Candu: Kolaborasi China, Penjajah, dan Antek Lokal Untuk Merusak Rakyat Jawa

Candu: Kolaborasi China, Penjajah, dan Antek Lokal Untuk Merusak Rakyat Jawa

Awal kebencian Pribumi terhadap orang China (Seri perjuangan Diponegoro)

Sebelum meletus perang Diponegoro atau perang Jawa, masyarakat Jawa sengaja dirusak oleh penjajah untuk melemahkan perlawanan rakyat Jawa. Masyarakat Jawa semakin rusak dengan penetrasi budaya Eropa yang begitu masif.

Kebiasaan seks bebas, minum-minuman keras serta candu ditularkan dan masuk ke dalam istana dan pedesaan-pedesaan Jawa.

Budaya Eropa ini sengaja dimasyarakatkan oleh penjajah Eropa yang salah satu tujuannya adalah motif ekonomi. Dengan melegalkan candu contohnya, pemerintah penjajah mendapat keuntungan besar dari perdagangan candu yang dikelola oleh para bandar China.

Keadaan itu membuat masyarakat muak, bosan, marah, kecewa dan sedih bercampur aduk menjadi satu terhadap pemerintah lokal dan penjajah Eropa. Mereka merindukan perubahan, ratu adil yang membawa keadilan dan menghancurkan kesewenangan.

Baca juga:

Di tengah kondisi ekonomi yang sangat sulit dan masyrakat yang rusak seperti itulah muncul Diponegoro yang mendeklarasikan perlawanan total. Perlawanan total terhadap penjajah kafir dan pada penguasa lokal Mataram Yogyakarta yang tunduk pada penjajah Eropa.

Diponegoro ingin menghancurkan Mataram yang sudah kacau dan ternoda oleh ulah para penjajah dan menggantinya dengan balad (pemerintahan) Islam di tanah Jawa yang bersih, tidak ternoda dan merdeka dari segala tekanan penjajah asing.

Sesuai dengan syarat-syarat perjanjian yang ditanda tangani Raffles dengan pihak istana Yogyakarta, sebagai buah kesuksesan operasi militer Inggris terhadap keraton Yogyakarta adalah semua gerbang tol dan pasar-pasar di seluruh wilayah kasultanan diambil alih oleh pemerintahan Eropa Inggris. Pemerintahan Inggris kemudian langsung menyewakan seluruh aset yang diambil alih tersebut pada orang-orang China.

Baca artikel terkait:

Hal itu membuka jalan bagi eksploitasi pajak oleh para pemungut pajak tetap. Saat pemerintahan kolonial Belanda berhasil dipulihkan pada tahun 1816, Belanda menghadapi hutang-hutang raksasa dan pemasukan yang tidak memadai dari pengaturan penyewaan tanah yang dilimpahkan Raffles. Belanda kemudian memanfaatkan gerbang tol sebagai sumber pemasukan untuk menutupi kekurangan pajak pemerintah.

Meskipun pemerintahan Inggris di Jawa (1811-1816) tidak sempat menikmati naiknya keuntungan dari bandar-bandar tol tersebut, namun merupakan awal dari perluasan yang cepat perdagangan eceran candu.

Hal itu akibat dari kemudahan dalam impor candu secara resmi dari Bengal, setelah dihapuskannya blokade angkatan laut Inggris atas perairan Indonesia pada bulan Agustus 1811 dan tekanan-tekanan keuangan atas pemerintahan Raffles.

Baca juga:

Orang-orang China menjadi pemain utama perdagangan candu sebagai Bandar candu dan pengecernya di wilayah Kesultanan. Data statistik menunjukkan penjualan candu resmi dan pemakaian candu di wilayah kasultanan Yogyakarta mengalami peningkatan pada tahun-tahun ini.

Penjualan berlipat ganda antara tahun 1802 dan 1814, saat nilai borongan satu peti candu juga mengalami kenaikan  dua kali lipat. Inilah yang kemudian menjadi sasaran kebencian rakyat pada China ketika keadaan ekonomi di Jawa mulai menurun tajam akibat kemarau dan gagal panen pada tahun 1821-1825.

Selama dekade berikutnya (1814-1824) pajak dari perdagangan candu di Yogya meningkat lima kali lipat. Dan pada tahun 1820 terdapat 372 tempat terpisah yang mendapat ijin resmi untuk menjual candu secara eceran di wilayah Sultan, sub-gerbang (rangkah) dan pasar-pasar di kesultanan.

Atas dasar pemakaian candu yang dikumpulkan pada akhir abad ke-19, seorang pejabat Belanda menyimpulkan bahwa sekitar 16% orang Jawa telah menjadi pemakai candu. Namun angka pemakaian candu akan jauh lebih tinggi kalau dihitung dari merebaknya pemakaian “candu orang miskin”, seperti rokok yang dicelupkan candu, kopi yang dibumbui candu dan buah pinang yang dibubuhi candu.

Pemakaian candu juga meluas di kalangan anggota-anggota perkumpulan pemikul  barang (gladag) dan para buruh di Ibukota. Penyaluran lewat gerbang tol menyebabkan meluasnya penyebaran kebiasaan nyandu di kalangan penduduk pedesaan.

Baca juga:

Di pasar Klaten misalnya, di pagi hari tempat-tempat pengisapan candu begitu ramai dengan orang yang berpakaian usang, beberapa orang bahkan hampir tidak berpakaian dan yang lainnya hanya mengenakan kain lusuh.

Perjudian dan candu merupakan monopoli pemerintah penjajah yang pengelolaannya diserahkan pada para bandar China. Perjudian dan candu tumbuh subur di daerah Yogyakarta dan Surakarta. Dan para bandar China yang memimpin rumah-rumah perjudian dan tempat-tempat penghisap candu yang terdapat di kedua wilayah tersebut. Usaha ini memberikan keuntungan yang sangat besar bagi para bandar.

Monopoli kedua bidang ini menjadi tempat pelarian di tengah kesulitan kesulitan hidup masyarakat, khususnya golongan buruh tani dan buruh panggul (batur/gladag) yang tidak memiliki sebidang tanahpun.

Mereka telah dirusak dengan candu dan permainan judi, adu untung. Untuk mempertahankan hidup dengan upah yang sangat sedikit (10 sen/hari) mereka kemudian melakukan perampokan dan tindak kejahatan lainnya.

Baca juga:

Ulah para bandar China yang umumnya suka berbuat sewenang-wenang dan mementingkan keuntungan pribadinya menyebabkan kebencian masyarakat pada para bandar China.

Serangan dan perampokan terhadap para penjaga gerbang tol meningkat secara teratur pada tahun-tahun menjelang meletusnya perang Diponegoro.

Perasaan kesal dan bercampur marah tambah membengkak dengan tampilnya golongan China sebagai pemegang kunci yang menentukan di dalam kehidupan ekonomi dan sosial politik, baik di daerah kekuasaan kolonial Belanda maupun di daerah kesultanan, bahkan sampai ke kraton.

Kapten China secara resmi diberikan sebagian daerah kekuasaan sultan dengan pangkat Raden Tumenggung Secadiningrat (Maret 1813), adalah bentuk-bentuk kekuasaan China yang begitu mencolok di dalam kehidupan kesultanan Mataram dan dinasti penerusnya.

Penguasaan kota-kota pelabuhan dengan syahbandar-syahbandar yang berhak memungut bea-cukai dikuasai China, penyewaan tanah yang jatuh ke tangan China, para tengkulak yang dimonopoli oleh China, baik di daerah kekuasaan kolonial Belanda maupun sultan, menambah kemiskinan rakyat hingga menjadi melarat dan sengsara.

 

Referensi:

Abdul Qadir Djaelani, Perang Sabil Versus Perang Salib: Ummat Islam Melawan Penjajah Kristen Portugis Dan Belanda, Yayasan Pengkajian Islam Madinah Al-Munawwarah, Jakarta, 1999

Peter Carey, Asal Usul Perang Jawa, LkiS Yogyakarta, 2001

Peter Carey, Orang China, Bandar Tol, Candu dan Perang Jawa, Perubahan persepsi tentang China 1755-1825, Komunitas Bambu Jakarta, 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *