Memoles Kejahatan Agar Terlihat Baik Ala Israel

Menembak demonstran Palestina yang tidak bersenjata itu “menjaga nilai-nilai Israel”

 

Wajah publik Israel, dipoles baik oleh diaspora yang kaya dan kuat yang memiliki kendali signifikan atas media. Israel menegaskan bahwa negara itu adalah satu-satunya negara demokrasi sejati di Timur Tengah yang beroperasi di bawah aturan hukum untuk semua warga negaranya dan bahwa tentaranya adalah “yang paling bermoral di dunia.”

Semua pernyataan itu salah. Pemerintah Israel memihak warga Yahudi melalui hukum dan peraturan yang ditentukan oleh agama. Faktanya sekarang, mereka telah mengidentifikasi dirinya secara hukum sebagai negara Yahudi, di mana warga Kristen dan Muslim menjadi berstatus kelas dua.

Tentara Israel telah melakukan banyak kejahatan perang terhadap penduduk sipil yang sebagian besar tidak bersenjata dalam tujuh puluh tahun terakhir, baik di Lebanon dan yang terutama terhadap Palestina di Tepi Barat dan Gaza.

Menanggapi protes Great March of Return tahun lalu yang dilakukan oleh warga Gaza di sepanjang garis pagar yang memisahkan mereka dari Israel, penembak jitu tentara Israel telah menembak mati 293 warga Palestina dan melukai tujuh ribu lainnya.

Dua puluh ribu warga Gaza lainnya telah terluka oleh senjata-senjata lain yang digunakan oleh Israel, termasuk tabung-tabung dari tembakan gas air mata dan peluru karet. Jumlahnya termasuk ratusan anak-anak dan tenaga medis yang berusaha membantu yang terluka, yang menurut laporan telah menjadi sasaran khusus.

PBB telah melaporkan bahwa banyak dari mereka yang terluka ditembak di kaki mereka, yang oleh militer Israel dianggap sebagai upaya “pengekangan”. Banyak dari mereka yang terluka mungkin perlu diamputasi anggota tubuhnya ke luar negeri, karena Gaza tidak memiliki fasilitas medis yang diperlukan untuk merawat luka-luka mereka. Israel telah membom rumah sakit dan memblokir impor pasokan medis ke Gaza sementara juga tidak mengizinkan warga Gaza meninggalkan daerah tersebut untuk perawatan medis di tempat lain di Timur Tengah.

Seratus dua puluh amputasi telah dilakukan tahun ini. Jamie McGoldrick, Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina menjelaskan, “Anda memiliki 1.700 orang yang membutuhkan operasi serius dan kompleks agar mereka dapat berjalan lagi… mereka juga memerlukan operasi rekonstruksi tulang yang sangat, sangat serius dan rumit untuk dilakukan dalam periode dua tahun sebelum mereka mulai merehabilitasi diri mereka sendiri.”

PBB ingin memberikan 20 juta dolar AS dalam bentuk bantuan untuk memungkinkan perawatan medis tetapi bukan untuk amputasi. Amerika Serikat telah menolak untuk mendukung pemberian dana darurat untuk Palestina melalui Lembaga UNRWA, suatu langkah yang mungkin diambil untuk menguntungkan Israel sebagai bentuk menghukum orang-orang Palestina.

Menariknya, sebuah dokumen baru-baru ini muncul kembali, menggambarkan dalam istilah yang mengerikan, tentang sudut pandang Tentara Israel mengenai penembakan orang-orang Arab Palestina. Satu tahun yang lalu, mantan diplomat Inggris, Craig Murray, memposting di blognya, “Condemned By Your Owns Words”, yang menyediakan terjemahan dari transkrip siaran radio Israel dari bahasa Ibrani ke Inggris yang telah berlangsung pada 21 April.

Seorang Brigadir Jenderal Israel, bernama Zvika Fogel, menanggapi laporan tentang pembunuhan seorang bocah lelaki berusia empat belas tahun yang tidak bersenjata, oleh tentara Israel. Dia menjelaskan secara terperinci mengapa tentaranya benar-benar melakukan hal yang benar, yaitu menembak untuk membunuh warga Palestina yang mendekati penghalang yang memisahkan Gaza dan Israel.

Komentar Jenderal Fogel mencerminkan pandangan pemerintah Israel tentang bagaimana cara mereka mengendalikan “masalah Palestina.” Hanya hak asasi, termasuk hak untuk hidup, orang Yahudi Israel yang sah dan orang Arab harus bersyukur atas apa yang diizinkan oleh negara Yahudi untuk mereka miliki.

Fogel menanggapi pertanyaan pertama pewawancara Ron Nesiel, “Haruskah IDF [tentara Israel] memikirkan kembali penggunaan penembak jitu?” Dengan mengatakan bahwa “Siapa saja yang dekat dengan pagar, siapa pun yang bisa menjadi ancaman di masa depan terhadap perbatasan Negara Israel dan penduduknya, harus menanggung akibat pelanggaran itu. Jika anak ini atau orang lain mendekati pagar untuk menyembunyikan alat peledak atau memeriksa apakah ada zona mati di sana atau memotong pagar sehingga seseorang dapat menyusup ke wilayah Negara Israel untuk membunuh kami … ”

Nesiel: “Lalu, apakah kemudian hukumannya adalah tembak mati?”

Fogel: “Hukumannya adalah mati. Sejauh yang saya khawatirkan maka ya, jika Anda hanya bisa menembaknya untuk menghentikannya, di kaki atau lengan, maka itu adalah hal hebat. Tetapi jika ternyata lebih dari itu, ya, mari kita cek bersama siapa yang darahnya lebih kental, milik kami atau milik mereka. Jelas bagi Anda bahwa jika seseorang seperti itu berhasil melewati pagar atau menyembunyikan alat peledak di sana … ”

Nesiel: “Tetapi kami diajari bahwa tembakan langsung hanya digunakan ketika tentara menghadapi bahaya langsung. … Mereka tidak melakukan semua itu dengan baik, banyak gambar yang didistribusikan di seluruh dunia telah menunjukkannya.”

Fogel: “Saya tahu bagaimana perintah (tembak mati) ini diberikan. Saya tahu bagaimana penembak jitu menembak. Saya tahu berapa banyak ijin yang dia butuhkan sebelum dia menerima persetujuan untuk memulai. Bukan kehendak salah satu atau penembak jitu lain yang mengidentifikasi tubuh kecil seorang anak sekarang dan memutuskan dia akan menembak. Seseorang menandai targetnya dengan sangat baik dan memberi tahu dia dengan tepat mengapa seseorang harus menembak dan apa ancamannya dari individu itu. Dan yang sangat menyedihkan, kadang-kadang ketika Anda menembak tubuh kecil dan Anda bermaksud mengenai lengan atau pundaknya, (lontaran peluru) itu bahkan lebih tinggi. Gambar itu bukan gambar yang cantik. Tetapi jika itu adalah harga yang harus kita bayar untuk menjaga keselamatan dan kualitas hidup penduduk Negara Israel, maka itulah harganya.

“Lihat, Ron, kita bahkan mengerikan dalam hal itu [untuk menekan gambar-gambar itu]. Tidak ada yang bisa dilakukan, David selalu terlihat lebih baik melawan Goliath. Dan dalam hal ini, kita adalah Goliat. Bukan David. Itu sepenuhnya jelas bagi saya. … Itu akan menyeret kita ke dalam perang. Saya tidak ingin berada di sisi yang diseret. Saya ingin berada di pihak yang memprakarsai hal-hal. Saya tidak ingin menunggu saat di mana ia menemukan titik lemah dan menyerang saya di sana. Jika besok pagi mereka masuk ke pangkalan militer atau kibbutz dan membunuh orang di sana dan membawa tawanan perang atau sandera, sebut saja sesuka Anda, kami menggunakan naskah yang sama sekali baru. Saya ingin para pemimpin Hamas bangun besok pagi dan untuk terakhir kalinya dalam hidup mereka melihat wajah-wajah IDF yang tersenyum. Itulah yang saya inginkan terjadi. Tapi kami terseret. Jadi kami menempatkan penembak jitu karena kami ingin mempertahankan nilai-nilai yang diajarkan kepada kami. Kami tidak selalu dapat mengambil satu gambar dan meletakkannya di depan seluruh dunia. Kami memiliki tentara di sana, anak-anak kami, yang dikirim dan menerima instruksi yang sangat akurat tentang siapa yang menembak untuk melindungi kami. Mari kita dukung.”

Orang-orang mungkin menyimpulkan bahwa komentar Fogel mencerminkan konsensus di antara orang Israel tentang bagaimana berurusan dengan orang Arab. Dan Amerika Serikat sepenuhnya terlibat dalam pembantaian. Duta Besar Amerika untuk Israel David Friedman telah berulang kali memuji upaya pembatasan yang dilakukan angkatan bersenjata Israel dan menyalahkan warga Gaza atas penderitaan mereka.

Amerika Serikat terus mensubsidi permukiman ilegal Israel yang menyulut konflik dan menempatkan sentuhan akhir pada rencana perdamaian yang disetujui Israel yang sekarang dan selamanya akan menjadikan Palestina sebagai non-warga negara, tanpa bangsa mereka sendiri dan tanpa harapan untuk masa depan. Sementara itu, mereka adalah target latihan untuk penembak jitu Israel. Dunia harus dipermalukan oleh kesombongan dan perilaku Israel dan Amerika Serikat harus menundukkan kepalanya karena malu setiap kali seorang politisi Amerika keluar dengan kalimat “Israel memiliki hak untuk mempertahankan diri.”

 

Sumber:   unz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *