yang menjadi tonggak sejarah Uighur,” kata Thum.

 

KETIKA MEREKA TUMBUH DEWASA, ISLAM AKAN MENJADI ASING BAGI MEREKA

 Masjid Kargilik, di pusat kota tua Kargilik di Xinjiang selatan, adalah masjid terbesar di daerah itu. Orang-orang dari berbagai desa berkumpul di sana setiap minggu. Masjid itu memiliki menara yang tinggi, jalan masuk yang mengesankan, dan taman yang dipenuhi dengan bunga dan beberapa pohon.

Masjid itu, yang sebelumnya diidentifikasi oleh aktivis online Shawn Zhang, tampaknya hampir sepenuhnya dihancurkan di beberapa titik pada tahun 2018, dengan pintu gerbangnya dan bangunan lainnya dihancurkan, menurut gambar satelit yang dianalisis oleh Guardian dan Bellingcat.

Tiga warga setempat, staf di restoran terdekat dan sebuah hotel, mengatakan kepada Guardian bahwa masjid itu telah diruntuhkan dalam setengah tahun terakhir. “Masjid itu hilang. Masjid terbesar di Kargilik,” kata seorang pekerja restoran.

Masjid besar lainnya, masjid Yutian Aitika dekat Hotan, tampaknya telah dihancurkan pada bulan Maret tahun lalu. Sebagai masjid yang terbesar di distriknya, penduduk setempat biasanya berkumpul di sini saat festival-festival Islam. Masjid itu telah dibangun sejak tahun 1200.

Baca juga:

Meskipun masuk ke dalam daftar situs sejarah dan budaya nasional, pos jaga dan bangunan lainnya telah diruntuhkan pada akhir 2018, menurut gambar satelit yang dianalisis oleh Zhang dan dikonfirmasi oleh Waters. Bangunan yang dihancurkan itu kemungkinan adalah bangunan yang telah direnovasi pada tahun 1990-an.

Dua warga setempat yang bekerja di dekat masjid, pemilik hotel, dan karyawan restoran, mengatakan kepada Guardian bahwa masjid itu telah diruntuhkan. Seorang penduduk mengatakan dia mendengar masjid akan dibangun kembali tetapi lebih kecil, untuk membuka ruang bagi toko-toko baru.

“Banyak masjid yang hilang. Di masa lalu, di setiap desa seperti di daerah Yutian memiliki masjid,” kata seorang pemilik restoran China Han di Yutian, yang memperkirakan sebanyak 80 persen masjid telah diruntuhkan.

“Sebelumnya, masjid adalah tempat bagi umat Islam untuk berdoa, mengadakan pertemuan. Dalam beberapa tahun terakhir, semua kegiatan itu dibatalkan. Bukan hanya di Yutian, tapi seluruh area Hotan,” katanya.

BAca juga:

Aktivis mengatakan penghancuran situs-situs bersejarah ini adalah cara untuk mengasimilasi generasi Uighur berikutnya. Menurut mantan penduduk, sebagian besar warga Uighur di Xinjiang sudah tidak lagi pergi ke masjid, yang sering dilengkapi dengan sistem pengawasan. Kebanyakan mengharuskan pengunjung untuk mendaftarkan ID mereka. Festival massal di tempat suci seperti yang diselenggarakan di Imam Asim telah dihentikan selama bertahun-tahun.

Menghapus bangunan, kata para kritikus, akan menyebabkan anak-anak dan generasi Uighur berikutnya yang tumbuh di China kesulitan untuk mengingat latar belakang mereka yang khas.

“Jika generasi saat ini ditahan dan warisan budaya yang mengingatkan mereka tentang asal mereka dihancurkan … ketika mereka tumbuh dewasa, ini akan menjadi asing bagi mereka,” kata seorang mantan warga Hotan, merujuk pada sejumlah orang Uighur yang diyakini ditahan di kamp-kamp, ​​banyak dari mereka dipisahkan dari keluarga mereka selama berbulan-bulan, kadang-kadang bertahun-tahun.

“Masjid yang dihancurkan adalah salah satu dari beberapa hal yang dapat kita lihat secara fisik. Hal-hal lain apa yang terjadi namun ditutup-tutupi dan tidak kita ketahui? Itu yang menakutkan,” katanya.

 

SINOFIKASI ISLAM

China membantah tuduhan bahwa mereka menargetkan minoritas Muslim, membatasi praktik agama dan budaya mereka, atau mengirim mereka ke kamp pendidikan ulang. Menanggapi pertanyaan tentang masjid yang dihancurkan, juru bicara kementerian luar negeri Geng Shuang mengatakan dia “tidak mengetahui situasi yang disebutkan”.

“China mempraktikkan kebebasan beragama dan dengan tegas menentang dan memerangi pemikiran ekstremis agama… Ada lebih dari 20 juta Muslim dan lebih dari 35.000 masjid di China. Sebagian besar orang dapat dengan bebas melakukan kegiatan keagamaan sesuai dengan hukum,” katanya dalam pernyataan melalui faks kepada Guardian.

Sebuah masjid yang dihancurkan di kota tua Kashgar, wilayah otonomi Xinjiang Uighur, China. (Foto: Getty Images/Corbis/Art in All of Us/Eric Lafforgue)

Tetapi China terbuka tentang tujuannya untuk “sinofikasi” agama seperti Islam dan Kristen agar lebih sesuai dengan “kondisi nasional” China. Pada bulan Januari, China mengesahkan rencana lima tahun untuk “membimbing Islam agar kompatibel dengan sosialisme”. Dalam pidato pada akhir Maret, sekretaris partai Chen Quanguo yang telah memimpin penindakan keras sejak tahun 2016 mengatakan pemerintah di Xinjiang harus “meningkatkan kondisi tempat-tempat keagamaan untuk membimbing” agama dan sosialisme untuk beradaptasi satu sama lain”.

Menghancurkan bangunan atau fitur Islam adalah salah satu cara untuk melakukan itu, menurut para peneliti.

“Arsitektur Islam Xinjiang, yang terkait erat dengan gaya India dan Asia Tengah, memperlihatkan kepada publik hubungan kawasan itu dengan dunia Islam yang lebih luas,” kata David Brophy, seorang sejarawan Xinjiang di Universitas Sydney. “Menghancurkan arsitektur ini berfungsi untuk memperlancar jalan bagi upaya untuk membentuk Islam Uighur ‘yang baru didominasikan’.”

Baca juga:

Para ahli mengatakan menghancurkan situs-situs keagamaan menandai kembalinya praktik-praktik ekstrem yang tidak terlihat sejak Revolusi Kebudayaan ketika masjid-masjid dan tempat-tempat suci dibakar, atau pada tahun 1950-an ketika tempat-tempat suci diubah menjadi museum sebagai cara untuk menghapusnya.

Saat ini, para pejabat menggambarkan setiap perubahan pada masjid-masjid sebagai upaya untuk “merenovasi” bangunan tersebut. Di Xinjiang, berbagai kebijakan untuk merenovasi masjid termasuk menambah listrik, jalan, radio, televisi, “toko buku budaya,” dan toilet. Lainnya termasuk melengkapi masjid dengan komputer, unit pendingin udara, dan loker.

“Itu adalah kode untuk memungkinkan mereka menghancurkan tempat-tempat yang mereka anggap menghalangi atau tidak aman, untuk secara progresif dan terus-menerus berusaha memberantas banyak tempat ibadah bagi kaum Uighur dan minoritas Muslim,” kata James Leibold, seorang profesor di Universitas La Trobe yang berfokus pada hubungan etnis.

Para kritikus mengatakan pihak berwenang berusaha untuk menghapus sejarah tempat suci. Rahile Dawut, seorang akademisi Uighur terkemuka yang mendokumentasikan tempat-tempat suci di Xinjiang, menghilang pada tahun 2017. Rekan dan kerabatnya percaya dia telah ditahan karena pekerjaannya dalam melestarikan tradisi Uighur.

Dawut mengatakan dalam sebuah wawancara pada tahun 2012: “Jika seseorang menghapus … tempat-tempat suci ini, orang-orang Uighur akan kehilangan kontaknya dengan bumi. Mereka tidak lagi memiliki sejarah pribadi, budaya, dan spiritual. Setelah beberapa tahun kami tidak akan memiliki ingatan tentang mengapa kami tinggal di sini.”

 

 

Sumber:   theguardian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *