Kejahatan Keluarga Al-Assad Sudah Mendarah Daging

Kejahatan Keluarga Al-Assad Sudah Mendarah Daging

Setelah beberapa kali terjadi perselisihan dan kudeta atas kekuasaan di Suriah, Partai Sosialis Baath berusaha untuk meraih kekuasaan melalui kudeta militer yang dilakukan pada tanggal 8 Maret 1963 M. Pada saat itu, Partai baath dipimpin oleh komisi militer yang beranggotakan lima orang, kebanyakan dari mereka adalah perwira ‘Nushairiyah’. Pada saat itu terdapat sekitar 700 pembesar perwira dari kalangan ‘Ahlus Sunnah.’

Awal Kudeta Suriah dan Menguatnya Partai Baath.

Menurut kesaksian dari para sejarawan, kudeta militer terjadi pada akhir tahun 1966 M. Kemudian terjadilah penggulingan Presiden Amin al-Hafizh, yang menyebabkan kepemimpinan diberikan kepada partai ‘Perbaikan Baru.’ Kudeta tersebut kemudian menyebabkan likuidasi para perwira Ahlus Sunnah yang terkemuka.

Hafez al-Assad menjadi Menteri Pertahanan di Suriah. 

Hafez al-Assad ditunjuk menjadi Menteri Pertahanan di Suriah, ia bekerja untuk melikuidasi umat Islam Ahlus Sunnah dan membunuh para pejabat negara, bahkan dari partai Baath sendiri.

Perang Buatan, Penjajahan Israel, serta Penyerahan Golan

Menurut beberapa sumber, perang antara Israel, Mesir, dan Yordania melawan Suriah adalah perang buatan, yang bertujuan untuk membantu para Zionis untuk mengendalikan Gaza, bukit Sinai, Yerusalem, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan.

Ada yang mengatakan bahwa perang ini merupakan penyebab kerugian yang teramat besar bagi kehidupan dan fasilitas, sehingga menyebabkan terwujudnya wilayah baru yang kemudian ditempati oleh para penjajah.

Baca juga:

Bukti akan hal ini adalah bahwa Menteri Pertahanan Suriah, Hafez al-Assad mengumumkan jatuhnya kota Quneitra tiga jam sebelum kota tersebut benar-benar jatuh. Seorang teman dekat dari mantan Presiden Mesir, Anwar Sadat, mengatakan bahwa ketua kriminal, Hafez al-Assad telah menyerahkan Dataran Tinggi Golan kepada penjajah Israel melalui sebuah perjanjian rahasia yang diadakan antara mereka.

Hafez al-Assad Memimpin Suriah Karena Posisinya dan Ia Menguasai Militer.

Hafez al-Assad, yang merupakan ayah dari Bashar al-Assad kemudian memerintah Suriah, di mana ia memberlakukan wewenangnya setelah terjadi kudeta militer. Ia memerintah karena ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Ia kemudian mengambil kendali atas seluruh komponen negara. Setelah itu, ia menangkap ketua Partai Perbaikan Baru dan kelompok yang terdiri dari menteri-menteri serta para loyalisnya. Perjalanannya dipenuhi dengan kejahatan, pembunuhan, penyiksaan, dan penghinaan terhadap rakyat Suriah.

Hama dan Jisr al-Shughour, Pembantaian Terbesar Hafez al-Assad.

Menurut sejarawan serta kesaksian yang didapatkan melalui dokumentasi video dan audio, Hafez al-Assad melakukan beberapa operasi kriminal terhadap rakyat Suriah. Salah satu operasi tersebut adalah pembantaian yang amat mengerikan terhadap penduduk kota Hama pada tahun 1982, yang menewaskan puluhan ribu nyawa penduduk kota tersebut.

Abdul Rahman Mohammed, putra kota Jisr al-Shughour yang baru berusia 13 tahun, mengatakan bahwa rezim Suriah di bawah kepemimpinan Hafez al-Assad telah meluncurkan kampanye militer besar-besaran terhadap kota Jisr al-Shughour pada tahun 1982.

Baca juga:

Mohammed melihat dengan mata kepalanya sendiri, kejahatan yang amat mengerikan yang dilakukan oleh pasukan rezim. Pasukan rezim menyeret seseorang dengan mobil dari desa Biksarya di kota Jisr al-Shughour ke pusat kota, yang berjarak sekitar 16 kilometer dari desa tersebut. Penyiksaan tersebut dilakukan atas tuduhan tidak berdasar bahwa orang tersebut berhubungan dengan Ikhwanul Muslimin.

Hafez al-Assad meninggal setelah hampir 30 tahun memerintah dengan cara kriminal.

Rezim Suriah mengutuk terbunuhnya Hafez al-Assad pada tahun 2000. Hafez al-Assad meninggal karena kanker yang menimpa tubuhnya. Setelah Hafez, putranya Bashar al-Assad mewarisi pemerintahan Suriah setelah perubahan konstitusi selama beberapa jam, karena usia Bashar yang belum mencukupi syarat kepemimpinan.

Beberapa sumber dan saksi mata menkonfirmasi pada hari itu, bahwa militer rezim dikerahkan di kota Damaskus dan mengepungnya pasca meninggalnya Hafez al-Assad. Pengepungan tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa Bashar al-Assad dapat berkuasa tanpa ada gangguan suara.

Perlu dicatat bahwa putra dari sang kriminal tersebut mengikuti pendekatan yang dilakukan oleh ayahnya. Ia membunuh ratusan ribu para pencari kebebasan dan kemuliaan. Ia menelantarkan jutaan rakyatnya. Ia juga mulai menyiksa dan menangkap rakyatnya, serta mendukung penjajahan Rusia dan Iran yang sektarian.

Kita meyakini bahwa nasib Bashar tidak akan lebih baik dari nasib pendahulunya, sang kriminal.

 

 

Sumber:   Ebaa.news

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *