Dihajar Mujahidin di Hama, Nushairiyah Rotasi Pasukan

Taktik Rotasi Pasukan: Bukti Mental Pasukan Rezim Suriah Telah Hancur

Musuh utama para Mujahidin Suriah, yaitu Syi’ah Nushairiyah telah mengumumkan terbentuknya sejumlah ‘pasukan penyerang’ baru setelah Mujahidin berhasil memukul mundur dan menewaskan puluhan prajurit mereka dalam beberapa operasi yang penuh berkah di pedesaan sekitar Hama.

Oleh karena itu, kami menunjukkan kepada para pembaca bahwa apa yang dilakukan oleh pasukan penjajah Rusia dan pasukan rezim kriminal hanyalah sebuah proses pemindahan pasukan mereka yang sudah hancur dan kalah dari pedesaan di kota Hama menuju darah yang lebih dingin. Mereka kemudian menggantinya dengan pasukan milisi baru atau ‘rekonsiliasi’ yang tidak akan bertahan lama, dan akan kalah seperti para pendahulu mereka.

Operasi militer seperti ini disebut dengan ‘rotasi pasukan’.

Baca juga:

Taktik ini ditemukan oleh Jenderal Perancis yang bernama Henri Philippe Pétain. Ia menggunakan taktik ini ketika pasukannya mengalami kerusakan dan kekalahan besar seperti; mati, luka-luka, kurangnya kemajuan yang didapat di lapangan, atau hancurnya mental psikologis para pasukan.

Dalam hal ini, ada beberapa elemen dari segi psikologis yang dapat menjadi penyebab kekalahan, bukan hanya dari segi kekuatan militer saja. Di antaranya adalah mental pasukan yang takut atau putus asa.

Alih-alih menangani kekurangan ini yang terdapat dalam kelompoknya yang tengah merasa ‘takut dan putus asa’, pemimpinnya menggantikan pasukannya dengan pasukan baru yang masih kuat mental dan psikologisnya.

Sang pemimpin tidak menggabungkan dua kelompok tersebut, padahal sekilas jika digabung kekuatan pasukan akan bertambah dan mengalami penguatan. Tujuan dari tidak dicampurnya pasukan yang lama dengan pasukan yang baru adalah agar pasukan yang baru tidak terkena rasa takut dan putus asa yang telah dialami oleh pasukan yang lama. Supaya pasukan yang lama tidak menceritakan kisah-kisah pertempuran yang dipenuhi oleh darah dan kisah-kisah yang mengerikan. Dengan demikian, pasukan yang baru datang akan dipenuhi rasa takut juga.

Baca juga:

Sang pemimpin memindahkan pasukannya ke wilayah lain agar pasukan tersebut mampu membuat kemajuan atau mengembalikan semangat juangnya, sehingga sang pemimpin mampu menggunakan pasukannya lagi dengan pasikologi yang sudah lebih baik dan mampu menghadapi pertempuran.

Solusi terbaik jika musuh menggunakan taktik ini adalah dengan mengembangkan sistem pertahanan dan memastikan bahwa tidak ada wilayah yang jatuh ke tangan pasukan penyerang yang baru, karena mental pasukan baru ini juga akan runtuh bersamaan dengan runtuhnya stimulus yang diberikan oleh pemimpin mereka. Pasukan baru tersebut juga akan merasakan ketakutan dan keputusasaan yang telah dialami kawan-kawan mereka sebelumnya.

Dalam kasus ini, rezim krirminal Nushairiyah mengetahui bahwa pasukannya adalah tentara bayaran yang berperang demi uang. Mereka merasa takut pasukannya akan mengkhianati mereka. sehingga mereka tidak meninggalkan pasukan mereka untuk menjaga satu titik wilayah tertentu selama masa pengabdian, karena itu akan menyebabkan mereka dapat direkrut oleh Mujahidin atau lalai dalam menjaga. Sehingga para pemimpin memindahkan mereka dari satu titik ke titik-titik lainnya secara terus-menerus agar mereka tidak mengetahui wilayah baru yang mereka tempati.

Dengan demikian, para musuh berusaha untuk meningkatkan kewaspadaan pasukannya dan menghilangkan kemungkinan direkrut oleh musuh.

Baca juga:

Pasukan Nushairiyah dan penjajah Rusia ingin memenangkan pertempuran dengan media yang mereka miliki. Ketika pasukan baru datang untuk menyerang (dan mereka adalah pasukan elit), maka mereka akan meningkatkan dan merevitalisasi semangat sisa pasukan mereka yang telah runtuh.

Ketahuilah bahwa musuh kita merasa goyah, dan kami siap untuk menyerang mereka lagi. Pasukan mereka hanyalah tentara bayaran yang sudah bersiap untuk melarikan diri pada tembakan pertama. Kami akan meningkatkan serangan kami dan menghancurkan semangat mereka, dengan izin Allah.

Darah para Syuhada’ akan menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju Damaskus, Insya Allah.

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. (Q.S. Yusuf: 21)

Wallahu A’lam bis Shawab

 

Disarikan dari tulisan Abu Khalid as-Syami, komandan militer Hai’ah Tahrir al-Syam (HTS) yang dilansir melalui situs ebaa.news

Sumber:   Ebaa.news

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *