Perbedaan Pendapat Taliban-AS Soal Penarikan Pasukan

Perbedaan Pendapat Taliban-AS Mengenai Penarikan Pasukan Semakin Menipis

Negosiator Taliban pada hari Sabtu (4/4) mengatakan bahwa perbedaan semakin menyempit dalam pembicaraan dengan utusan perdamaian khusus Washington mengenai jadwal untuk penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Kedua belah pihak bertemu di Qatar, di mana Taliban mendirikan kantor politiknya.

Dalam pesan suara kepada The Associated Press, juru bicara kantor politik Taliban di Doha, Suhail Shaheen, mengatakan kedua belah pihak telah menawarkan proposal baru untuk menarik pasukan AS dan NATO. Ini akan menjadi langkah awal yang signifikan menuju kesepakatan untuk mengakhiri 18 tahun perang dan keterlibatan terpanjang militer Amerika.

“Ada proposal untuk menurunkan kesenjangan antara kedua belah pihak, tetapi (itu) masih perlu negosiasi untuk mencapai kesepakatan akhir,” katanya dalam sebuah pernyataan berbahasa Inggris.

Baca juga:

Pejabat Taliban lainnya yang akrab dengan perundingan sebelumnya mengatakan kepada AP bahwa AS mengusulkan satu setengah tahun untuk menarik sekitar 14.000 tentaranya dari Afghanistan, sementara Taliban menginginkan penarikan dilakukan dalam enam bulan.

Masih belum diketahui detail proposal baru yang diajukan oleh masing-masing pihak.

Dalam sebuah poling diketahui bahwa sebagian besar para Veteran tantara AS dan keluarganya ingin agar AS keluar dari Afghanistan.

Survei terhadap 1.600 veteran dan keluarga militer menunjukkan dukungan untuk penarikan penuh dari perang yang sedang berlangsung di luar negeri.

Baca juga:

Pembicaraan antara AS dan Taliban, yang dimulai tahun lalu dengan penunjukan utusan perdamaian Washington, Zalmay Khalilzad, telah memfokuskan pada jadwal penarikan militer AS serta jaminan Taliban bahwa Afghanistan tidak akan digunakan untuk serangan teroris global. AS juga menginginkan jaminan bahwa Taliban tidak akan menampung teroris dan membantu dalam perang melawan afiliasi ISIS yang telah berakar di sebagian wilayah Afghanistan timur.

Taliban secara terbuka telah menyerang afiliasi IS Khorasan, dan telah melancarkan pertempuran sengit melawan pengikut kelompok itu, paling sering di provinsi Nangarhar timur tetapi juga di utara Afghanistan, di mana afiliasi IS, yang dikenal sebagai Gerakan Islam Uzbekistan, telah merekrut lebih banyak pengikut Afghanistan ke IS.

Dalam sebuah tweet di awal putaran pembicaraan terakhir dengan Taliban awal pekan ini, Khalilzad mengatakan AS dan Taliban perlu menemukan titik temu. Dia mengemukakan empat “masalah yang saling terkait: penarikan pasukan, jaminan kontra-terorisme, dialog dan negosiasi intra-Afghanistan dan pengurangan eskalasi kekerasan yang mengarah pada gencatan senjata komprehensif.”

Sampai itu dilakukan, Khalilzad mengatakan, “tidak ada yang final.”

Namun Taliban menolak untuk berhenti bertempur sampai pasukan AS dan NATO mundur. Taliban terus menyerang militer Afghanistan yang semakin terdesak dan terkepung, yang menyebabkan banyak korban.

Baca juga:

Pejabat Taliban, yang berbicara secara anonim, mengatakan kelompok itu memiliki kekhawatiran mengenai gencatan senjata: komandan Taliban di lapangan tidak mungkin menerima gencatan senjata sementara pasukan asing masih di Afghanistan, dan ketika gencatan senjata diumumkan akan sulit untuk memulai kembali pertempuran jika AS mengingkari kesepakatannya.

Dialog intra-Afghanistan yang akan diadakan di Doha bulan lalu gagal setelah kedua pihak gagal menyepakati para peserta. Awal pekan ini, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengadakan konferensi Loya Jirga atau dewan agung yang terdiri dari 3.200 warga Afghanistan yang mencakup para tetua suku, aktivis, warga Afghanistan lainnya.

Dewan akan menyusun posisi untuk pembicaraan dengan Taliban, tetapi beberapa politisi terkemuka tidak hadir, termasuk mitranya di Pemerintah Persatuan, Kepala Eksekutif Abdullah Abdullah, yang mengungkapkan keretakan yang semakin dalam di pemerintahan Ashraf Ghani.

Khalilzad mendesak kedua pihak untuk menemukan jalan tengah untuk memulai pembicaraan di Doha.

 

Sumber:    militarytimes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *