Sembunyikan Data Perang, Bukti Amerika Kalah di Afghanistan

Bukti Kekalahan: AS Menyembunyikan Data Perang Afghanistan

Baru-baru ini militer AS di Afghanistan menghentikan program pendataan distrik-distrik di Afghanistan. Penghentian tersebut menurut analisa Mayor Danny Sjursen, pensiunan militer AS, diindikasikan sebagai tanda kekalahan AS di Afghanistan, militer AS miris dengan perkembangan data distrik yang semakin banyak jatuh ke tangan pejuang Taliban. Berikut Analisa selengkapnya:

Perang terpanjang dalam sejarah AS telah menelan korban 2.400 nyawa pasukan Amerika dan biaya hampir satu triliun dolar AS. Anehnya, pemerintah AS di Washington berusaha menyembunyikan kenyataan di lapangan. Saat ini seharusnya tidak ada lagi keraguan bahwa Amerika telah kalah dalam pertempuran di Afghanistan, menempatkannya di urutan berikutnya mengikuti kekaisaran Inggris dan Soviet yang gagal menaklukkan negeri para mujahid itu. Mungkinkah pemerintahan Trump akan mengakuinya.

Trump dan pemerintahnya sekarang punya ide lain. Mereka akan berhenti memberi tahu publik Amerika tentang bagaimana perang abadi ini berlangsung. Informasi yang disembunyikan mencakup semua data yang relevan, terukur tentang perang.

AS berhenti mendatanya atau menganggapnya rahasia. Kenapa mereka melakukannya? Masalahnya, berita dari Afghanistan sangat mengerikan, dan “kemajuan” sangat meresahkan, sehingga mereka tidak ingin melaporkannya. Sayangnya ini adalah masalah hidup dan mati, dan bahwa pemerintah (Trump) berutang pada rakyat tentang kebenaran perang yang diluncurkan atas nama mereka. Sebut saya kuno tetapi saya masih menghargai fakta dan transparansi.

Jadi mari kita perhatikan apa sebenarnya yang mereka sembunyikan dari kita. Itu dimulai dengan pengumuman tahun lalu bahwa Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR) – pengawas yang dimandatkan oleh kongres dalam semua aspek perang ini – tidak akan lagi melaporkan data korban Pasukan Keamanan Afghanistan (ASF). Sekarang saatnya diungkap.

Mungkinkah bahwa militer Afghanistan yang dilatih dan diperlengkapi oleh AS (dengan biaya sekitar $ 70 miliar) menderita banyak korban yang berkelanjutan, kehilangan pasukan lebih cepat daripada yang bisa direkrut? Mungkin karena Washington merasa tidak nyaman untuk mengakui bahwa ASF tidak bisa berkembang sesuai targetnya, bahwa desersi dan ketidakhadiran tanpa cuti merajalela di barisan, dan bahwa PDB Afghanistan tidak cukup untuk membayar pasukan keamanannya sendiri.

Lagipula, setiap presiden dari Bush hingga Obama mengatakan kepada Trump bahwa melatih ASF adalah prioritas nomor satu Amerika dan kunci untuk keluar dengan sukses. Mengingat itu, orang akan berpikir bahwa lebih penting untuk menghadapi kenyataan tentang pasukan militer dan polisi Afghanistan yang sama sekali tidak memadai. Sebaliknya itu tidak diungkap. Publik tidak lagi diizinkan untuk mengetahui kenyataan yang tidak menyenangkan (publik AS) itu.

Kemudian, minggu lalu, kami diberitahu bahwa militer AS tidak akan lagi mendata perkembangan kontrol atau pengaruh pemerintah dan Taliban di tingkat distrik. Dengan kata lain, tidak aka nada lagi data tentang persentase wilayah yang dikendalikan oleh pemerintah Afghanistan versus Taliban.

Menurut pihak militer AS di Afghanistan, data distrik itu “memiliki nilai pengambilan keputusan terbatas bagi Komandan.” Berita baru bagi banyak orang termasuk saya! Bahkan sebagai komandan kompi, kapten rendahan, saya melacak dan melaporkan data tentang keamanan dan stabilitas bahkan di masing-masing desa di sektor saya. Bagaimana kami tahu jika kami membuat kemajuan atau tidak (jika tidak dilaporkan)!

Jadi mengapa administrasi Trump benar-benar memutuskan untuk menyembunyikan, atau berhenti mendata, informasi penting ini? Mungkinkah bahwa Taliban telah semakin mendapatkan dukungan dan sekarang mengendalikan atau memperebutkan lebih banyak wilayah daripada sebelumnya dalam perang berusia 18 tahun ini? Tentunya akan agak merepotkan untuk mengakui bahwa rezim yang didukung AS di Kabul kehilangan kendali atas setengah wilayah negara. Solusinya: berhenti mendata sama sekali.

Serius, daripada menilai data dan memutuskan 1) bahwa situasi di lapangan menuntut strategi baru atau lebih banyak investasi Amerika; atau 2) bahwa perang itu tidak dapat dimenangkan dan selalu merupakan mimpi yang tidak masuk akal untuk berpikir bahwa AS dapat memalsukan Demokrasi di kawasan Asia Tengah tersebut, dan dengan demikian menghentikan kerugian AS dan menarik diri. Sekarang, saya adalah pendukung kuat opsi dua dan telah mengatakannya berkali-kali. Namun, setidaknya pilihan seseorang akan bergulat dengan kenyataan daripada mengabaikannya.

Lihat, SIGAR adalah lembaga pengawas yang disetujui pemerintah, bukan organisasi nirlaba hak asasi manusia yang sensitif. Mungkin kita harus mendengarkan apa yang mereka katakan, karena, yah, itu benar-benar mengganggu. Pekan lalu, John Sopko, inspektur jenderal SIGAR, menyatakan bahwa “Hampir setiap data ukuran keberhasilan atau kegagalan sekarang dihentikan atau tidak lagi dikumpulkan … pendataan ini di beberapa daerah tidak perlu.” Artinya: kita kalah perang dan harus menyembunyikan fakta itu dari publik! Itu masalah besar, Amerika!

Ada indikator lain bahwa perang ini telah berakhir, dan seseorang menduga data ini juga akan segera diabaikan atau “tidak lagi dilacak.” Sebagai contoh, fakta bahwa menurut laporan resmi PBB, 2018 adalah tahun pertama di mana AS dan pasukan sekutu lokal Afghanistan membunuh lebih banyak warga sipil daripada Taliban.

Tampaknya Washington telah mengajar Kabul untuk bertarung dalam citra mereka sendiri, percaya diri – terlepas dari semua bukti sejarah yang bertentangan – bahwa ia dapat mengebom jalan menuju kemenangan. Sayang sekali membunuh warga sipil tak berdosa adalah cara pasti untuk mengasingkan penduduk dan memberi makan pemberontakan. Jika Anda tidak tahu yang lebih baik, Anda mungkin berpikir Washington berusaha untuk memperpanjang perang tanpa batas.

Ingatlah bahwa pemilik negara ini – pemilik sebenarnya di kompleks perusahaan industri militer- mengandalkan sikap apatis Anda. Mereka mengandalkan Anda untuk tidak peduli sehingga mereka dapat melanggengkan perang yang keliru, kontraproduktif (tapi cukup menguntungkan). Jika tidak hati-hati, rakyat AS mungkin akan kehilangan negaranya seiring dengan perang.

Jadi saya katakan biarkan rakyat AS tahu. Bahwa kami menuntut transparansi dan realita perang di Afghanistan. Kami menuntut untuk mengetahui apa yang dilakukan atas nama kami dan untuk apa ribuan orang telah mengorbankan hidup mereka. Itu berarti jutaan tuntutan pada anggota kongres, berbaris di jalan-jalan. Aku bisa melihatnya, hampir seperti mimpi – lautan orang Amerika berkata tidak untuk perang yang kalah, tidak untuk perampasan harta kita, tidak untuk secara bertahap mengembalikan kebebasan sipil kita.

Hanya kemudian saya bangun dari lamunan saya, menatap sekeliling bandara, dan … semua orang terlalu sibuk dengan iPhone mereka, tidak peduli. Dan itulah Amerika yang asli. Jadi perang harus berlanjut …

 

Analisa oleh Mayor Danny Sjursen, Diposting pada 07 Mei 2019

Danny Sjursen adalah pensiunan perwira Angkatan Darat AS dan kontributor tetap untuk Antiwar.com . Karyanya telah muncul di LA Times, The Nation, Huff Post, The Hill, Salon, Truthdig, Tom Dispatch. Dia bertugas pada unit pengintai di Irak dan Afghanistan dan kemudian mengajar sejarah di almamaternya, West Point. Dia adalah penulis memoar dan analisis kritis Perang Irak, Ghostriders of Baghdad.

 

Sumber:  antiwar

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *