Peran Penting Ulama dalam Menghadapi Fitnah

Peran Ulama dalam menghadapi fitnah

Syaikh Maysar bin Ali al-Qahtani, atau yang lebih dikenal dengan Abu Mariyah al-Qahtani adalah seorang ulama dan ideolog di Jabhah an-Nusrah (al-Nusra Front), yang sekarang berubah menjadi Hay’ah Tahrir al-Syam (HTS).

Beliau menuliskan artikel seputar peran ulama dalam menghadapi fitnah. Bagaimana cara ulama meneguhkan manusia di zaman yang penuh fitnah ini? Ulama macam apa yang bisa kita ikuti? Berikut tulisan beliau yang dilansir dari situs ebaa.news:

Allah ﷻ berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”. (Q.S. al-Qashash: 80).

Para Ulama’ adalah penyelamat umat manusia dalam menghadapi fitnah. Di masa-masa sulit para ulama memiliki peran dalam meneguhkan umat manusia. Umat manusia juga akan meminta keteguhan melalui nasehat-nasehat para ulama ketika mereka terombang-ambing dalam menghadapi fitnah yang ada. Di sinilah peran ulama dalam meneguhkan umat manusia akan terlihat.

Para ulama yang tidak terkena fitnah dunia maupun perhiasannya, adalah para penyelamat umat manusia (setelah Allah tentunya). Allah telah menjadikan para ulama sebagai sebab teguhnya manusia ketika mereka terkena fitnah Qarun, seperti yang diceritakan oleh ayat di atas. Ulama yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah ulama yang mengaku-ngaku sebagai ulama, padahal diri mereka terkena fitnah. Keinginan para ulama (yang mengaku-ngaku tersebut) hanyalah menyebarkan ketakutan dan rasa lemah.

Imam at-Thabari berkata dalam tafsirnya mengenai ayat di atas:

Ketika Qarun menampakkan diri di hadapan manusia dengan harta bendanya, sebagian manusia berkata, “Seandainya kami memiliki (harta) seperti yang diberikan kepada Qarun.” Para ulama pun kemudian berkata kepada mereka, “Celakalah kalian, bertakwalah kalian kepada Allah dan taatilah perintah-Nya. Sesungguhnya ganjaran di sisi Allah dan pahala dari-Nya jauh lebih besar daripada harta yang Ia berika kepada Qarun (berupa harta dan perhiasan). Ganjaran tersebut hanya akan diberikan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, dan mengamalkan perintah-perintah-Nya.”

Firman Allah (و لا يلقاها إلا الصابرون), artinya, ‘dan tidak diperoleh kecuali oleh orang-orang yang bersabar.’ Maksudnya adalah bahwa perkataan sebelumnya (Pahala di sisi Allah itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh) itu tidak akan muncul kecuali dari lisan orang-orang yang bersabar. Perkataan semacam itu hanya akan muncul dari orang-orang yang bersabar. Bersabar dari meminta perhiasan dan kehidupan dunia, mereka mengutamakan pahala atas amal saleh mereka di atas kenikmatan dunia. Mereka bersungguh-sungguh untuk taat kepada Allah. Mereka juga menolak kenikmatan hidup di dunia (supaya tidak mudah terkena fitnah -red).

Al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata, “Inilah intinya. Orang-orang yang mengetahui ilmunya akan mengedepankan kehidupan yang mulia (akhirat) di atas kehidupan yang hina (dunia). Di mana hal seperti itu tidak akan diperoleh kecuali oleh orang-orang yang sabar. Orang sabar yang senantiasa meneguhkan diri mereka untuk mentaati perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, bersabar atas takdir-Nya, dan bersabar atas segala ujian dunia dan kenikmatannya, agar tidak menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Rabbnya. Orang-orang seperti inilah yang akan mendapatkan ganjaran di sisi Allah. Ganjaran yang lebih baik daripada dunia yang fana ini.”

Saya katakan, “Ulama yang sesungguhnya adalah ulama yang yakin terhadap janji Rabbnya. Ia juga beriman bahwa lehernya adalah ciptaan Allah, maka tidak ada suatu pedang pun yang mampu memutuskan lehernya kecuali atas izin Allah. Allah telah menciptakan Qalam dan menuliskan takdir-takdir. Apa yang dikehendaki Allah akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Maka kenapa kita merasa takut sedangkan ruh kita berada di tangan Allah? Dan takdir kita telah ditetapkan oleh Allah?”

Wahai para ulama, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah memberikan contoh ketika beliau merapikan barisan para Mujahidin dalam rangka menghadapi musuh-musuh Allah. Beliau adalah orang berilmu yang beramal dan seorang Mujahid, baik dengan pena beliau, lisan beliau, maupun pedang beliau. Maka berjalanlah di atas jalan beliau. Dan janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zalim, atau kelak kalian akan terkena api neraka.

Wallahu A’lam bis Shawab

 

Disarikan dari tulisan Syaikh Maysar bin Ali al-Qahtani dalam situs ebaa.news

Sumber: Ebaa.news

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *