Ujian Berujung Surga

Dengan berkembangnya tren kriminalisasi, pemenjaraan, penyiksaan, pengusiran dan hukuman mati yang dijatuhkan pada para ulama yang menolak untuk berbicara masalah Islam dan keadilan moral, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyelaraskan kembali diri kita dengan pesan-pesan dan janji-janji yang ada pada Qur’an.

 

Kita dapat mempelajari ulang sejarah sebagai sumber bukti nyata dari janji-janji yang ada di Qur’an tentang hasil apa yang akan kita dapatkan dari situasi-situasi di atas.

Al-Quran menyajikan lintasan hasil berdasarkan jalan yang dilalui; dan sejarah memberikan bukti serta formula akan hasil yang bisa didapatkan jika komponen-komponen dan bahan-bahan tertentu semuanya tersedia dan dilaksanakan.

Allah ta’ala berfirman:

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? 

Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. 

Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke surga”. Ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”. 

(QS. Yasin: 20-27)

 

Allah menyajikan kepada kita skenario yang sangat familiar dengan konteks pembahasan kita saat ini. Seseorang yang menyatakan keimanannya pada Allah dan menyeru pada kaumnya untuk beriman kepada Allah mendapatkan hunusan pedang.

Ulama yang terkenal dalam masalah tafsir dan fiqh, Imam al-Qurthubi, membicarakan tentang kejadian yang disebutkan dalam ayat tersebut. Terkait dengan ayat

Dikatakan (kepadanya): masuklah ke surga”,

Ia mengutip pernyataan Qatadah:

“Allah memasukkannya ke surga di mana ia menerima ganjarannya.”

Al-Qurtubi melanjutkan, “Qatadah merujuk pada ayat:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)

Al-Qurtubi memberitahu kita akan janji yang telah Allah sampaikan, bahwa mereka yang terbunuh atau mati karena keimanannya pada Allah tidak akan merugi, dan mereka akan dimasukkan ke dalam surga.

Nabi Muhammad SAW juga menegaskan status orang seperti itu ketika ditanya tentang perjuangan apa yang paling luar biasa yang bisa dilakukan manusia untuk Allah. Jawaban Nabi adalah “mengatakan kebenaran di hadapan pemimpin tiran”.

Ketika menerangkan hadits ini, beberapa ulama menyebutkan alasan akan hal tersebut. Ketika seseorang menghadapi pemimpin yang tiran dengan kata-kata yang jujur, mereka betul-betul dalam keadaan lemah, tidak memiliki kemampuan ataupun kekuatan yang sebanding dengan pemimpin tiran tersebut, akan tetapi ia masih mau berani untuk menyuarakan kebenaran, yang menempatkannya pada kondisi yang sangat sulit dan konsekuensi yang berat.

Kembali pada ayat tadi, Al-Qurtubi menyebutkan hikmah lain yang kita seringkali lupa: agar tidak bersifat reaksioner.

Terkait dengan ayat:

Ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui.

Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”. (QS. Yasin 26-27)

Al Qurtubi menjelaskan:

“Dalam ayat ini terdapat pelajaran yang besar dan bukti bahwa seseorang harus meredam kemarahannya dan tidak berlaku reaksioner. Justru ia harus bersabar atas orang-orang yang tidak peduli, menyayangi orang-orang yang berkubang dalam keburukan dan mengelilingi diri mereka dengan dosa dan nafsu. Ia harus berusaha keras menyelamatkan mereka, dan bersikap lemah lembut dalam mencoba membebaskan mereka, ia harus menyibukkan dirinya dengan hal tersebut, bukan malah mengutuk dan mendoakan yang buruk atas mereka. Apakah kalian tidak melihat bagaimana orang ini berharap yang baik-baik bahkan pada mereka yang membunuh dan berlaku keras padanya?”

Metode ini termasuk dalam tatacara pendekatan Nabi SAW. Ada beberapa contoh perlakuannya atas kaum munafik di madinah, kebaikannya terhadap orang-orang Makkah dan Taif, pengampunannya pada mereka yang membunuh dan menyiksa anggota keluarga dan pengikutnya. Ini adalah cara yang jika dilaksanakan, akan membawa perubahan besar, dan sejalan dengan prinsip-prinsip karakter yang diajarkan dan ditanamkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi mereka yang menghalangi langkah kita.

Terkait ayat ini, pemikir kontemporer Islam menyimpulkan bahwa pengorbanan satu individu bisa jadi lebih bermanfaat dibandingkan ribuan ceramah. Begitu juga dengan kasus laki-laki dari pinggiran kota tersebut, ia berdiri tegak di atas keimanannya dan menyeru orang-orang untuk mengikutinya. Meskipun nama, tempat tinggal ataupun waktu hidupnya tidak disebutkan, Allah menaikkan derajatnya dan membuatnya sebagai contoh bagi generasi selanjutnya. Hingga hari kiamat.

Berapa banyak kata-kata dilontarkan di mimbar dan terlupakan begitu saja, sementara aksi riil dari satu atau sedikit orang dapat menginspirasi massa yang lebih besar. Sekali lagi, ini juga adalah hal yang dilakukan langsung oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam, yang memberi contoh dan berbicara dengan perilakunya.

Demikian pula dengan kisah Hajar, ibunda Nabi Ismail ‘alaihis salam. Karena pengorbanan dan kepatuhan Ibunda Hajar kepada Allah SWT di padang tandus Mekah, maka Allah naikkan derajatnya, dan menjadikannya simbol keikhlasan dan ketaatan. Seluruh orang beriman diharuskan mengulang apa yang dilakukannya ribuan tahun lalu pada saat ritual ibadah haji.

Kita bisa mengambil pelajaran praktis dari sini yang relevan untuk semuanya. Pengorbanan yang kita buat, meskipun tidak dilihat seorangpun atau hanya diketahui sedikit orang, bisa jadi akan menaikkan derajat kita di sisi Allah baik di dunia maupun di akhirat.

Kita tidak tahu hasil apa yang kita dapatkan, maka kita hendaknya jangan mengecilkan pengorbanan seperti apapun yang dibuat untuk Allah ta’ala, terlepas dari hitung-hitungan rasio manusiawi atas pengorbanan tersebut.

Semua penjelasan di atas membawa kita pada satu poin yang sering sekali kita acuhkan: sukses tidak ditentukan dari hasil.

Kita seringkali mengidentifikasikan sukses berdasarkan hasil yang terlihat. Tapi, dalam kasus ini rumusnya tidak seperti itu. Hidayah itu sendiri adalah sebuah kesuksesan yang diberikan oleh Allah ta’ala. Dan istiqomah di atas hidayah adalah kesuksesan yang lain.

Berpegang teguh pada prinsip-prinsip dari hidayah tersebut, apapun hasilnya secara duniawi, dapat disebut sebagai salah satu bentuk paripurna dari kesuksesan.

Kita bisa belajar tentang hal ini dari kisah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika para penyihir yang menyatakan keimanan mereka diancam dengan hukuman mati dan penyiksaan karena iman yang mereka pegang teguh, mereka meresponnya dengan mengatakan:

“Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. (QS. Thaha: 72)

Allah subhanahu wa ta’ala kemudian memberi kabar gembira pada kita bahwa mereka yang beriman akan mendapatkan tempat tertinggi di surga dan balasan yang besar.

Ketika kita kembali pada halaman sejarah, kita mendapati mereka yang dipenjara, dibunuh, disiksa ataupun diganggu karena berpegang teguh pada prinsip Islam mereka tetap hidup dengan apa yang mereka tinggalkan, baik itu kata-kata, lembaran-lembaran tulisan, ataupun pergerakan. Dari Shahabat yang disiksa dan dipenjara di Mekah, hingga ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad; Pejuang kemerdekaan melawan kolonialisme seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bondjol, atau Umar Mukhtar; hingga pemikir serta penggerak seperti Malcolm X. Jasad mereka mungkin terkubur di dalam tanah, namun kata-kata mereka tetap tersimpan dalam hati dan jiwa mereka yang hidup setelahnya. Mereka  yang berjuang serta berkorban lah yang dicatat oleh sejarah, sementara mereka yang menindas akan dengan mudah terlupakan.

Ulama-ulama istana, mereka yang menentang kebenaran dan keadilan, para pencari kemewahan, status dan nama, yang pernah berdiri dengan angkuh, akan kehilangan tumpuan mereka. Kemunafikan mereka tersingkap. Waktu hanya mencatat kebenaran dan mereka yang berpegang teguh atasnya.

Di masa ini, saat mereka yang berdiri tegak menyuarakan kebenaran dipersekusi, dan dunia hanya diam, kita perlu mengingatkan diri kita sendiri bahwa hasil akhir adalah milik mereka yang sholeh, yang tetap berpegang pada janji Allah.

Juga penting bagi kita untuk mengingatkan diri kita bahwa istilah-istilah dan label-label yang diberikan hanyalah sebuah alasan untuk memberikan legitimasi kepada para penindas.

Firaun membenarkan tirani dan penindasannya dengan melabeli Musa AS sebagai pembuat kerusakan, dan menuduhnya sebagaimana tuduhan yang hari ini sering disematkan kepada mereka yang dipenjara tanpa alasan, kecuali karena keimanannya pada Allah. Tanpa bukti akan gangguan mereka, pembesar-pembesar dari kaum Firaun berkata kepada Firaun:

“Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini?”

Dan di surat yang sama, Allah mengingatkan kita akan hasil dari perjuangan dan kejadian seperti itu:

Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al-A’raf: 137)

Sebuah pelajaran berharga bagi seluruh generasi dan bangsa.

Semoga Allah memberi kita hidayah dan membuat kita tetap berpegang teguh di atas jalan-Nya.

Tags:,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *