LWJ: Al-Qaeda Tekankan Persatuan di Bawah Imarah Islam Afghanistan

Al Qaeda jarang menampilkan kehadirannya di medan perang Afghanistan. Tapi dalam video terbaru mereka, “Di Bawah Naungan Imarah Islam” Al-Qaeda menampikan dengan jelas operasi mereka di Afghanistan

Media al-Qaeda, as-Sahab, telah merilis video baru yang menunjukkan peran mereka dalam serangan terhadap konvoi Tentara Nasional Afghanistan (ANA) di provinsi Paktika. Namun, tujuan video tersebut bukan hanya untuk menyorot operasi tunggal tersebut. Al-Qaeda menggunakan video tersebut untuk menekankan aliansinya dengan Taliban.

Video ini patut diperhatikan karena beberapa alasan. Alasan yang paling utama, al-Qaeda telah menahan diri dari mempublikasikan eksistensinya di Afghanistan selama beberapa tahun terakhir. Al-Qaeda juga jarang merujuk kepada eksistensi anggotanya di medan jihad di negara tersebut.

Malah, al-Qaeda dan cabangnya di India (AQIS), bertempur di bawah panji Taliban dan biasanya tidak mengklaim operasi yang mereka lakukan atas nama mereka.

Video baru ini, yang diproduksi oleh cabang media as-Sahab yang berjudul, “Di Bawah Naungan Imarah Islam: Paktika – Penyergapan Konvoi Tentara Nasional Afghanistan di Pegunungan Hindi.” Judul ini dimaksudkan untuk memperkuat peran al-Qaeda dalam pertempuran yang dilaksanakan oleh Taliban. Karena kedua kelompok jihad tersebut berjuang bersama untuk membangkitkan kembali Imarah Islam di Afghanistan.

Video itu berisi teks bahasa Inggris, yang dibuka dengan narrator yang menyatakan bahwa Amerika telah kalah di Afghanistan. “Lima belas tahun yang lalu, jika ada yang mengatakan bahwa kekuatan super saat itu (Amerika), akan dikalahkan di Afghanistan, itu adalah ungkapan yang sangat lucu bagi dunia,” kata narrator tersebut. “Tetapi hari ini, hal itu telah menjadi kenyataan.” Ia juga menyatakan bahwa pasukan Amerika, NATO, dan ANA, adala “tentara yang terkepung di pangkalannya.” Cuplikan seorang komandan militer Barat yang menangis di podium juga diputar selama beberapa saat.

Video Al Qaeda bertujuan untuk mempromosikan Imarah Islam Afghanistan sebagai kekuatan pemersatu bagi para jihadis di Afghanistan.

Sang narrator melanjutkan, “Dengan rahmat Allah ﷻ, hari ini Imarah Islam telah membebaskan sebagian besar wilayah Afghanistan dari kendali Amerika.”

Taliban dan sekutunya sedang memperjuangkan atau menguasai banyak daratan, sedangkan wilayah perkotaan lebih banyak dikuasai oleh pemerintah. Para Mujahidin juga mengitari beberapa ibukota provinsi, agar dapat menguasai kota tersebut ketika AS dan sekutu baratnya mundur selama beberapa bulan mendatang.

Penyergapan di Provinsi Paktika

Inti dari video al-Qaeda tersebut adalah cuplikan penyergapan terhadap konvoi ANA di provinsi Paktika. Tidak dijelaskan kapan serangan tersebut dilaksanakan, tetapi al-Qaeda menyatakan bahwa pemerintah telah mengakui sejumlah 30 anggota ANA tewas ketika kendaraan mereka ditembaki di sebuah lembah.

Narrator juga mengatakan bahwa Mujahidin telah ‘membersihkan wilayah inti’ di distrik Paktika, yaitu Wazikhawa (Wazakhawa), “dari kehadiran pasukan Amerika yang najis dan sekutu mereka.” “Imarah Islam Afghanistan memperoleh kemenangan besar di wilayah ini dan mengepung markas distrik pada 2014.” Ia mengatakan bahwa Mujahidin telah “melakukan blockade terus menerus yang memaksa musuh untuk membawa peralatan militernya dan bahan makanannya melalui helikopter.”

Salah seorang Mujahid, bernama Abdul Hannan, menyatakan bahwa Amerika tidak peduli terhadap nyawa rakyat Afghanistan. Ia mengatakan bahwa Amerika ‘tidak menganggap Tentara Nasional Afghanistan kecuali hanya sekadar bahan bakar manusia untuk melanjutkan perang mereka, dan untuk menjaga tentara mereka tetap aman. Bahkan pasukan Amerika tidak ragu untuk menggunakan mereka sebagai kambing hitam.”

Abdul Hannan, dengan muka yang diblur dalam video Al-Qaeda

Konvoi ANA yang menjadi target sedang berangkat menuju markas di Wazikhawa pada awal musim dingin.

“Di bawah kepemimpinan Imarah Islam Afghanistan, Mujahidin Anshar dan Muhajir telah memutuskan untuk menyergap konvoi ini,” bunyi teks di layar. “Tahap pertama serangan tersebut adalah memilih tempat yang cocok untuk melaksanakan serangan. Setelah bantuan dari Allah, keberhasilan serangan sangat tergantung pada pemilihan tempat yang tepat.”

Mujahid lain bernama Muhammad Farooqi, mengatur serangan tersebut. “Dalam perang gerilya, Anda bisa melancarkan serangan dengan sukses melalui puncak bukit kepada musuh yang lewat di bawah,” kata Farooqi. “Di antara distrik-distrik di Wazikhawa dan Gomal, terletak pegunungan Hindi yang panjang. Itu adalah tempat terbaik untuk memberi pelajaran kepada pasukan penjahat ini.” Area tersebut dikenal sebagai ‘puncak tandus, jalur berbahaya,’ dan “banyak angin kencang yang meningkatkan sulitnya medan gunung.”

Muhammad Farooqi

Mujahidin “hanya berjumlah lima belas orang,” kata Farooqi. Dan mereka dilengkapi dengan “hanya 6 roket RR-82 [Recoil Rifle 82mm (Meriam Ringan)], 4 roket RPG-7, 1 senapan sniper, senapan mesin Kalashnikov dan PK.”

Di saat Farooqi berbicara, sebuah gambar ditampilkan di layar. Yaitu gambar para Mujahidin yang diposisikan di bawah spanduk al-Qaeda dan Taliban. Gambar tersebut memperkuat sifat kebersamaan dalam serangan itu, serta kemitraan antara keduanya.

Seorang anggota kelompok penyergap yang diidentifikasikan sebagai Yasir Mirza (Khalid Qeemti) ditempatkan di lereng gunung selama penyergapan. Sebuah biografi singkat yang ditampilkan oleh al-Qaeda menyatakan bahwa Mirza berasal dari Rawalpindi, Pakistan. Dan ia terbunuh dalam serangan drone Amerika di Paktika.

Mirza dan rekan-rekan Mujahidin menembaki konvoi ketika konvoi mendekat. Serangan pertama dilakukan dengan roket RR-82 yang menghancurkan truk penyapu ranjau musuh. Pasukan musuh panik dan mulai menembak secara membabi buta, tetapi Mujahidin terus menargetkan musuh-musuhnya dengan tenang. Rekaman itu menunjukkan beberapa Humvee yang menjadi sasaran hancur atau rusak berat.

Abdul Hannan kemudian muncul lagi ke layar, mengatakan bahwa, “karena jumlah roket yang terbatas, Mujahidin tidak mampu menghabisi seluruh kendaraan musuh.” Dalam kalimat ini, al-Qaeda menekankan kepada seluruh umat Islam di dunia dan orang-orang kaya, bahwa tugas mereka adalah untuk membantu Mujahidin dengan kekayaan yang dimiliki, dengan nyawa, dan dengan doa-doa, selama konfrontasi melawan orang-orang kafir.

Imarah Islam Afghanistan

Video tersebut ditutup dengan montase berbagai tokoh Taliban, al-Qaeda, dan AQIS. Orang-orang yang terlihat di layar termasuk Mullah Omar, Usamah bin Laden bersama Ayman al-Zawahiri, dan Mullah Mansour (pengganti Mullah Omar sebagai pemimpin Taliban, sebelum wafat pada Mei 2016).

Kata-kata yang ditampilkan di layar selama montase merayakan Imarah Islam Afghanistan Taliban:

“Satu Tanah! Satu Tubuh! Satu Jiwa!”

“Satu Suara! Satu Kekuatan! Satu Harapan! Imarah!”

“Satu Barisan! Satu Pasukan! Satu Pemimpin! Satu Jalan! Imarah!”

“Hidup! Hidup! Hidup! Semoga Imarah Islam tetap jaya!

“Kami berdoa kepada Allah yang Maha Kuasa untuk memperkuat Imarah Islam Afghanistan dan memberkahinya… dengan Jihad dan Syari’ah di seluruh wilayahnya.”

Video tersebut ditutup dengan kata-kata “Syari’at atau mati Syahid.” Ini adalah seruan kuat para Mujahidin di seluruh dunia.

 

Sumber:   Longwarjournal

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *