Sejarah China Menguasai Dunia Berabad-Abad yang Lalu

Tributary System, Cara China Menguasai Dunia

Sejak Dinasti Qin (221-206 SM) dan dinasti Han (206 SM – 220 M) sudah terjalin hubungan baik antara China dengan negeri-negeri di Asia-Afrika. Perniagaan semakin meningkat di kalangan pemerintah maupun antar pedagang. Penduduk miskin sepanjang pantai China Selatan yang merantau ke luar negeri dengan kapal juga semakin bertambah. Sehingga pengalaman berlayar sudah lama dimiliki oleh orang-orang China.

Di samping itu kemampuan membuat kapal orang China pada masa itu sudah maju. Sejak Dinasti Yuan (1206 – 1368M) yang kemudian diganti Dinasti Ming kemampuan membuat kapal dan pelayaran sudah cukup tinggi. Hal itu dibuktikan antara lain, pada masa itu sudah dibuat kapal yang terdiri dari 50-60 kabin dan mampu membawa lebih dari 1000 orang dalam pelayaran yang jauh. Jangkarnya begitu berat sehingga diperlukan 200-300 orang untuk mengangkatnya.

Badan kapalnya terdiri dari susunan ruang-ruang yang terpisah antara satu dengan yang lainnya, sehingga kapal tidak akan tenggelam karena kerusakan di salah satu bagiannya karena benturan karang. Di dalam kapal juga tersedia peta laut dan kompas, di samping buku catatan pengalaman pelayaran awak kapal China pada masa silam, misalnya Dao Yi Lue (catatan tentang pulau-pulau luar negeri) yang ditulis oleh Wang Dayuan pada tahun 1349 M.

Baca juga:

Dinasti Ming didirikan pada tahun 1368 M. Sampai awal abad 15 China telah menjadi negara yang kuat. Pertanian dan kerajinan tangannya cukup maju. Hasil produksi seperti kain sutra, porselin, alat besi dan lain-lain bertambah banyak dan bermutu. Di samping itu kerajaan  Ming membutuhkan wangi-wangian, rempah-rempah, pewarna, manik-manik dan lain-lain dari luar negeri. Hubungan perdagangan dan politik dengan negara-negara lain sangat memungkinkan dengan ekonomi kerajaan Ming yang kuat.

Pada masa Kaisar Zhu Yun Wen, ibukota Nanjing diserang oleh Zhu Di (putra keempat dari Kaisar pertama Dinasti Ming). Dalam serangan itu Zhu Di dibantu kasim (pembantu/pelayan) kesayangannya yang bernama Cheng Ho. Dalam pertempuran yang berlangsung selama 3 tahun Zhudi berhasil menduduki Nanjing dan menggulingkan Zhu Yun Wen.

Zhu Di kemudian menjadi Kaisar dinasti Ming menggantikan Zhu Yunwen. Zhudi sering disebut sebagai Kaisar Yongle. Karena jasa besar Cheng Ho, maka kaisar Zhu Di kemudian mengangkatnya menjadi kepala kasim internal yang bertugas membangun istana, menyediakan alat-alat istana dan lain-lain.

Pada awal abad ke-15 Kaisar Zhu Di (Yongle) memerintahkan untuk dilakukan pelayaran ke luar negeri khususnya samudra Barat[1] (samudra Hindia) untuk menguatkan pengaruh politik China atas negeri-negeri di bagian selatan, memajukan persahabatan dan memelihara hubungan baik antara China dengan negara-negara asing. Karena prestasinya selama ini, Kaisar kemudian memilih Cheng Ho untuk menjadi laksamana yang memimpin misi pelayaran tersebut.

Baca juga:

Menurut Poirot, tujuan Kaisar Yongle mengutus Cheng Ho mengadakan misi pelayaran besar adalah untuk memperkuat sistem tributari (upeti dengan benda/barang) yang memang sudah dianut China sejak masa lalu. Pelayaran Cheng Ho untuk menunjukkan ekstensi sistem Tributari Kekaisaran Ming. Sistem ini tidak hanya untuk mendapat banyak keuntungan. Kaisar Hongwu membuat sistem Tributari hanya sebagai cara bagi negara-negara asing agar mengakui kekuasaan kekaisaran Ming.

Di masanya, Kaisar Yongle ingin sistem Tributari diperluas dengan ekspedisi Cheng Ho, dan menjadi lebih fleksibel. Cheng Ho berlayar ke Selat Malaka, Melayu, Arab, dan Timor Timur, membawa cap dan panji-panji resmi Kaisar, disertai berbagai kapal gandum, kapal perang, kapal pengangkut kuda/barang, kapal pasukan, dan bahkan kapal-kapal tangki air. Yongle menyadari bahwa perdagangan dan upeti identik. Namun, ekspedisi Cheng Ho konon tidak untuk mendapat keuntungan materi.

Kapal Cheng Ho bertujuan untuk ‘menyihir’ (membuat kagum/takut) para memimpin asing (emas, perak, porselen, sutra, dan barang berharga lainnya dalam jumlah besar ditukarkan, dengan barang yang tidak begitu berharga, seperti jerapah, atau barang-barang khas negara bersangkutan).

Gb. Jalur Ekspedisi Tributari masa Dinasti Ming (bandingkan dengan jalur OBOR yang sedang dikembangkan China saat ini)

 

Sistem Tributari China adalah jaringan hubungan politik luar negeri dan perdagangan antara China dan negara-negara tributarinya di Asia Timur. Sistem  Tributari China terdiri hampir seluruhnya merupakan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan, dan negara-negara anggota dari sistem secara politik otonom dan berdaulat.

Melalui sistem upeti, yang difasilitasi pertukaran ekonomi dan budaya, berbagai dinasti dari Imperium China sangat mempengaruhi budaya negeri- negeri perifer dan juga menarik mereka ke dalam China-centris. Sistem Tributari berbentuk kebijakan luar negeri dan perdagangan selama lebih dari 2.000 tahun didominasi ekonomi dan budaya Imperium China di wilayah tersebut, dan dengan demikian memainkan peran besar dalam sejarah Asia, dan Sejarah Asia Timur pada khususnya.

Struktur internasional tradisional China itu berbeda dari banyak sistem lain yang dikembangkan dunia. Pertama, karena didasarkan pada keyakinan bahwa China adalah pusat kebudayaan dunia dan bahwa orang asing “kurang beradab”. Kedua, karena negara China dianggap sebagai pusat seluruh umat manusia, maka pemimpin asing diminta (dipaksa) untuk mengakui keunggulan China. Pada periode Qing, negara-negara yang ingin berdagang dengan China harus mengirim misi “upeti” yang mengakui superioritas budaya dan kedaulatan China.

Baca juga:

Di bawah dinasti Ming, negara-negara yang ingin memiliki hubungan dengan China, secara politik, ekonomi atau sebaliknya, harus memasuki sistem Tributari. Akibatnya, upeti sering dibayar untuk alasan oportunistik dan bukan sebagai sikap serius setia kepada kaisar China, dan fakta bahwa upeti dibayar mungkin tidak dipahami bahwa China memiliki pengaruh politik atas negara tersebut. Sejumlah negara hanya membayar upeti, itupun karena tekanan dari ekspedisi Cheng Ho.

Kaisar Hongwu mulai hubungan tributari pada 1368, utusan yang dikirim ke negara-negara seperti Korea, Vietnam, Champa, Jepang, yang Korea, Vietnam, dan Champa mengirim upeti di 1369. Selama pemerintahan Hongwu ini, Liuch’iu mengirim 20, Korea mengirim 20, Champa mengirim 19, Siam mengirim 18, dan Vietnam mengirimkan 14 misi upeti.

Selama 100 tahun sejak berdirinya Dinasti Ming pada tahun 1368, kerajaan di Jawa telah mengirim utusan ekspidisi ke China lebih dari 20 kali. Invasi Vietnam terhadap Champa pada tahun 1471 yang keduanya merupakan negara tributari China menandai adanya kegagalan dalam sistem Tributari China ini.

Baca juga:

Banyak negara yang membayar upeti berupa produk asli, misalnya gajah dari Siam, atau kasim dan gadis perawan dari Korea, Annam, atau Kepulauan Ryukyu. Gadis-gadis muda Korea, dan kasim  kadang diminta sebagai upeti oleh Kaisar Ming sebagai harem kekaisaran. Sebanyak 98 gadis dan 198 kasim dikirim. Gadis-gadis Korea usia 13-25 direkrut untuk dikirim ke China.

Pelayaran Cheng Ho pertama dilakukan pada pada tahun 1405. Ini berarti 87 tahun lebih awal dari pelayaran Columbus yang sampai di Benua Amerika pada tahun 1492, dan 92 tahun lebih dulu dari pelayayan Vasco da Gama yang sampai di Calicut, India pada tahun 1497, serta 114 tahun lebih dahulu dari pelayaran F Magellan yang mulai mengelilingi bumi tahun 1519 M. Pelayaran Cheng Ho dilakukan 7 kali dan memakan waktu selama 28 tahun, lebih lama dari pelayaran pelaut Barat.

Dari skala pelayaran dan armada pelayaran cheng ho merupakan pelayaran terbesar di dunia saat itu. Dalam pelayaran pertama Cheng Ho membawa 62 kapal besar, dan membawa awak kapal lebih dari 27.800 orang. Pelayaran ketiga membawa 48 jung denga awak 27.000 orang lebih. Pelayaran ketujuh membawa 61 kapal besar dan 27.550 orang awak kapal.

Dalam setiap pelayaran Cheng Ho rata-rata membawa 60 buah kapal besar dan jumlah total kapalnya lebih dari 200 buah bila ditambah dengan kapal sedang dan kecil. Kapal besar yang dijuluki sebagai kapal pusaka panjangnya 44,4 zhang (138 m) dan lebar 18 zhang (56 m). Kapal semacam itu merupakan kapal terbesar di dunia pada pertengahan abad 15. Dan dengan kapal-kapal kayu itu Cheng Ho telah membuat rekor dalam sejarah pelayaran dunia.

Kapal junks Cheng Ho, dengan panjang 450 kaki (137 meter) dan berat lebih dari 3,000 ton. Bandingkan dengan kapal ekspedisi Columbus, the Santa Maria, yang beratnya hanya berkisar 150 ton dan panjang 60 kaki (18 meter). (Ilustrasi: Gregory A. Harlin/National Geographic Stock)

Cheng Ho membawa berbagai jenis kapal, misalnya kapal induk, kapal kuda untuk mengangkut kuda dan barang, kapal tempur/perang, kapal pembawa bahan makanan, dan kapal duduk sebagai kapal komando. Selain itu, susunan armada Cheng Ho sudah sangat teratur. Armadanya terdiri dari 4 bagian yaitu bagian komando, bagian tehnik navigasi, bagian kemiliteran dan bagian logistik. 

  Mulai pelayaran Jumlah kapal Kapasitas kapal terbesar (ton) Jumlah awak kapal
Cheng Ho 1405 +200 termasuk 62 kapal besar +2.500 27.800
C. Columbus 1492 3 100 88
Vasco da Gama 1497 4 120 171
F. Magellan 1519 5 130 270

Tabel Perbandingan Pelayaran Cheng Ho dengan beberapa Pelaut Eropa dalam pelayaran Pertama

Salah satu hasil 7 kali pelayaran Cheng Ho adalah peta pelayaran Asia Afrika yang yang sampai saat ini masih sangat berharga. Peta pelayaran Cheng Ho terdiri atas 20 halaman, dimana terlukis dengan cermat pelayaran yang berangkat dari Nanjing ke berbagai daerah, pulau dan negara di asia dan afrika. Nama-nama tempat yang tercatat lebih dari 500 buah. Area pelayaran Cheng Ho diperlihatkan dalam peta tersebut mencakup indoChina, semenanjung Malaya, semenanjung Hindia sampai pantai timur benua Afrika.

Di peta terdapat juga petunjuk pemakaian kompas, tanda-tanda letak bintang dan lain-lain. Semua itu mencerminkan kemajuan navigasi pada masa Dinasti Ming. Peta itu kemudian dimuat dalam buku sejarah Wu Bei Zhi (vol.240), disunting oleh Mo Yuanyi pada masa dinasti Ming dengan judul Peta Pelayaran untuk Menuju Negara-negara Asing dan Dok Kapal Pusaka dan berangkat dari Pelabuhan Sungai Naga.

Baca juga:

Salah satu tujuan pelayaran Cheng Ho sebagaimana disebutkan di atas adalah penyebaran peradaban China. Maka Cheng Ho dan anak buahnya juga berusaha menularkan budaya dan peradaban China di setiap tempat yang disinggahinya. Sehingga pengaruh budaya dan peradaban china masih terasa sampai beberapa masa setelahnya di tempat-tempat yang di singgahinya.

Selain membawa misi dari dinasti Ming, sebagai seorang muslim Cheng Ho juga membawa misi dakwah. Ketika singgah di berbagai pelabuhan Cheng Ho dan para pengikutnya mendakwahkan islam pada masyarakat setempat dan juga masyarakat pendatang Tionhoa yang sudah ada sebelumnya. Dari hasil dakwahnya tersebut terbentuk berbagai komunitas muslim di kawasan pesisir pantai yang disinggahinya.

Pada tahun 1407, dua tahun setelah dimulainya pelayaran Cheng Ho yang pertama, sudah muncul komunitas muslim China di Palembang. Pada tahun 1411 ketika Cheng Ho kembali dari pelayaran yang ke-3, di Tuban, Gresik, Mojokerto, Jakarta, Cirebon dan tempat lainnya di pesisir jawa bermunculan Masjid. Pada tahun 1430, satu tahun sebelum dimulainya pelayaran Cheng Ho yang ke-7, sudah muncul masyarakat tionghua di Tuban, Gresik, dan Cirebon. Dakwah Cheng Ho ini menjadi modal dan salah satu pondasi awal dakwah Islam di Jawa, Sumatra dan sekitarnya di kemudian hari.

 

Referensi:

Hembing Wijayakusuma, tulisan pengantar untuk buku berjudul Cheng Ho Muslim Tionghoa, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara

Prof. Kong Yuanzhi. Cheng Ho Muslim Tionghoa, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Yayasan Pustaka Obor Jakarta, cetakan keenam; mei 2015

Poirot, Zheng He and Ming China: The Lone Mariner and His Times. http://www.allempires.com/article/index.php?q=zheng_he_ming_china

https://id.wikipedia.org/wiki/Kaisar_Yongle

Lee Khoon Choy, Indonesia Antara Mitos dan Realita, Penerbit Pendidikan Singapura, 1979

Wikipedia, Imperial Chinese Tributary System, https://en.wikipedia.org/wiki/Imperial_Chinese_tributary_system lihat juga Roland L. Higgins, The Tributary System, University of Mississipi, http://www.olemiss.edu/courses/pol337/tributar.pdf

Wikipedia, List of Tributaries of Imperial China, https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_tributaries_of_Imperial_China

[1] Pada awal Dinasti Ming, pulau Sumatra dijadikan sebagai garis pemisah antara Samudra Timur dan Barat; kawasan Samudra Hindia dan pantainya yang sebelah barat dari pulau Sumatra disebut sebagai Samudra Barat.

Sejak pertengahan Dinasti Ming, Pulau Kalimantan dijadikan sebagai garis pemisah antara Samudra Barat dan Timur, Brunei merupakan ujung Samudra Timur dan pangkal Samudra Barat. Pulau Jawad an Sumatra termasuk kawasan Samudra Barat, sedangkan Brunei dan Filipina yang ada di sebelah timur Brunei termasuk Samudra Timur. Zhang Xie, Dong Xi Yang Kao (Studi mengenai Samudra Timur dan Samudra Barat, Vol 5, Bab Brunei, 1618. Juga dala, Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming), dalam buku Prof. Kong Yuanzhi, Op.Cit. hlm.12-13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *